Pada 1895 Sigmund Freud menulis sepucuk surat untuk koleganya, Wilhelm Fliess. Pada sebagian isinya ia berkata sebagai berikut.
[…] orang sepertiku tak bisa hidup tanpa sebuah hobi, suatu kegemaran yang melahap–dalam istilah Schiller: Tiran. Aku sudah menemukan tiranku, dan dalam hal melayaninya aku tak mengenal batas. Tiranku adalah psikologi. Ia selalu menjadi tujuanku yang jauh dan memberi isyarat, dan sekarang sejak aku mencapai neurosisku, tujuan itu menjadi semakin dekat.
Tiran, begitulah Freud membayangkan dorongan kuat dalam dirinya terhadap bidang ilmu yang berpuluh tahun ditekuninya, yakni psikologi. Sesuatu yang padanya ia persembahkan segenap energi dan waktunya, tanpa keluh-kesah, tanpa sesal, dengan sepenuh-penuhnya dedikasi yang bisa ia perbuat, sekalipun ia perlahan-lahan hancur karena itu. Tiran–kita mudah membayangkan ia bersemayam juga dalam diri orang-orang hebat yang pernah lahir ke muka bumi ini. Muhammad Ali, Cristiano Ronaldo, Michael Jordan, Jackie Chan, Michael Jackson, Thomas Alfa Edison, Ibnu Sina, mereka adalah segelintir nama yang telah secara total menuruti kuasa Tiran dalam diri mereka, sehingga menjadikan mereka orang-orang terbaik dalam bidang mereka masing-masing sepanjang sejarah.
Kini mari kita bayangkan juga Joko Pinurbo menemukan Tirannya itu pada puisi. Tiran itu tidak hanya memaksanya untuk menggeluti kata-kata secara intens selama berpuluh tahun, tapi juga memaksanya untuk bisa duduk di kursi roda pada masa-masa sakit parah menjelang kematiannya, supaya ia bisa terus menulis puisi, seolah tanpa itu ia akan mati lebih cepat. Sewaktu ia sudah tergeletak begitu lemah, begitu kurus bagai tulang berbalut kulit dalam pembaringannya, Tiran dalam dirinya masih juga memerintahnya untuk menunjukkan pengabdian pamungkas. Maka, dengan dibantu istrinya untuk merekam suaranya, akhirnya ia tunaikan jua perintah itu. Bagai gerimis singkat tengah malam Jokpin berkata, “Sudah kutulis segala senja, dan segala proses di dalamnya.”
Itulah puisi terakhir Jokpin, semacam pengakuan bahwa ia telah menjalankan segenap perintah Tiran dalam dirinya secara total. Maka, seperti setiap orang yang mengisi usianya dengan kerja-kerja maksimal, ia pun kemudian bisa beristirahat dengan tenang pada 27 April 2024. Misinya di muka bumi usai sudah.
#
Tanpa punya hobi menonton film, bermain alat musik, memancing ikan, atau aktivitas-aktivitas semacam itu lainnya, kecuali menonton bola, dapat dibayangkan bahwa Jokpin mencurahkan begitu besar perhatiannya pada puisi, atau sastra secara umum. Tentu ia punya kesibukan lain sebagai manusia umumnya: menikah, mengurus anak, membantu saudara di pengadilan, merawat orang tua, mengurus RT, ikut ronda, dan lain sebagainya yang biasa. Namun, karena sejak belia Jokpin sudah jatuh cinta pada puisi, maka segala macam pengalaman sehari-hari yang biasanya menjemukan itu ujung-ujungnya akan menjadi sumber inspirasi juga dalam proses pengabdian dirinya pada puisi. Bagi Jokpin, tidak ada yang tak layak dipuisikan. Hal-hal remeh-temeh seperti celana, sarung, ponsel, toilet, atau angkringan, semuanya punya hak untuk mendapat tempat dalam puisi. Bagi Jokpin, dalam puisi juga mesti ada kesetaraan kata-kata. Pengucilan terhadap kata-kata tertentu ialah juga bentuk ketidakadilan-sejak-dalam-pikiran.
Maka, ke mana pun Jokpin pergi biasanya ia akan membawa sebuah buku kecil sebagai tempat mencatat ide puisi. Atau, pada beberapa tahun belakangan ia mulai beralih menggunakan ponsel. Ide-ide tersebut bisa hanya berupa sebuah kata kunci, suatu frasa, suatu kalimat, atau lebih dari itu. Lalu, kata-kata kunci yang telah ia tulis itu akan menjadi tabungan kata yang kemudian ia kembangkan menjadi puisi setelah ia punya cukup waktu luang untuk duduk tenang di hadapan laptop.
Sebagai contoh, mari kita bayangkan suatu hari Jokpin sedang duduk-duduk di angkringan seusai suntuk oleh berbagai masalah tak berkesudahan, dan tiba-tiba semacam ilham menyambar pikirannya. Dengan gegas ia keluarkan buku kecilnya dan mulai mencatat ringkas, “Angkringan adalah tempat untuk menenteramkan hati.” Ia menutup buku catatannya, menyimpannya kembali, dan mulai merenung takjub oleh ide yang baru saja menggetarkan perasaannya itu. Ketika di waktu lain ia mengembangkan ide sederhana tersebut menjadi sesuatu yang lebih kompleks, ia akhirnya berhasil menuliskan puisi berikut.
