Hari itu 6 September 1981. Nawal El Saadawi tengah menulis novel sendirian di apartemennya ketika tiba-tiba pintu didobrak dari luar. Tidak kurang dari tiga puluh orang bertampang sangar masuk sekonyong-konyong, mendorong perempuan setengah abad itu ke luar, dan memboyongnya tanpa banyak penjelasan dengan mobil polisi.
“Saya bisa melihat tetangga saya mengintip dari jendela mereka, dan semuanya sangat ketakutan,” kenang Nawal tentang hari penangkapannya itu. Konon, ia adalah satu dari 1.035 pembangkang yang akan disikat Anwar Sadat tanpa ampun. Sang presiden telah berpidato tentang itu pada malam sebelumnya.
Untungnya, tepat sebulan setelah hari penangkapannya, Anwar Sadat terbunuh dalam suatu upacara kenegaraan. Nawal beserta sejumlah tahanan lainnya dibebaskan sekitar dua bulan kemudian. Bahkan, ia kemudian diundang pula ke istana untuk bertemu presiden baru, Husni Mubarak. Bukannya merasa senang, Nawal malah marah-marah, “Saya akan menuntut pemerintah. Anda tidak dapat menahan seseorang yang tidak melakukan kejahatan selama tiga bulan sehingga tidak tahu apa yang telah terjadi pada suami dan anak-anaknya, dan menahannya dalam kondisi yang bahkan hewan pun tidak dapat hidup dalam kondisi tersebut, lalu pihak pemerintah seenaknya berkata: pulanglah ke rumah. Tidak! Anda harus bertanggung jawab.”
Nawal adalah satu-satunya tahanan yang menggugat pemerintah di pengadilan, dan ia menang.
Nawal El Saadawi memang perempuan yang tidak biasa. Ia disebut-sebut sebagai “dedengkot feminis dunia Arab” dan “Simone de Beauvoir dari Mesir”. Sepanjang hidupnya, ia telah mengabdikan dirinya untuk menentang berbagai macam bentuk penindasan terhadap kaum perempuan, tidak hanya terbatas di dunia Arab. Ia menulis sejumlah tulisan radikal tentang perempuan, menjadi pembicara publik di berbagai forum yang membahas isu-isu perempuan, dan kadang juga ikut serta dalam demonstrasi-demonstrasi yang mempersetankan penguasa.
Bagaimanapun, sehari-hari Nawal adalah seorang dokter dan psikiater yang berurusan dengan masyarakat umum dan berbagai macam keluhannya. Melalui profesinya, Nawal menemukan begitu banyak kasus yang menjadikan perempuan sebagai korban dari norma-norma berengsek yang telah mendarah daging dalam tubuh sistem yang seumur hidup ia kutuk, yakni patriarki. Kasus-kasus semacam inilah, ditambah pengalaman-pengalaman pribadinya sebagai perempuan Arab, yang membuat Nawal aktif sebagai feminis vokal dan mempertaruhkan nyawanya dalam ancaman-ancaman pembunuhan dari berbagai pihak, terutama kelompok fundamentalis yang menuduhnya murtad dan menghina Islam. Beberapa kali buku-bukunya dilarang terbit di Mesir, tetapi itu tetap saja tak bisa membungkam suara Nawal yang terus bergaung di seantero dunia Arab, dan malah kian menyita perhatian global.
Kondisi yang dihadapi Nawal sungguh tidak gampang. Seperti struktur sosial di berbagai belahan dunia sejak lama, struktur sosial bangsa Arab sangat didominasi oleh kaum Adam. Identitas mereka ditentukan oleh suku-suku yang berdasar pada garis keturunan laki-laki. Sebagai perempuan, Nawal otomatis menempati posisi inferior dalam masyarakat patriarkis tersebut.
