Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya.
[Tan Malaka]
“Aku bersama terorisme”, tulis Nizar Qabbani dalam puisi Ana Ma’al Irhab pada pertengahan ‘90-an. Masa itu Timur Tengah telah babak belur oleh banyak kekacauan akibat perang yang tak berkesudahan. Lawan dan kawan makin tak jelas. Pahlawan dan bajingan sulit dibedakan. Masyarakat yang bingung, menderita, lelah, dan marah melalukan apa pun cara untuk bisa terus bertahan hidup. Qabbani, dalam usia sepuh tujuh puluhan tahun, terlampau kenyang dengan segala pemandangan berengsek semacam itu. Ia adalah penyair Arab paling disegani, paling populer, dan paling kaya pengalaman yang masih hidup. Dengan latar belakang pendidikan tinggi di bidang ilmu hukum, serta pengalaman puluhan tahun sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Suriah, Qabbani adalah penyair yang tidak hanya artistik dan heroik, tapi juga jelas cendekia. Ia mengalami langsung dinamika politik dunia Arab dari sangat dekat, dan menghayatinya dengan penuh melalui aktivitas menulis secara tekun. Ia juga tahu betul betapa kekacauan di kampungnya menciptakan kesedihan yang mendalam dan kemarahan yang amat akbar, terutama saat istrinya Balqis tewas akibat ledakan bom di Beirut, Lebanon, pada 1981, dalam kecamuk perang saudara yang brutal. Qabbani membuka puisinya dengan bait berikut.
Kita dituduh melancarkan terorisme:
Jika kita melindungi mawar dan perempuan
dan puisi agung …
dan birunya langit …
Negeri yang berdaulat … tiada yang tersisa di sana …
Tiada air, tiada udara …
Tiada tenda, tiada unta,
dan bahkan tiada pekat kopi Arabika!!
Puisi Qabbani bukanlah ratapan, melainkan bom yang siap meledak di kepala-kepala mereka yang naif dalam memandang persoalan Timur Tengah. “Betapa indahnya terorisme”, ucap Qabbani, jika “membela tanah air” dan “memberontak melawan pemerkosaan” adalah perbuatan dosa. “Betapa indahnya terorisme”, seru Qabbani lagi, jika “menolak mati/dengan buldoser-buldoser Israel/yang merobek tanah kita/yang merobek sejarah kita/yang merobek Injil kita/yang merobek Al-Qur’an kita/yang menghancurkan makam nabi-nabi kita” adalah bentuk perlawanan.
Puisi Qabbani menyuarakan kejengkelan orang-orang Arab yang sejak menderita oleh kecamuk perang, dianggap pula punya tabiat buruk berwujud terorisme. Mereka adalah korban, tapi juga sekaligus dituduh pelaku kejahatan. Sulit dimasukkan ke akal, memang. Puisi Qabbani menolak gila di tengah kegilaan yang akut itu. Tapi, kita mesti memahami sedikit-banyak hantu blau yang menjadi konteks umum bagi kemarahan Qabbani terlebih dahulu. Karena itu, mari sejenak meneropong sejarah dunia Arab modern sekadarnya!
#
Tank, pesawat tempur, dan truk adalah sebagian alutsista yang menjadi pemandangan baru dalam perang-perang yang berlangsung pada paruh awal abad kedua puluh, khususnya Perang Dunia I dan II. Mereka merupakan perkembangan lanjut dari teknologi-teknologi yang memang sedang berkembang pesat sebelumnya, seperti penemuan mobil pada 1886 oleh Karl Benz dan pesawat terbang pada 1903 oleh Wright bersaudara. Kendaraan-kendaraan ini menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya, dan karena tank, pesawat tempur, dan truk–selain juga kapal perang yang mulai beralih dari tenaga uap ke minyak–merupakan alutsista kunci dalam huru-hara perang modern, maka minyak menjadi sumber energi krusial bagi setiap pihak yang hendak memenangkan perang, atau lebih jauh: menguasai dunia.
Amerika Serikat menyadari betul arti penting minyak ini bagi peradaban baru umat manusia. AS menyaksikan sendiri bahwa ia berhasil memenangi Perang Dunia II setelah musuh utamanya, Jerman-Nazi, tak lagi bisa berbuat banyak akibat alutsista canggih mereka akhirnya kekurangan bahan bakar minyak di medan perang. Sehebat apa pun orang-orang Jerman menciptakan mesin-mesin penghancur yang mematikan, jika sumber energinya habis, maka mesin-mesin itu hanya tinggal barang nirguna belaka.
