Sastra

  • |

    Badrun Tak Pulang Dari Melaut

    Setiap hari sebelum bekerja, Badrun selalu menyempatkan diri pergi ke pantai. Ia suka memandangi laut. Setiap kali memandangi birunya laut, hatinya menjadi lebih lapang. Meskipun ada rindu yang selalu membawa ingatannya jauh ke satu kampung. Kampung yang juga berada di kawasan pantai. Sejak kecil Badrun begitu akrab dengan kehidupan di kawasan pantai. Keluarga mereka turun…

  • |

    Ayo, Kita Membaca

    Oleh: Syarifah Zurriyati Pagi hari memetik melati, Harumnya semerbak di halaman. Mari membaca sepenuh hati, Membuka jendela ilmu dan wawasan. Pergi ke pasar membeli sukun, Singgah sebentar membeli delima. Mari membaca dengan tekun, Menambah ilmu sepanjang masa. Burung camar terbang ke awan, Hinggap sebentar di pohon tinggi. Buku adalah sahabat pengetahuan, Temani langkah setiap hari….

  • |

    Tentang Tulus

    Oleh: Syarifah Zurriyati   mencintai laksana hujan, datang tanpa badai senyap, tanpa perlu banyak suara, tak perlu riuh apalagi ramai   menyirami tanpa meminta balasan, meski sering kali jatuh di tanah yang salah. Meski sering kali tanpa penghargaan   Berkali-kali hatinya retak,remuk Terluka parah walau tiada berdarah   oleh janji yang tak ditepati, oleh kata-kata…

  • | |

    Proses Menulis Puisi: Joko Pinurbo

    Pada 1895 Sigmund Freud menulis sepucuk surat untuk koleganya, Wilhelm Fliess. Pada sebagian isinya ia berkata sebagai berikut. […] orang sepertiku tak bisa hidup tanpa sebuah hobi, suatu kegemaran yang melahap–dalam istilah Schiller: Tiran. Aku sudah menemukan tiranku, dan dalam hal melayaninya aku tak mengenal batas. Tiranku adalah psikologi. Ia selalu menjadi tujuanku yang jauh…

  • | |

    MENIKMATI SASTRA

    Ilmu itu indah[Faruk Haji Tripoli] Dalam suatu perkuliahan tentang sastra Indonesia di UGM, seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan fundamental kepada dosen yang sudah sepuh di depan kelas, “Ketika kita menghadapi puisi atau membaca puisi, sebaiknya kita memahami puisi itu atau menikmatinya, Prof?” Pertanyaan semacam itu mungkin bisa dibilang klasik, dan karena itu saya pribadi segera teringat…

  • | |

    Ibu Pertiwi

    Kilatan cahaya dari banyak kamera berebutan membidiknya. Tiwi berusaha tetap tersenyum meski bahkan untuk melihat dengan benar pun terasa sulit pada saat seperti ini. Tak lama, seseorang terlihat mempersilakannya untuk duduk di kursi yang berada di tengah panggung kecil dengan meja panjang di depannya. Tiwi segera menuju kursi itu dan mendudukkan diri di sana. Di…