Sepotong Hati di Angkringan
Pada suatu malam yang nyamnyam
kau menemukan sepotong hati yang lezat
dalam sebungkus nasi kucing. Kau mengira
itu hati ibumu atau hati kekasihmu. Namun,
bisa saja itu hati orang yang pernah kausakiti
atau menyakitimu. Angkringan adalah nama
sebuah sunyi, tempat kau melerai hati,
lebih-lebih saat hatimu disakiti sepi.
Pada puisi ini ide yang semula begitu sederhana sudah bertransformasi menjadi ungkapan puitis yang utuh. Frasa “menenteramkan hati” terdengar sudah biasa/klise, sehingga perlu diganti menjadi “melerai hati”. Lalu, ide kunci tersebut lebih lanjut diterjemahkan menjadi sejumlah citraan tentang ketenteraman yang akrab, seperti “malam yang nyamnyam”, “sepotong hati yang lezat”, “nasi kucing”, “hati ibu”, dan “hati kekasih”. Dengan begitu, ide tentang ketenteraman menjadi suatu bangunan suasana yang lebih konkret dan nyata. Begitulah sebuah puisi menemukan bentuknya yang menawan di tangan Jokpin.
Dalam teori Jokpin, “puisi itu konkretisasi, bukan abstraksi. Puisi mengungkapkan pengalaman jiwa yang abstrak melalui gambaran [citraan] atau deskripsi yang konkret, yang dapat menyentuh dan merangsang indera.”
Kadang tidak pula selalu ide-ide kunci yang dicatat Jokpin dalam tabungan katanya dikembangkan lagi menjadi puisi yang lebih panjang, seperti tampak pada kasus puisi “Sepotong Hati di Angkringan” di atas. Dengan mengintegrasikan aktivitas berpuisi dengan bercuit ria di media sosial, tak jarang Jokpin langsung membaptis saja ide-ide sederhana yang terlintas di kepalanya menjadi satu puisi utuh yang berdikari. Puisi-puisi pendek semacam itu, yang semula adalah cuitan-cuitan Jokpin di Twitter pada 2012–2014, bisa kita temui dalam buku Surat Kopi. Satu di antara ratusan puisi tersebut adalah sebagai berikut.
Jogja
Jogja terbuat dari rindu,
pulang, dan angkringan.
Cuma itu. Tidak ada pengembangan. Tidak ada tambahan ini-itu untuk memperkuat suasana Jogja seperti yang hendak diutarakan. Segalanya cukup diwakilkan oleh tujuh kata saja. Selesai. Dan puisi itu adalah puisi yang terbilang sukses. Setidaknya, ia kini terkenal sebagai kata-kata cantik yang menghiasi salah satu sudut Malioboro.
Selain bekerja dengan cara memburu ide dalam pengalaman hidup sehari-hari, terkadang Jokpin juga bisa bekerja dengan menerima pesanan ide dari orang lain. Beberapa puisi, seperti “Tiada”, “Cita-Cita”, “Rumah Cinta”, dan “Baju Bulan” ditulis Jokpin atas permintaan untuk dimuat dalam kolom iklan sebuah perumahan mewah yang ada di koran Kompas. Kadang, ada pula puisi yang dipesan ke Jokpin untuk ditujukan sebagai hadiah ulang tahun. Atau, sebagai hadiah pernikahan. Misalnya, sewaktu sepasang penulis muda, Eka Kurniawan dan Ratih Kumala menikah pada 2006. Saat itu Jokpin diminta menuliskan sebuah puisi romantis sebagai hadiah bagi sang pengantin baru yang berbahagia. Maka, ia pun menghasilkan puisi berikut.
Cinta Telah Tiba
untuk eka dan ratih
cinta telah tiba
sebelum kulihat parasnya
di musim semi wajahmu
telah menjadi kita dan kata
saat kucicipi hangatnya
di kuncup rekah bibirmu
Kian dalam dan tak terduga
saat kuarungi arusnya
di laut kecil matamu
Meski dalam batas tertentu agak terkesan pragmatis, bagi Jokpin soal pesan-memesan puisi ini tidak ada urusannya dengan komitmen, atau idealisme, sebagai penyair yang berintegritas. Jika ada orang-orang yang mempermasalahkannya, ia tidak pernah terlalu ambil pusing. Baginya, “setiap pengarang sesungguhnya selalu memesan karya untuk dirinya sendiri”. Atau, kalau kita kembali ke soal Tiran yang telah dibahas di muka, maka bisa dikatakan juga bahwa setiap pengarang dalam dirinya terdapat Tiran yang selalu meminta dibuatkan karya untuk dirinya sendiri. Lagi pula, menurut Jokpin lagi, “pesanan, permintaan, pengalaman, berita di koran, dan lain sebagainya, hanyalah pemicu awal” bagi proses kreatifnya menulis puisi. Sisanya adalah “kerajinan mikir”.