Selain menjadi faktor penentu dalam perang, minyak juga tak kalah penting dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Amerika pun menjadi yang paling duluan tahu hal tersebut. Minyak menjadi bahan bakar bagi sejumlah alat transportasi abad kedua puluh, seperti mobil, truk, kapal, pesawat terbang, dan kereta api. Karena kendaraan-kendaraan tersebut memainkan peranan kunci dalam aktivitas perdagangan, misalnya distribusi komoditas, maka minyak juga menjadi faktor penentu dalam bidang ekonomi. Arti penting minyak semakin besar ketika industri otomotif semakin berjaya di AS dan Eropa pada awal abad kedua puluh. Orang-orang bisa memiliki mobil sendiri, dan mengendarai mobil menjadi gaya hidup baru di masyarakat. Seperti juga tank dan pesawat tempur dalam perang, mobil-mobil ini hanya barang nirguna belaka jika tiada persedian minyak sebagai bahan bakarnya, setiap hari. Tanpa adanya persediaan minyak yang cukup, seluruh gerak perekonomian akan kacau balau dan kolaps.
Pada titik ini sangat terang satu prinsip yang sangat khas abad kedua puluh: minyak adalah kunci bagi kekuatan militer dan ekonomi suatu negara. Karena kekuatan kedua hal tersebut sangat signifikan bagi kekuatan suatu negara dalam persaingan global, maka siapa yang menguasai minyak akan menguasai dunia pula dengan mudahnya.
AS tak menyia-nyiakan kesempatan. Sejak memenangkan Perang Dunia II AS memegang bola kekuasaan dan segera mengendalikan permainan dengan lihai. Ia mengerti apa yang mesti ia perbuat dalam zaman baru peradaban manusia, dan ia tak ragu-ragu menghalalkan apa pun cara untuk mempertahankan bola kekuasaan yang sedang ia genggam dengan erat.
Sewaktu kompas sains menunjuk Timur Tengah sebagai tanah yang punya cadangan minyak terbanyak di bumi, AS mengerti bahwa ia mesti melakukan sesuatu yang serius di sana. Ia tak pernah punya urusan apa-apa sebelumnya dengan bangsa Arab yang menghuni tanah tersebut. Tapi, kini urusan-urusan penting telah menuntun mereka pada pertemuan yang tak terelakkan.
#
Setelah hampir tiga belas abad berdiri, Kekhalifahan Islam akhirnya tumbang pada 1924. Ratusan tahun sebagai kekuatan adidaya telah lewat. Tinggal kenangan. Umat Islam menyadari bahwa mereka kini sedang mengalami kemerosotan yang serius. Kondisi tersebut telah memberi jalan bagi penjajahan Eropa di dunia Arab pada abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Mereka harus berbuat sesuatu untuk bangkit. Sejumlah gerakan progresif digaungkan ke seantero dunia Arab. Sebagian pihak yang berkiblat pada kemajuan Barat melancarkan upaya-upaya sekuler yang berbasis ideologi nasionalisme dan sosialisme. Fokus mereka adalah kemerdekaan bangsa dari penjajah asing dan mendirikan negara berdasarkan konstitusi yang modern. Jalannya: revolusi demi revolusi.
Pihak lain yang tidak bisa memisahkan segala macam hajat dari jubah agama melancarkan gerakan reformasi terhadap Islam. Cara umat Islam memahami dan mengamalkan ajaran Islam sudah harus dikaji ulang, terutama dalam konteks zaman yang kini sudah jauh berubah. Sebagai ide besar, reformasi Islam bersumber pada pemikiran Jalaluddin Al-Afghani (w. 1897). Dari waktu ke waktu ide tersebut mewujud kian konkret dan akhirnya melahirkan gerakan politik Ikhwanul Muslimin pimpinan Hasan Al-Bana pada 1928. Fokus mereka adalah mempersatukan kembali umat Islam dan mengibarkan kembali kejayaan Kekhalifahan Islam di muka bumi.
Baik kelompok sekuler-revolusioner maupun kelompok religius-reformis, keduanya berjuang dengan cara mereka masing-masing, tapi dengan motivasi yang sama: bangkit dari keterpurukan. Hasilnya, satu demi satu bangsa Arab memperoleh kemerdekaan pada awal abad kedua puluh, dan revolusi demi revolusi pun pecah di mana-mana. Sejumlah negara Arab berdiri sebagai negara sekuler, sementara yang lainnya menjadi monarki yang teokratis. Angin perubahan sudah berhembus, dan cahaya fajar kebangkitan mulai tampak di horizon.