Lalu bangsa Arab sejak abad kesembilan belas juga adalah masyarakat pascakolonial yang punya pengalaman-pengalaman buruk dalam hubungannya dengan bangsa Barat, terutama Prancis dan Inggris. Dominasi politik dan militer Barat di dunia Arab telah membuat bangsa Arab tidak lagi bisa mengurus rumah tangganya sendiri secara mandiri, dan hal ini sering kali menimbulkan konflik-konflik yang semakin memperparah keadaan. Meski kemudian negara-negara Arab mendapatkan kembali kemerdekaannya pada sekitar pertengahan abad kedua puluh, pada hakikatnya mereka tetap tidak kuat secara ekonomi, sehingga cengkeraman kapitalisme Barat, yang kali ini diwakili Amerika Serikat, terus-menerus menjadi setan raksasa yang melahirkan banyak masalah tiada habis.
Inilah hantu blau yang dihadapi Nawal, dan ia meyakini bahwa patriarki, kapitalisme, dan imperialisme adalah sistem yang jalin-menjalin menciptakan neraka bagi bangsa Arab. Dalam neraka semacam itu, kaum perempuan adalah pihak yang paling banyak dirugikan dan paling sengsara sebab dalam patriarki ia ditindas oleh kaum lelaki bangsa Arab, sementara dalam imperialisme, bangsa Arab sendiri ditindas oleh bangsa Barat. Jadi, perempuan ditindas berlapis-lapis! Seperti jahanam, penderitaan mereka adalah penderitaan par excellence.
Sialnya lagi, agama monoteisme–khususnya Islam–yang diimani mayoritas bangsa Arab dan mestinya bisa menghadirkan surga bagi umatnya, rupa-rupanya malah disalahgunakan pula untuk mengukuhkan neraka tersebut. Patriarki telah memanfaatkan agama untuk memberi kekuasaan lebih besar pada kaum Adam atas kaum Hawa, sementara imperialisme memaanfaatkan agama untuk memecah belah bangsa Arab sendiri dari dalam.
Maka, ultimatum perang Nawal melawan patriarki dapat dikatakan terjadi pada 1972, melalui penerbitan buku pertamanya, Women and Sex. Di sana Nawal mengkritik habis-habisan berbagai praktik yang menjajah tubuh perempuan, seperti sunat alat kelamin (female genital mutilation), deflorasi malam pernikahan, dan tes keperawanan. Ia berkeyakinan bahwa pernikahan yang dibangun dalam nilai-nilai patriarkis, yakni yang eksploitatif terhadap tubuh perempuan, sebenarnya tak ubahnya seperti prostitusi yang memposisikan istri sebagai pelacur.
Itu merupakan sikap yang frontal dan berani terhadap kaum laki-laki. Konsekuensinya tak tanggung-tanggung. Nawal dipecat dari pekerjaannya sebagai Direktur Pendidikan Kesehatan di Kementerian Kesehatan, sementara majalah Health yang dipimpinnya dibredel. Tentu buku Women and Sex itu sendiri sudah dilarang terbit pula terlebih dahulu.
Semakin yakin dengan dominasi patriarki yang berang karena status quonya diusik, Nawal menyiapkan amunisi lainnya untuk melancarkan serangan yang lebih keras menampar. Kali ini ia terjun ke lapangan untuk meneliti kondisi kejiwaan perempuan-perempuan Mesir yang menderita penyakit saraf (neurosis) karena tekanan-tekanan batin, baik berat maupun ringan. Ia bolak-balik mengunjungi sejumlah rumah sakit, beberapa puskesmas, juga suatu penjara wanita di Qanatir. Di penjara inilah ia bertemu Firdaus, seorang terpidana mati yang menjadi inspirasi bagi tokoh utama novel debut Nawal, Perempuan di Titik Nol. Kisah Firdaus sangat menyita pikiran Nawal, sampai-sampai ia lebih dulu merampungkan novel tersebut, yang terbit pada 1973, ketimbang penelitiannya yang baru terbit pada 1976 dengan judul Women and Neurosis in Egypt.
