Sastra

  • |

    Tentang Tulus

    Oleh: Syarifah Zurriyati   mencintai laksana hujan, datang tanpa badai senyap, tanpa perlu banyak suara, tak perlu riuh apalagi ramai   menyirami tanpa meminta balasan, meski sering kali jatuh di tanah yang salah. Meski sering kali tanpa penghargaan   Berkali-kali hatinya retak,remuk Terluka parah walau tiada berdarah   oleh janji yang tak ditepati, oleh kata-kata…

  • | |

    Proses Menulis Puisi: Joko Pinurbo

    Pada 1895 Sigmund Freud menulis sepucuk surat untuk koleganya, Wilhelm Fliess. Pada sebagian isinya ia berkata sebagai berikut. […] orang sepertiku tak bisa hidup tanpa sebuah hobi, suatu kegemaran yang melahap–dalam istilah Schiller: Tiran. Aku sudah menemukan tiranku, dan dalam hal melayaninya aku tak mengenal batas. Tiranku adalah psikologi. Ia selalu menjadi tujuanku yang jauh…

  • | |

    MENIKMATI SASTRA

    Ilmu itu indah[Faruk Haji Tripoli] Dalam suatu perkuliahan tentang sastra Indonesia di UGM, seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan fundamental kepada dosen yang sudah sepuh di depan kelas, “Ketika kita menghadapi puisi atau membaca puisi, sebaiknya kita memahami puisi itu atau menikmatinya, Prof?” Pertanyaan semacam itu mungkin bisa dibilang klasik, dan karena itu saya pribadi segera teringat…

  • | |

    Ibu Pertiwi

    Kilatan cahaya dari banyak kamera berebutan membidiknya. Tiwi berusaha tetap tersenyum meski bahkan untuk melihat dengan benar pun terasa sulit pada saat seperti ini. Tak lama, seseorang terlihat mempersilakannya untuk duduk di kursi yang berada di tengah panggung kecil dengan meja panjang di depannya. Tiwi segera menuju kursi itu dan mendudukkan diri di sana. Di…

  • | |

    Sebab Kata

    Lewat kata, penjual menyapa pembeli dengan ramah guru mengajar murid dengan sabar tuan mempersilakan tamu masuk dengan tulus sepasang tua tersenyum mengenang masa muda sepasang muda-mudi haru mengikrar janji di depan altar ‘kata’ dan ‘kita’ dibedakan oleh satu huruf saja tetapi kata mampu mengubah kita menjadi dekat dan akrab   Lewat kata, hakim mungkin salah…

  • | | |

    Hamzah Fansuri dan Teori Penciptaan Alam Semesta

    Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.[Q.S. Al-Anbiya: 30] Di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, makam Hamzah Fansuri tampak megah dalam keheningannya. Di belakangnya sungai Lae Souraya mengalir tenang menuju Samudra Hindia. Lihatlah, sepasang perahu kecil tertambat di pinggirannya. Sekonyong-konyong baris-baris “Syair Perahu” pun terbayang-bayang dalam hati. Wahai muda kenali dirimuIalah perahu tamsil hidupmuTiadalah…