Namun, di samping sekian banyak negeri di dunia Arab yang berhasil memperoleh kemerdekaan, satu negeri Arab nyatanya tetap mengalami penjajahan fisik dari bangsa asing. Ialah Palestina. Karena Turki Usmani menceburkan diri ke kancah Perang Dunia I, dan sialnya bersekutu dengan Jerman yang berakhir sebagai pecundang, banyak wilayah kekuasaan Turki Usmani terpaksa jatuh ke tangan Inggris dan Prancis. Salah satu wilayah kekuasaan Turki Usmani yang jadi milik Inggris adalah Palestina, sesuai dengan Mandat Palestina yang diberikan Liga Bangsa-Bangsa pada 1920. Selama masa pemerintahan Inggris, negeri Palestina semakin banyak dijejali oleh imigran Yahudi dari Eropa. Hal ini tak terlepas dari komitmen Inggris yang menjanjikan tanah Palestina bagi bangsa Yahudi dalam Deklarasi Balfour 1917. Meningkatnya jumlah orang Yahudi di Palestina meningkatkan pula masalah ketegangan antara bangsa Yahudi dan Arab yang tak jarang sampai memicu aksi kekerasan. Puncaknya, sewaktu mandat Inggris di Palestina berakhir pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion langsung memproklamasikan pendirian negara Israel, yang segera dihadang oleh serangan militer Liga Arab (Mesir, Irak, Suriah, Lebanon, Yordania, Arab Saudi, dan Yaman) keesokan paginya.
Sembilan bulan lebih berperang, Israel berhasil keluar sebagai pemenang dan memperteguh eksistensinya sebagai negara berdaulat di tanah Palestina. Meski telah menang, Israel tetap tidak pernah damai sejak itu. Orang-orang Palestina yang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya akibat pendudukan Israel, terus berusaha melakukan perang gerilya di perbatasan. Sepuluh tahun lebih perjuangan semacam itu terus berlangsung, namun hasil yang memuaskan tetap saja belum kunjung bisa diraih.
#
Pada 1952 Mesir tiba-tiba digemparkan oleh revolusi yang dipimpin Mohamed Naguib dan Gamal Abdul Nasser. Sistem monarki bentukan Inggris dihapuskan dan seketika Mesir berubah menjadi republik. Ketika Nasser naik jadi Presiden Mesir dua tahun berselang, namanya menjadi kian kesohor di seantero dunia Arab. Ia bahkan digadang-gadang sebagai juru selamat, atau semacam nabi baru, yang dinanti-nanti sewaktu ia berhasil menasionalisasi perusahaan Terusan Suez pada 1956. Suez merupakan simbol dominasi Inggris dan Prancis yang masih tersisa di dunia Arab, dan kini mereka tak punya urasan apa-apa lagi di sana. Nasser telah mengusir mereka. Peristiwa itu dipandang sebagai kemenangan besar bagi dunia Arab, sekaligus mengangkat kembali rasa percaya diri bangsa Arab yang sempat hancur akibat tahun-tahun panjang kolonialisme Eropa sebelumnya.
Dengan menjadi pemilik Terusan Suez secara penuh, Mesir otomatis juga mendapatkan banyak tambahan pemasukan negara melalui berbagai aktivitas bisnis di sana. Ekonomi Mesir pun menjadi kian cemerlang. Itu merupakan modal penting bagi sejumlah pembangunan di dalam negeri, termasuk penguatan intensif di bidang militer.
Nasser benar-benar di atas angin dan sangat yakin untuk merealisasikan cita-cita Pan-Arab yang begitu indah, yang salah satu tantangannya adalah membebaskan tanah Palestina dari pendudukan Israel. Ketegangan antara bangsa Arab-Palestina dan Zionis Israel terus membara di tanah Palestina, terlebih sejak 1964 telah dibentuk Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat. Ketika ketegangan terus meningkat dan akhirnya tak terkendali, tiba-tiba pada awal Juni 1967 Mesir kembali berperang dengan Israel. Kali ini Mesir berkoalisi dengan Suriah dan Yordania yang sama-sama bertetanggaan langsung dengan Israel, sehingga pertumpahan darah terjadi di sepanjang daerah perbatasan.
Seandainya pada perang tersebut Israel berhasil dihancurkan dan enyah dari tanah Palestina, maka lengkap sudah kegemilangan Nasser. Ia benar-benar akan menjadi nabi baru bagi bangsa Arab. Namun, Israel nyatanya malah berhasil mengatasi segala serangan koalisi Arab dalam waktu yang relatif singkat, yakni enam hari saja. Bahkan, karena perang tersebut wilayah pendudukan Israel menjadi semakin bertambah luas, mencakup Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza–sekitar tiga kali lipat dari luas sebelumnya. Inilah bencana besar yang sangat menentukan nasib dunia Arab pada masa-masa selanjutnya. Pamor Nasser pun hancur seketika, dan ia wafat tiga tahun berselang karena serangan jantung.