Novel Perempuan di Titik Nol bercerita tentang seorang perempuan Mesir bernama Firdaus yang menghamburkan segala kemuakannya terhadap dunia laki-laki sehari sebelum hukuman matinya dilangsungkan. Sebagaimana namanya, Firdaus (surga tingkat paling atas dalam ajaran Islam), perempuan ini menjadi surga bagi laki-laki bedebah dari berbagai macam kalangan masyarakat. Firdaus adalah seorang pelacur.
Sebagai pelacur, Firdaus memiliki segudang pengalaman buruk bersama sejumlah laki-laki. Mulai masa kecil hingga masa dewasa, Firdaus selalu berhadapan dengan laki-laki yang macam bangkai tabiatnya. Laki-laki pertama yang membuatnya benci adalah ayahnya sendiri. Sejak itu neraka patriarki kian nyata adanya, dan makin lama makin banyak laki-laki yang melampiaskan nafsu seksual dengan tubuhnya, mulai dari pamannya sendiri (seorang pelajar Universitas Al-Azhar), seorang syekh, kawanan berandal, polisi kesepian, hingga pangeran kerajaan. Semua pengalaman buruk itu dibeberkannya dengan begitu muak dan penuh amarah. Sebagai perempuan malang, Firdaus mengutuk semua laki-laki. Firdaus menyalahkan pihak laki-laki dan menuduh segala keburukan muncul karena ulah laki-laki. Ia berkata, “Tak ada perempuan yang dapat menjadi penjahat. Untuk menjadi penjahat hanyalah lelaki. [….] kamu semua adalah penjahat, kamu semua: para ayah, paman, suami, germo, pengacara, dokter, wartawan, dan semua lelaki dari semua profesi.”
Firdaus meludahi setiap foto lelaki yang terpampang di halaman surat kabar. Ia terus-terusan memaki-maki laki-laki. Barangkali ini tampak berlebihan, tapi serangannya terhadap prinsip-prinsip patriarki bisa dibilang memang berangkat dari kesimpulan yang kritis. Sebagaimana pimpinan adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas siapa pun yang dipimpinnya, laki-laki sebagai pemegang otoritas puncak dalam sistem patriarki juga adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas perempuan sebagai pihak yang dipimpin dalam konteks kehidupan bermasyarakat–terlebih-lebih dalam relasi yang lebih ekstrem-berengsek: laki-laki sebagai majikan dan perempuan sebagai budak.
Saya dapat pula mengetahui bahwa semua yang memerintah adalah laki-laki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpul duit, mendapatkan seks dan kekuasaan tanpa batas. Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi di bumi, yang merampas rakyat mereka, yang bermulut besar, berkesanggupan untuk membujuk, memilih kata-kata manis, dan menembakkan panah beracun. Karena itu, kebenaran tentang mereka hanya terbuka setelah mereka mati, dan akibatnya saya menemukan bahwa sejarah cenderung mengulangi dirinya dengan kekerasan kepala yang dungu.
Kehadiran novel PdTN di tengah-tengah dunia Arab yang patriarkis tentu segera mendatangkan banyak kecaman keras terhadap Nawal. Baru dua tahun lalu ia bikin gaduh lewat buku Women and Sex, dan kini ia kembali mengacungkan kepalan tangannya tanda tidak kapok. Setelah mengalami penangkapan dan penahanan selama tiga bulan pada 1981, Nawal semakin giat melancarkan kritik terhadap jahatnya dunia patriarki yang berdiri angkuh di depan matanya. Pada 1987, Nawal menerbitkan novel Jatuhnya Sang Imam, bercerita tentang bagaimana otoritas agama berjalin-kelindan dengan otoritas pemerintahan; perkawinan fundamentalisme Islam dengan sistem patriarki, dan kemarahan banyak orang bangkit kembali.