#
Bagi Jokpin menulis puisi adalah semacam perjalanan misterius yang mengasyikkan. Ia hanya berangkat dengan beberapa kata kunci sebagai pengantar, lalu di hadapan layar yang masih banyak kosongnya ia biarkan dirinya dibawa jalan-jalan oleh pikirannya ke tempat-tempat baru nan menggairahkan. Kadang ia akhirnya bertemu dengan metafora cantik di taman kota. Di lain waktu, sambil berselisih jalan ia kadang berjumpa lagi dengan hikmah-hikmah tua dengan gaun baru yang membuat mereka tampak jauh lebih muda. Ia selalu senang punya kesempatan bercengkrama dengan hikmah-hikmah tua itu, selalu heran oleh kesan bahwa ia ternyata belum betul-betul mengenal mereka sekalipun sudah cukup lama bersahabat, dan selalu takjub seolah-olah mereka tak akan pernah bisa mati-mati. Di lain waktu lagi, di tempat-tempat yang sering basah oleh hujan air mata, senang juga ia menemui humor-humor polos yang baru usai mandi. Mereka biasanya akan ketawa-ketawa bersama sebentar, membuang “asu” pada tempatnya, sebelum kemudian Jokpin kembali melanjutkan perjalanannya dengan perasaan hati yang lebih ringan. Atau, sekali-sekali ketika perjalanannya semakin jauh ia bisa tersesat ke tempat ingatan-ingatan lama tanpa celana menyapanya ragu-ragu, membuatnya menutup muka dan cepat-cepat berlalu ke arah lain.
Begitulah Jokpin mengembangkan ide-ide dalam tabungan katanya menjadi puisi-puisi yang berdikari. Prosesnya bisa memakan waktu lima menit saja, tapi kadang ada juga yang sampai dua tahun baru selesai. Lebih sering Jokpin mengerjakan puisi-puisinya itu dalam waktu berhari-hari atau berminggu-minggu. Dalam hal ini, sebagian besar waktunya lebih banyak tersita oleh proses penyuntingan yang tukar-tambah-coret berkali-kali.
Sebagaimana ia bisa tiba-tiba mencatat suatu ide puisi di ponsel/buku catatannya pada waktu-waktu yang sembarang, sebenarnya tidak ada juga waktu khusus bagi Jokpin untuk bertungkus lumus menulis puisi di depan laptop. Meski begitu, seperti penyair-penyair romantik di mana-mana dalam sejarah, ia pun lebih suka bercinta dengan kata-kata pada tengah malam. Sambil menikmati berbatang rokok dan secangkir kopi pahit bikinan sendiri, ia tempuh kesunyian malam seorang diri. Kadang, ritual malam itu ia kerjakan sambil menunggu siaran pertandingan sepak bola pada dini hari. Kalau tidak ada siaran sepak bola yang ditunggu, maka ia akan melanjutkan ibadah puisinya sampai ia ngantuk dan akhirnya jatuh tertidur kelelahan.
Mau malam, mau pagi, mau siang, mau sore, Jokpin setiap hari selalu berusaha untuk berlatih menulis puisi dengan serius. Baginya, tiada hari berlalu tanpa puisi. Karena itu, sebagai hamba puisi, pada setiap hari Jokpin juga menunaikan kewajiban ibadah puisi semampunya. Begitulah kehendak Tiran dalam dirinya menggariskan.
Meski ia menuntut dirinya dengan keras untuk terus produktif menghasilkan kata-kata, bukan berarti pula ia punya semacam ambisi besar untuk bisa menerbitkan buku puisi sebanyak mungkin. Bagi Jokpin, soal menerbitkan buku puisi biarlah menjadi soal-soal yang mengalir saja. Adapun soal rutinitasnya yang saklek terhadap puisi, itu adalah murni komitmen sungguh-sungguhnya sebagai penyair yang telah telanjur berketergantungan pada kata-kata. Dalam sebuah wawancara ia berkata sebagai berikut.
Saya tidak pernah menetapkan target [berapa banyak menerbitkan puisi]. Tapi saya punya target bahwa setiap hari saya harus tetap mengutak-atik kata. Entah hanya menghasilkan satu baris atau satu kalimat. Karena kalau kita tidak membiasakan diri, tidak mendisiplinkan diri, nanti seorang pengarang itu akan kesulitan untuk mendapatkan suasana menulis yang baik. Semakin kita banyak bergulat dengan kata-kata, kita semakin mengerti misteri kata-kata.
Maka, begitulah Jokpin dengan sendirinya menjadi penulis puisi yang sangat konsisten dan juga produktif menghasilkan karya-karya baru dari waktu ke waktu. Karena ia bukan tipe penyair yang suka pamer puisi pada istrinya, pernah dalam setahun tiba-tiba ia menerbitkan dua buku kumpulan puisi sekaligus, dan itu membuat istrinya terheran-heran seakan puisi-puisi tersebut telah ia lahirkan lewat cara-cara yang ajaib dengan mudahnya.