Karena Israel semakin berjaya, ancaman terhadap dunia Arab menjadi semakin besar. Pemimpin-pemimpin dunia Arab meningkatkan kewaspadaan. Anwar Sadat yang menggantikan Nasser sebagai Presiden Mesir segera membenahi kekuatan militernya dan mempelajari faktor-faktor yang telah menjadi sebab kekalahan Mesir pada Perang Enam Hari. Dalam kemurungan mendalam, pasca 1967 mulai tersebar di antara orang-orang Arab kecurigaan bahwa AS sepertinya memihak pada Israel, dan mungkin telah terlibat memberikan bantuan kepadanya. Padahal, AS sebelumnya dipandang sebagai pahlawan yang memberi harapan kemerdekaan bagi bangsa Arab melalui Empat Belas Poin Wilson pada Konferensi Versailles setelah Perang Dunia I usai. Selain itu, AS juga punya kerja sama pengelolaan minyak dengan Arab Saudi sejak 1938, yang telah membuat Kerajaan Saudi hidup bergelimangan harta pada masa-masa selanjutnya.
Bagaimanapun, AS faktanya adalah negara adidaya saat itu, dan ia sedang menjalani Perang Dingin dengan Uni Soviet. Kejayaan Israel pasca 1967 merupakan kesempatan bagi AS untuk memperkuat pengaruhnya di dunia Arab. Israel telah berhasil mengatasi Nasser yang sangat dekat dengan Uni Soviet. Dengan hilangnya pengaruh Nasser, dunia Arab menjadi semakin menjauh pula dari bayang-bayang Uni Soviet. Di titik ini satu kepentingan yang sama bertemu. Israel berperang melawan kekuatan-kekuatan sekuler-nasionalis yang mengancam eksistensi negaranya, sementara AS berusaha supaya dunia Arab tidak jatuh ke tangan Uni Soviet, yang nota bene merupakan penyokong kekuatan musuh-musuh Israel. Maka, pasca 1967 hubungan AS dan Israel menjadi kian mesra, dan tidak sulit bagi pemimpin-pemimpin dunia Arab menyadari perubahan kondisi tersebut dengan segera.
Sewaktu Anwar Sadat mempersiapkan Mesir untuk serangan besar-besaran ke Israel pada 1973, ia telah menjalin hubungan erat dengan Raja Faisal, pemimpin Arab Saudi yang juga sangat ingin melihat Zionis Israel enyah dari tanah Palestina. Dengan kekayaan kerajaan yang berlimpah, Raja Faisal memberikan banyak bantuan material kepada Mesir untuk aksi penyerangan militer terhadap Israel. Selain itu, Raja Faisal juga mewanti-wanti AS supaya tidak ikut campur membantu Israel dalam aksi perang yang akan berlansung. Itu merupakan ancaman yang serius dan konsekuensinya juga serius, yakni terkait nasib kerja sama minyak Arab Saudi dengan AS.
Serangan Mesir atas Israel akhirnya terjadi pada 1973, sewaktu umat Yahudi Israel sedang berpuasa di hari keagamaan Yom Kippur yang penuh kekhusyukan. Mulanya kekuatan militer Mesir berhasil unggul dan semakin yakin bahwa kali ini mereka akan memenangkan peperangan. Namun, setelah Israel menerima pengiriman senjata besar-besaran dari AS keadaan pun segera berubah. Israel berbalik unggul. Geram atas sikap AS yang merugikan kekuatan Arab, Raja Faisal (bersama OAPEC) tanpa ragu melakukan boikot minyak ke AS dan siapa saja negara yang mendukung Israel. Tiba-tiba saja dunia goncang akibat aksi boikot tersebut. AS salah mengira tentang Raja Faisal, dan ia tak menyangka bahwa krisis minyak benar-benar bisa terjadi melanda negaranya.
Itu adalah momen krusial ketika AS kian sadar bahwa mereka ternyata tidak sepenuhnya adikuasa di muka bumi. Mereka harus mengakui bahwa kenyataannya ada kekuatan lain yang lebih besar yang sangat menentukan nasib mereka, dan itu jelas ancaman yang tidak menyenangkan untuk terus dibiarkan. Kini ancaman terhadap dominasi dan hegemoni AS di muka bumi tidak hanya datang dari Uni Soviet yang komunis, tapi juga dari dunia Arab yang berbasis Islam.
Setelah Raja Faisal berhasil dibunuh pada 1975, AS segera kembali mendapatkan ancaman dahsyat melalui Revolusi Islam Iran pada 1979, dengan pemimpin besarnya Ayatollah Khomeini. Seperti juga Arab Saudi, Iran merupakan sumber minyak utama di dunia, dan keduanya punya kerja sama minyak yang mutualisme dengan AS. Dengan tumbangnya monarki Iran yang didukung AS selama masa pemerintahan Shah Reza Pahlevi, maka hilang sudah satu dari dua pilar penting AS di Timur Tengah. Tak hanya itu, Ayatollah Khomeini kemudian juga menyerukan bahwa revolusi Islam akan menyebar ke seluruh Timur Tengah, termasuk Arab Saudi (sahabat AS), dan di mana-mana gencar bergaung wacana tentang kebangkitan Islam yang seolah tak akan bisa dibendung lagi, bahkan oleh negara-negara adidaya sekalipun.