Novel JSI adalah ilustrasi rumit bagaimana agama menjadi penopang penting sistem patriarki di dunia Arab. Sang Imam adalah pemuka agama, sekaligus juga pemimpin pemerintahan dan Partai Allah. Ia mengendalikan rakyatnya dengan pemberlakuan hukum syariah secara totaliter. Dengan klaim bahwa hukum syariah adalah ketentuan dari Tuhan, dan ketentuan Tuhan adalah mutlak sebagai kebenaran, maka pemerintahan Sang Imam diterima rakyatnya sebagai pemerintahan yang juga mutlak mesti dipatuhi. Tak ada yang bisa menggugat Sang Imam karena ia dipercaya mewakili Tuhan, dan Tuhan adalah Maha Benar, Maha Sempurna. Dengan cara inilah mental patriarki yang telah mendarah daging dalam diri Sang Imam mengejawantah melalui berbagai kebijakan pemerintah dan mendapatkan legitimasi dari doktrin agama.
Fakta keyakinan: agama adalah kebenaran mutlak. Fakta kebudayaan: pemerintah adalah patriarki. Klaim utama: pemerintah berlandaskan pada agama. Ilusi utama: patriarki adalah kebenaran mutlak. Pesan moral: masuk nerakalah orang-orang yang menolak patriarki!
Realitanya, Sang Imam tentu hanyalah manusia biasa yang punya banyak kekurangan dan bahkan keburukan. Ia menjalankan pemerintahan dengan penuh kemunafikan, dan membentengi tipu-tipunya dengan berbagai teror. Pada tataran yang paling kasar, teror itu berwujud hukuman mati bagi siapa pun yang dianggap sesat (baca: menentang ketentuan Sang Imam). Pada tataran yang paling halus–tapi sangat fundamental–teror itu berwujud doktrin masuk neraka bagi siapa pun yang melanggar ketentuan agama, dan Sang Imam selalu digembar-gemborkan sebagai representasi dari agama itu sendiri.
Realitanya, di balik semua tipu-tipu itu, yang ada hanyalah nafsu akan kekuasaan, harta, dan wanita. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang religius.
“Saya ingin memisahkan agama dari negara,” kata Nawal di suatu wawancara. Ia mendukung negara sekuler karena pengalaman hidup di dunia Arab telah mengajarkannya banyak kemunafikan yang ironis. “Kita hidup, pada level global dan lokal, dalam masyarakat yang sangat tidak adil. Sangat tidak adil dan religius. Begitu banyak kontradiksi. Negara-negara religius dan sangat tidak adil. Mereka menggunakan Tuhan untuk menjustifikasi ketidakadilan. […] Jadi, mereka butuh Tuhan untuk menjustifikasi ketidakadilan. Itu membuat saya marah.”
Ironi yang disaksikan Nawal tentu bukan pemandangan baru. Intelektual Mesir sebelumnya, Muhammad Abduh (w. 1905), juga mendapatkan kesan serupa kurang lebih seabad lampau. Ia pernah berkata, “Saya pergi ke Barat, saya melihat Islam, tapi tak melihat orang Islam. Saya kembali ke Timur, saya melihat orang Islam, tapi tak melihat Islam.”
Bagi Nawal, seperti neneknya dulu mengajarkan, Tuhan itu adalah keadilan, kebebasan, cinta, dan keindahan. “Tuhan bukanlah sebuah buku yang keluar dari mesin cetak,” jelasnya sinis. “Tuhan adalah keadilan, dan kita mengenal-Nya melalui akal kita.” Di sini penekanan terhadap akal sebagai nalar kritis dan kreatif sangat penting. Begitu banyak orang memeluk keyakinan agama yang diwariskan begitu saja kepadanya, tanpa menggunakan akalnya secara kritis dan kreatif. Hasilnya adalah pemeluk-pemeluk buta yang mudah disetir. Misalnya, Nawal menggambarkan ironi tersebut dalam novel JSI sebagai berikut.
Dengan tercengang aku bertanya, “Aurat yang mana? Aku telah memakai pakaian lengkap?”
Dengan jari-jari yang runcing, mereka menunjuk wajahku. Ketakutan menderaku dan lidahku bergetar.
“Siapa yang mengatakan ini pada kalian?”
“Itu adalah firman Tuhan.”
“Firman Tuhan itu tertulis sementara kalian tidak mengenal tulisan, lalu bagaimana kalian bisa mengerti firman-Nya?”
Mereka diam beberapa saat, saling memandang. Dan mereka mengangkat pandangan ke langit, menunjuk gambar yang tergantung di atas gerbang kemenangan.
“Siapa dia?” tanyaku.
[…] Namanya Sang Imam. […] Kami telah bersumpah setia padanya untuk selamanya. Sang Imam telah melihat Tuhan dan mengerti kata-kata-Nya.”
“Di mana Sang Imam melihat Tuhan?”
“Tuhan telah mengunjunginya dalam mimpi.”
Kebodohan adalah musuh agama. Melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan, tanpa dasar pemahaman ilmu yang mantap, adalah dilarang dalam agama. Hanya orang-orang berakal yang diwajibkan menjalankan perintah agama. Tidak ada kewajiban beragama bagi orang gila, atau orang yang belum mampu menggunakan akalnya, alias akil balig. Sialnya, ironisnya, tragisnya, pemerintahan yang ditopang oleh otoritas agama sering kali membendung aktivitas akal untuk berpikir kritis dan kreatif. Agama menjadi alat yang sangat ampuh dalam berpolitik, sementara, menurut keyakinan Nawal, “Setiap sistem politik mempunyai sistem pendidikan untuk mengontrol pikiran rakyat. Tanpa mengendalikan pikiran rakyat, kau tidak bisa memerintah mereka. Kau tidak bisa mendominasi mereka. Dan ini universal. Dan sistem pendidikan kurang lebih adalah sebuah sistem ketertiban untuk mengontrol pikiran. Ia seperti cadar bagi pikiran.”
Jadi, ketika agama digunakan sebagai alat politik, ia turut serta menjadi alat untuk mengendalikan pikiran rakyat, membekukan pikiran rakyat, dan singkatnya: membodohi rakyat itu sendiri. Ini adalah ironi dari integrasi agama dan politik dalam negara teokrasi. Agama mensyaratkan akal yang aktif berpikir bagi pemeluknya, sementara politik menjadikan agama sebagai alat untuk membuat pemeluknya berhenti berpikir. Jika sudah begini, maka agama menjadi alat yang ampuh dalam politik untuk melanggengkan sistem patriarki, kapitalisme, dan imperialisme.
Nawal El Saadawi menentang pembekuan akal itu dengan merayakan kreativitas dan menjunjung pembangkangan lewat karya-karya sastra yang menggugah orang-orang untuk mempertanyakan ulang kebenaran yang telanjur erat mereka peluk, dan kepatuhan buta yang telanjur biasa mereka ikuti. Ia berkata, “Kreativitas berarti akal sehat”, “Ia adalah dorongan untuk hidup”, “kau mengkreasi sesuatu untuk bertahan hidup dan selamat”, sementara “Pembangkangan adalah mengatakan ‘tidak’ pada sistem yang sangat tidak adil”, “Kau melawan. Kau tak menerima ketidakadilan. Kau tak menerima perbudakan. Kau melawan balik demi martabatmu.” Jadi, ada korelasi intim antara kreativitas dan pembangkangan dalam hidup Nawal. Salah satu wujud konkret keduanya adalah karya-karya sastra seperti yang ditulis Nawal untuk memperjuangkan keadilan bagi kaum perempuan yang disiska neraka patriarki.
Karya sastra mungkin tak selalu melahirkan pemberontakan fisik yang mengubah tatanan sosial secara revolusioner. Tapi, karya sastra yang baik, yang lahir dari ekspresi kejujuran dan keresahan, akan selalu menawarkan kewarasan, kejernihan, dan dorongan untuk tetap adil sejak dalam pikiran. Ia membantu kita bertahan dari kegilaan kiri-kanan-depan-belakang yang berkali-kali berusaha merangkul untuk dinormalisasi. Ia membantu kita untuk terus menolak keberengsekan, setidaknya penolakan dalam hati, meski belum banyak hal konkret yang bisa diperbuat untuk mengubah keadaan–untuk menghantam ketidakadilan itu sendiri–dengan tangan.