Seruan Khomeini kenyataannya memang menggentarkan AS. Tanpa ragu ia menunjuk AS sebagai ‘Setan Besar’ yang harus dikasih mampus. Itu bukan retorika kosong belaka. Pada 4 November 1979 sejumlah mahasiswa Iran beramai-ramai menduduki kantor kedutaan AS di Teheran dan menyandera puluhan warga AS selama 444 hari. Lebih parah dari 1973, Revolusi Islam Iran juga memaksa AS menderita krisis minyak sekali lagi. Segala kacau balau itu, yang tak henti-hentinya mendebarkan jantung orang-orang AS sejak awal ‘70-an, akhirnya memicu retorika-retorika agresif anti-teror dari Presiden Reagan.
#
Sejak AS terang-terangan membantu Israel pada Perang Yom Kippur 1973, gelombang kebencian bangsa Arab terhadap AS terus membesar dan semakin menghawatirkan. Tidak hanya Khomeini pemimpin muslim yang mengambil posisi berperang dengan AS secara jantan, tapi juga Muammar Gaddafi, Presiden Libya yang secara tegas anti-Barat dengan kebijakan menutup pangkalan militer Inggris dan AS di negerinya, serta menasionalisasi perusahaan-perusahaan dan bank-bank yang sebelumnya dikelola oleh asing. Ia bahkan juga mendirikan Pusat Revolusi Dunia di Libya pada awal ‘80-an dengan tujuan memberikan pelatihan militer kepada pemberontak-pemberontak dari berbagai belahan dunia dan menyebarkan gagasan-gagasan anti-imperialisme Barat, terutama AS, ke seluruh dunia.
Namun, kebencian itu sebenarnya lebih tepat disebut kecurigaan lama yang akhirnya terbukti benar. Jauh sebelum gonjang-ganjing dekade ‘70-an, Sayyid Quthb sudah punya pandangan negatif tentang AS, terutama terkait kebudayaan dan nilai-nilai sosialnya yang sangat bertentangan dengan syariat Islam. Pandangannya ini mulanya terbentuk oleh pengalamannya pribadi sewaktu ia dua tahun (1948–50) kuliah di Greeley, Colorado, AS. Ia menyaksikan sendiri kebobrokan nilai-nilai di masyarakat AS, dan itu cukup untuk membawanya pada kesimpulan tegas: AS adalah kekuatan setan yang benar-benar mesti diwaspadai.
Sewaktu Quthb bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada awal ‘50-an dan segera menjadi tokoh penting organisasi tersebut, ia gencar menyerukan ide-ide tentang pemerintahan Islami melalui seabrek tulisannya. Kebetulan, pada 1952 Mesir sedang larut dalam suasana revolusi usai tumbangnya monarki oleh Gerakan Perwira Bebas, dan itu merupakan kesempatan emas untuk menegakkan syariat Islam sebagai konstitusi negara. Mulanya Quthb sangat dekat dengan Nasser, tokoh utama dalam revolusi dan yang akan sangat menentukan bagaimana bentuk negara Mesir ke depannya. Namun, Nasser ternyata tak bisa diharapkan untuk mewujudkan cita-cita tegaknya syariat Islam di Mesir. Quthb pun berbalik menjadi lawan politik Nasser yang sangat merepotkan. Puncaknya, pada 1966 Quthb dihukum gantung atas perintah Nasser, setelah lebih sepuluh tahun mendekam dalam penjara. Sejak itu Quthb malah dipandang banyak pihak sebagai martir bagi perjuangan Islam. Terlebih, tulisan-tulisannya yang cemerlang dan begitu banyak dihasilkan selama ia berada di balik jeruji besi menjadi sumber inspirasi bagi perjuangan kelompok-kelompok Islam radikal di masa depan. Tak mengherankan, ia pun kelak sering dianggap sebagai Bapak Jihadis-Salafisme dalam sejarah gerakan radikal kelompok-kelompok Islam.
Setelah pamor Nasser (dan semangat sosialismenya) memudar akibat kekalahan Arab-Mesir di Perang Enam Hari, masyarakat Mesir mulai memberikan lebih banyak panggung kepada Ikhwanul Muslimin. Kekacauan pada tahun-tahun ‘70-an telah mememperlihatkan dengan jelas siapa musuh besar yang sedang merusak dunia Arab, yakni AS, dan itu semakin mendorong Ikhwanul Muslimin untuk menggiatkan perjuangannya, bahkan terus menyebarkan pengaruhnya sampai ke negara-negara muslim lainnya dalam waktu singkat. Di samping itu, muncul pula kelompok-kelompok radikal yang dianggap sebagai cabang/pecahan Ikhwanul Muslimin, atau banyak terinspirasi oleh perjuangan heroik Quthb, terutama terkait perang melawan jahiliyah modern. Salah satunya yang kelak sangat terkenal ialah Jihad Islam Mesir pimpinan Ayman Al-Zawahiri.