Jika kita kembali pada pandangan Nawal tentang agama dan Tuhan, maka karya sastra yang baik bisa membantu kita untuk tetap menjaga api kreativitas, api pembangkangan, yang menyala dalam akal sehat. Hanya akal sehat yang terus menyala yang akan membantu kita untuk mengenal Tuhan dalam kehangatan, bukan akal sehat yang lama padam oleh taklid dan kepatuhan.
“Jika saya sungguh-sungguh orang baik,” kata Nawal, “saya harus berkelahi demi keadilan. Ini berarti saya mengenal Tuhan karena Tuhan adalah keadilan.”
Muslim di Hadapan Tuhan, Bukan Muslim di Hadapan Manusia
Pandangan Nawal tentang agama tampaknya mirip-mirip dengan pandangan Tan Malaka tentang Islam. Mereka berdua memang sama-sama berpaham kiri, tapi Nawal bukanlah seorang marxis seperti Tan. Tan pun bukan seorang feminis, atau bukan intelektual yang punya pandangan khusus tentang perempuan, dan ia hingga wafat di usia lebih setengah abad tetap setia sebagai lajang.
Pada 1922 Tan Malaka berpidato di Moskow dalam Kongres Komunis Internasional IV. Sebagai perwakilan partai komunis dari Hinda Belanda, ia berkata di hadapan Lenin, Trotsky, dan anggota-anggota partai komunis lainnya dari berbagai penjuru dunia, “[…] ketika menghadap Tuhan saya seorang Muslim, tapi manakala berhadapan dengan manusia saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan sendiri bilang ada banyak setan di antara manusia!”
Pada pernyataan ini kita bisa melihat bahwa dalam beragama Tan Malaka sangat bersikap hati-hati dengan “manusia”, yang dalam bentuk jamaknya bisa disebut masyarakat. Dengan membatasi pemahaman atas pernyataan Tan ini dalam kerangka berpikir Marxis–supaya tidak dipahami secara aneh-aneh menggunakan perspektif lain yang tidak ada urusannya dengan pribadi Tan Malaka–maka dapat dilihat bahwa Tan membedakan antara muslim di hadapan Tuhan dan muslim di hadapan manusia. Muslim versi pertama dapat dipahami sebagai muslim yang berpegangan pada agama Islam versi Tuhan. Dengan kata lain, ini adalah Islam yang sejati, yang ideal, yang selalu berusaha digapai sekalipun tidak akan pernah utuh. Di sisi lain, muslim versi kedua adalah muslim yang berpegangan pada agama Islam versi manusia. Dengan kata lain, ini adalah Islam yang didefinisikan oleh manusia, yakni tafsir-tafsir.
Pembedaan yang dilakukan Tan Malaka sejatinya adalah pembedaan terhadap agama/wahyu dan tafsir, dua hal berbeda yang sering kali disamakan begitu saja oleh umat Islam pada umumnya. Agama tidak pernah utuh dan terang benderang mengungkapkan maknanya yang sejati pada manusia. Keterbatasan akal membuat manusia hanya bisa memahami agama melalui sejumlah perantara, terutama tafsir-tafsir, dan berpegang pada sebagian tafsir sembari memasang niat bahwa itulah yang akan membawa mereka pada jalan keselamatan. Jadi, agama tidak bisa disamakan dengan tafsir karena tafsir adalah isi kepala manusia, sementara kepala manusia juga diisi oleh berbagai macam pikiran lain yang kemudian membentuk kesadarannya. Di sini, bisa saja tafsir secara tidak sadar disetir oleh pikiran-pikiran lain, yang dalam tingkatan tertentu sudah dinormalisasi sebagai kewajaran, sehingga dalil-dalil agama malah menjadi legitimasi bagi norma-norma yang telah eksis di masyarakat, termasuk sistem patriarki. Jika kita mempertimbangkan konsep kesadaran palsu yang telah menjadi kewajaran dalam masyarakat, maka patut dipertanyakan tafsir-tafsir yang dihasilkan oleh orang-orang yang berasal dari masyarakat tertentu, dengan kesadaran palsu tertentu, sekalipun mereka bisa diyakini pada dasarnya punya niat yang baik terhadap agama.