Uni Soviet mulai menginvasi Afghanistan pada penghujung 1979. Peristiwa itu mendorong salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin, Abdallah Azzam, terlibat aktif mengerahkan sejumlah pejuang muslim dari berbagai negara ke Afghanistan. Ia bahkan mendirikan Maktab Al-Khidamat (MAK) sebagai organisasi khusus untuk merekrut, melatih, dan mendukung para pejuang asing yang mau ikut berperang di Afghanistan. Salah satu pejuang asing yang digembleng oleh Azzam di MAK adalah Osama bin Laden dari Arab Saudi. Waktu itu usia Osama masih 22 tahun.
Selain Azzam, Al-Zawahiri juga ikut aktif terlibat dalam perang Afghanistan. Di sinilah ia mulai berkawan akrab dengan Osama bin Laden. Setelah sembilan tahun berperang, Uni Soviet akhirnya berhasil diusir dari Afghanistan pada 1989. Bahkan, lebih dari itu, tak lama berselang Uni Soviet pun runtuh dari singgasana adikuasanya. Titik ini serta-merta menjadi momentum penting bagi kebangkitan gerakan Islamis transnasional. Al-Zawahiri berkata, “Perang di Afghanistan berhasil menghancurkan mitos adanya kekuatan superpower di mata para pejuang mujahidin muda.”
Jika para jihadis muslim bisa menghancurkan Uni Soviet yang begitu perkasa, tentu bukan mustahil bagi mereka untuk bisa menghancurkan AS yang juga digadang-gadang sebagai kekuatan adidaya. Setidaknya, mereka bisa mengenyahkan pengaruh AS di rumah mereka sendiri, yakni dunia Arab.
Dengan berbekal kepercayaan diri yang tinggi, serta pengalaman berharga dari Afghanistan, Osama bin Laden segera mengumpulkan pejuang-pejuang muslim yang sebelumnya ikut berperang di Afghanistan, lalu membentuk organisasi bersenjata bernama Al-Qaeda. Kini ia siap berhadap-hadapan langsung memerangi AS yang jauh-jauh hari sudah menggembar-gemborkan perang melawan terorisme ke seluruh dunia.
Lalu, momentum kemarahan pun tiba. Sewaktu Perang Teluk II pecah pada 1990, Saddam Hussein berhasil menduduki Kuwait dan segera membidik Arab Saudi sebagai target berikutnya. Osama bin Laden menawarkan bantuan pasukan militan kepada Arab Saudi, tapi Raja Fahd yang panik malah memohon bantuan kepada AS, dan menjadikan Arab Saudi sebagai pangkalan-pangkalan militer AS. Saat itu dominasi AS benar-benar terasa gamblang di depan mata, di rumah mereka sendiri, bahkan ketika negara kafir itu masih terus menjadi pendukung utama Israel dalam penindasan bangsa Palestina, saudara mereka sendiri.
Sebagai reaksi keras, Al-Qaeda mulai melancarkan serangan-serangan terbuka terhadap militer AS, terutama di Riyadh pada 1995 dan Khobar pada 1996. Dua puluh empat orang tentara AS tewas. Dalam wawancara pada Juli 1996 Osama menyatakan bahwa dua serangan tersebut merupakan “pembukaan dari perang antara kaum Muslim dan AS.”
Begitulah, sekitar pertengahan dekade 1990-an konon jaringan Osama bin Laden sudah mencakup 51 kelompok militan yang tersebar di 23 negara. Bersama kelompok Jihad Islam Mesir pimpinan Ayman mereka melakukan sejumlah aksi teror pada tahun-tahun menjelang/sekitar pergantian milenium di berbagai belahan dunia. Puncaknya, Al-Qaeda dan Jihad Islam Mesir menggabungkan kekuatan pada pertengahan 2001, dan tiga bulan berselang, tepatnya 11 September 2001 terjadi serangan terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC) di jantung AS.
Kini Al-Qaeda tidak lagi hanya menyasar pasukan militer AS dalam serangan-serangan terornya, tapi juga warga sipil AS yang menurutnya ikut bertanggung jawab atas kekacauan yang diakibatkan oleh kebijakan luar negeri pemerintah (pilihan) mereka di dunia Arab. Inilah bagian paling radikal dari pandangan Osama terkait permusuhannya dengan AS. Menurut Osama, siapa saja orang AS darahnya halal untuk ditumpahkan.
#
Jika seorang warga negara mengalami penindasan dari warga negara lain yang lebih kuat, lazimnya ia bisa menuntut keadilan pada lembaga hukum yang menjamin hak-hak asasinya. Namun, jika lembaga hukum ternyata tidak bisa diandalkan, apa yang kemudian dapat diperbuat oleh pihak korban? Haruskah ia diam saja dan bersabar, sekalipun penindasan terhadapnya terus-menerus terjadi tanpa henti, tanpa adanya rasa bersalah? Dalam banyak kasus, tidak mengherankan jika kemudian yang terjadi adalah pelaksanaan hukum rimba yang serba anarkis. Korban, atau keluarga korban, memperjuangkan keadilan bagi dirinya sendiri dengan cara menuntut balas melalui kekerasan. Lebih dari itu, ia juga berjuang mempertahankan diri dengan segala daya dan upaya, sekalipun itu harus berarti menyerang balik, membunuh, dan mengirim sinyal tegas bahwa siapa pun penindas–persetan betapa besar kekuatannya–tak akan begitu saja dibiarkan semena-mena terhadapnya. Jika serangan balasan tersebut tak bisa ditujukan langsung pada pelaku penindasan, maka ia akan dialihkan pada orang-orang di sekitar si penindas, entah keluarga dekat atau teman-temannya yang terang-terangan mendukung penindasan tersebut, atau siapa saja yang seharusnya punya tanggung jawab moral untuk mencegahnya tapi hanya bisa diam seolah tidak tahu apa-apa, sehingga penindasan demi penindasan bisa terus leluasa dilakukan oleh saudara atau teman mereka tersebut.
Sewaktu Osama sampai pada kesimpulan bahwa bangsa AS telah menindas bangsa Arab secara semena-mena selama bertahun-tahun, dan tak seorang pun yang bisa diharapkan mencegah penindasan tersebut, ia menemukan pembenaran atas segala macam reaksi yang harus ia perbuat dengan tangannya sendiri. Bukanlah rahasia lagi bahwa AS kebal hukum atas segala penindasan yang mereka perbuat di berbagai belahan dunia. Bahkan, fatwa Mahkamah Internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB hanyalah pepesan kosong belaka di telapak kaki negara adidaya tersebut. Di sisi lain, warga negara AS, orang-orang yang ikut membiayai kebijakan pemerintah melalui uang pajak; mereka yang punya kebebasan berpendapat untuk menolak kebijakan pemerintah dan mengubahnya jika mereka mau, nyatanya juga tak ubahnya seperti orang-orang buta saja di genggaman penguasa. Tak sedikit dari mereka menjadi tukang sorak untuk memuji-muji kecakapan AS dalam menjaga ketertiban dunia, serta membenci bangsa Arab sebagai orang-orang yang dianggap keras kepala dan sumber masalah dari sekian banyak kegaduhan.
Di mata Osama dan saudara-saudara seperjuangannya, dunia sudah terbolak-balik dan kebenaran kian tak menentu. Hanya setan yang bisa membuat kejahatan tampak baik di mata manusia, dan AS telah menunjukkan bahwa mereka tak kurangnya juga mampu berbuat demikian. Seperti juga Sayyed Quthb, Khomeini, dan tokoh-tokoh besar Arab lain sebelumnya, Osama semakin yakin bahwa AS adalah setan yang menjadi sumber kekacauan di muka bumi; musuh yang nyata dan harus diperangi sebagaimana pasukan muslim dahulu memerangi pasukan kafir dalam Perang Salib.
Begitulah kemudian teror reaksioner terus berlanjut dari kelompok-kelompok radikal Islam tiada habisnya. Hilang Al-Qaeda timbul ISIS, sementara AS masih berdiri di belakang Israel; masih adidaya; masih mendapat banyak keuntungan dari kerja sama minyak dengan Arab Saudi; masih bisa tertawa.
Kegilaan itu terus berlanjut.
#
Aku bersama terorisme
selama tatanan dunia baru ini
dibagi
antara Amerika dan Israel
separuh-separuh
Aku bersama terorisme
dengan semua puisiku
dengan semua kata-kataku
dengan semua gigiku
selama dunia baru ini
berada di tangan pembantai
Qabbani jelas menentang segala bentuk kekerasan yang lahir dari fanatisme agama, atau alasan apa pun. Ia tak akan lupa bagaimana istrinya, Balqis, tewas akibat ledakan bom di Beirut pada 1980, petaka yang membuatnya jatuh ke dalam jurang kegalauan selama bertahun-tahun. Tapi, kekerasan-kekerasan yang ditunjukkan bangsa Arab terhadap bangsa AS juga bukanlah fenomena yang tanpa alasan, apalagi jika dianggap sebagai watak bawaan yang identik dengan sangar, barbar, dan biadab. Puisi Qabbani ingin meledakkan omong kosong yang gencar diproduksi AS lewat propaganda-propaganda mereka di berbagai media, meledakkan kemunafikan AS yang suka berlagak sebagai superhero penyelamat bumi dari macam-macam kejahatan, meledakkan kebencian dan ketakutan siapa pun yang telah termakan tipu-tipu bacot AS, dan segala keberengesekan lainnya yang bersumber dari otak toksik AS.