Di sinilah peran akal menjadi krusial dalam memahami dan meyakini ajaran Islam. Akal yang terbiasa aktif tidak akan menelan begitu saja apa pun doktrin yang mengatasnamakan Islam dari siapa pun, termasuk pihak-pihak yang dipandang sebagai otoritas Islam. Akal yang senantiasa bebas-aktif akan berpegang pada keadilan, dan menimbang secara awas apa pun doktrin/tafsir yang biasa diterima masyarakat secara buta, sekalipun itu bersumber dari pemuka agama (baca: manusia).
Karena agama Islam yang hadir melalui tafsir-tafsir merupakan isi kepala manusia yang condong dipengaruhi oleh isi kepala lainnya, terutama kesadaran palsu, maka Tan Malaka sangat berhati-hati terhadapnya. Makanya, ketika Tan mengaku bukan muslim di hadapan manusia, itu berarti Tan bukanlah muslim berdasarkan tafsir-tafsir manusia, terutama yang sangat dipengaruhi kesadaran palsu. Ia mewaspadai betul bahwa agama bisa dimanfaatkan, atau terpengaruh kesadaran palsu, demi kepentingan kelas kapitalis yang berkuasa. Dengan kata lain, melalui sikap demikian Tan berusaha membersihkan agama dari pengaruh-pengaruh kesadaran palsu yang datangnya dari manusia, sebab “Tuhan sendiri bilang ada banyak setan di antara manusia!”
Dalam konteks Nawal, “banyak setan di antara manusia” itu mungkin juga termasuk banyak lelaki yang terus melanggengkan sistem patriarki di mana-mana, entah melalui agama, politik, pendidikan, kesenian, dan sebagainya. Meski begitu, pada akhirnya penting juga untuk digarisbawahi: cara Nawal memahami Islam, membaca umat Islam, dan menginterpretasi Al-Qur’an tentu juga tidak terlepas dari kondisi-kondisi sosial-kultural-historis yang telah membentuk kesadarannya sejak kecil. Bangkitnya rasionalisme dalam dunia pemikiran Islam melalui tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh (w. 1905), serta dominannya paham sosialisme di Mesir melalui tokoh-tokoh seperti Gamal Abdul Nasser (w. 1970), pasti ikut serta menjadi faktor yang menentukan kerangka berpikir Nawal sebagai intelektual.
REFERENSI
Nawal El Saadawi. 2007. Jatuhnya Sang Imam. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nawal El Saadawi. 2010. Perempuan di Titik Nol. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nawal El Saadawi. 2018. HARDtalk with Nawal El Saadawi. Youtube. Diakses via https://www.youtube.com/watch?v=2Ugg6H8n6vA
Nawal El Saadawi. 2022. Perjuangan dan Perlawanan Seorang Feminis Mesir: Kumpulan Wawancara dan Cerpen. Yogyakarta: IRCiSoD.
NYUAD Institute. 2020. Walking Through Fire: A Conversation with Nawal Saadawi. Youtube. Diakses via https://www.youtube.com/watch?v=ZvzTus88xho&list=LL&index=7
NYUSPS. 2011. NU-SCPS McGhee Event: “Creativity, Dissidence, and Women” – Dr. Nawal El Saadawi. Youtube. Diakses via https://www.youtube.com/watch?v=40oEJX1Ww7E
UW Video. 2014. Walking Through Fire. Youtube. Diakses via https://www.youtube.com/watch?v=QBhjubxMkUk