Meski begitu, Qabbani tidaklah melimpahkan segala kritik terhadap sumber masalah di dunia Arab pada jiwa kriminal AS semata. Ia juga muak pada gaya kepemimpinan penguasa-penguasa Arab yang tidak punya prinsip kuat dalam menegakkan kedaulatan bangsa Arab. “Tak ada orang yang tersisa untuk mengatakan ‘TIDAK’”, tulis Qabbani saat mengeluhkan lemahnya pemimpin-pemimpin bangsa Arab dalam puisi yang sama. Bahkan, pemimpin-pemimpin Arab itu banyak pula yang dianggap korup: “mereka menyerahkan rumah kita, roti kita, dan minyak (zaitun) kita. Mereka mengubah sejarah kita yang gemilang menjadi toko yang biasa-biasa saja.” Sebagai semacam keluh-kesah yang nostalgik, Qabbani membandingkan pemimpin-pemimpin Arab kontemporer dengan pemimpin-pemimpin Arab dulu yang terkenal sebagai nama-nama besar: Hamzah bin Abdul Muthalib, Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Uqbah bin Nafi’, dan Mu’tasim Billah.
Di sisi lain, kritik terhadap AS tidak hanya terbit dari dunia Arab, tapi juga dari internal AS itu sendiri. Tidak sedikit tokoh-tokoh intelektual AS yang mengecam pemimpin-pemimpin mereka sendiri dengan berani dan terbuka. Noam Chomsky barangkali adalah intelektual AS yang paling gigih menelanjangi jiwa kriminal AS dari dulu hingga kini. Tulisan-tulisannya tentang kebijakan luar negeri AS yang kejam sangat banyak, dan lebih banyak lagi ceramah-ceramah, kuliah-kuliah, dan wawancara-wawancara yang telah ia berikan tentang masalah itu di berbagai kesempatan. Perhatian Chomsky terhadap dunia Arab pun sangat gamblang dan konsisten. Ia punya hubungan baik dengan intelektual-intelektual AS pro-Arab seperti Edward Said.
Bagi Chomsky, label-label ‘teroris’ yang dipropagandakan AS hanyalah omong kosong tak tahu diri belaka. Ia berkata, “It’s only terrorism if they do it to us. When we do much worse to them, it’s not terrorism.” Tak tanggung-tanggung, Chomsky justru menunjuk AS sebagai “negara teroris terkemuka” yang eksis di muka bumi, yang darinya muncul banyak kejahatan skala global yang tak termaafkan. Seperti Qabbani, Chomsky tampaknya bersikap sinis saja terhadap label ‘teroris’ yang dituduh-tuduhkan media AS secara kekanak-kanakan terhadap siapa pun yang menentang keras dominasi AS di dunia Arab. Selama AS terus berlagak sebagai si paling heroik di rumah-rumah bangsa Arab, dan tak pernah jujur dengan kekacauan yang justru mereka sulut dari waktu ke waktu, hantaman-hantaman dari tuan rumah, apa pun sebutan/label untuk mereka, hanya akan menjadi konsekuensi masuk akal, sekalipun mungkin tak masuk hati.
Seolah mempersetankan label ‘teroris’ yang telanjur menghantui pikiran banyak orang itu, Qabbani menutup puisinya dengan tiga bait yang kian tegas dan keras berikut.
Aku bersama terorisme
selama tatanan dunia baru ini
membenci bau Arab
Aku bersama terorisme
selama tatanan dunia baru
ingin membantai anak cucuku
dan melempar mereka ke anjing-anjing
Untuk semua ini
aku angkat suaraku tinggi-tinggi:
aku bersama terorisme
aku bersama terorisme
aku bersama terorisme
REFERENSI
Ansary, Tamim. 2017. Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Diterjemahkan Yuliani Liputo dari Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Chomsky, Noam. 2001. Maling Teriak Maling: Amerika Sang Teroris?. Diterjemahkan Hamid Basyaib dari Pirates and Emperors: International Terrorism in the Real World. Bandung: Mizan.
Chomsky, Noam. 2003. Power and Terror: Perbincangan Pasca Tragedi WTC 11 September 2001, Menguak Terorisme AS di Dunia. Diterjemahkan Syafruddin Hasani dari Power and Terror: Post-9/11 Talks and Interviews. Yogyakarta: Ikon Teralitera.
bin Laden, Osama. “Letter to America”. Diakses via https://static.poder360.com.br/2023/11/letter-to-america.pdf
Minderop, Albertine. 2006. Pragmatisme: Sikap Hidup dan Prinsip Politik Luar Negeri Amerika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Permata, Ahmad Norma (Ed.). 2006. Agama dan Terorisme. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Qabbani, Nizar. “I am with Terrorism”. Diakses via https://allpoetry.com/I-Am-With-Terrorism
