Menjelang lahirnya kesusastraan Arab modern pada awal abad kedua puluh, di dunia Arab terjadi apa yang disebut Nahdah, atau masa kebangkitan, sejak sekitar seabad sebelumnya. Masa itu literatur-literatur dari Eropa masuk ke Mesir dan Suriah melalui usaha-usaha penerjemahan yang disokong oleh pemerintah, serta melalui kerja-kerja penyaduran yang dilakukan sejumlah sastrawan secara mandiri. Hasilnya, dunia Arab, terutama Mesir dan Suriah (termasuk Lebanon) segera menjadi akrab dengan kesusastraan Eropa modern, sehingga tak lama berselang lahir pulalah kesusastraan Arab modern.
Abad kesembilan belas merupakan abad yang identik dengan gerakan romantisisme dalam lapangan kesenian Eropa, termasuk dalam kesusastraan. Meski mengakui semangat awal romantisisme ditemukan pada Rousseau (1712–1778), Russell dalam buku Sejarah Filsafat Barat memulai kronologi gerakan romantisisme di Jerman, terutama pada kaum muda di penghujung abad kedelapan belas. Pada awal abad kesembilan belas pandangan romantik sudah menjadi lazim pula di Inggris, sementara di Prancis ia baru berkembang tak lama kemudian, terutama sejak kehadiran karya-karya penting Victor Hugo (1802–1885).
Menurut Russell lagi, romantisisme mulanya merupakan “perlawanan terhadap standar etika dan estetika yang telah mapan.” Standar tersebut sangat kuat dipengaruhi oleh rasionalisme Abad Pencerahan, dan itu kenyataannya membawa banyak dampak buruk, seperti puncaknya pada revolusi industri yang dipandang destruktif terhadap alam dan kemanusiaan. Sebagai alternatif, kaum romantik mengajukan standar baru yang lebih mengutamakan perasaan. Dengan begitu kaum romantik sebenarnya merupakan semacam gerakan kembali ke fitrah, khususnya dalam arti sesuatu yang alamiah dan ilahiah. Perasaanlah yang paling cocok dengan fitrah tersebut sebab ia dipandang identik dengan naluri (alamiah) manusia sekaligus dibayangkan sebagai dimensi ilahiah yang terdapat pada diri setiap manusia.
Sebagai turunan dari prinsip-prinsip tersebut, kaum romantik kemudian identik sebagai orang-orang yang cinta kebebasan, imajinatif, individualis, penuh gairah, sentimental, idealis, pembangkang, dan pada puncaknya adalah profetik. Kaum romantik hidup di dunia impian lewat idealisme dan kebebasannya, tapi sekaligus juga di dunia real lewat aktivitas profetiknya yang ingin menyelamatkan dunia dari penyakit-penyakit modernisme. Ketegangan antara dua dunia ini kemudian memunculkan resep kembali ke alam dan masuk ke alam batin pada kaum romantik, yang dalam pengertian tertentu bisa dimaknai sebagai cita-cita kembali ke masa lalu. Masa lalu adalah suci, sehat, sementara masa kini adalah tercemar, sakit. Meski masa lalu adalah cita-cita yang ideal, ia sejatinya juga nyata, pernah eksis di muka bumi. Maka, hal ini menjadikan pula kaum romantik sebagai orang-orang yang candu nostalgia.
Gagasan mengenai dunia real versus dunia ideal sebenarnya berakar jauh pada gagasan mengenai “surga yang hilang” dalam ajaran-ajaran agama samawi. Sebagai sesuatu yang pernah dimiliki, surga yang hilang dalam karya-karya romantik semakna juga dengan kampung halaman, negeri yang telah lama ditinggalkan karena pengembaraan yang begitu jauh.
Karena kesusastraan Eropa modern merupakan ayah kandung bagi kesusastraan Arab modern yang baru lahir tak lama kemudian, maka visi romantisisme yang terkandung di dalamnya juga menjadi bagian penting dalam kandungan karya-karya sastra Arab modern tersebut. Tak hanya itu, dalam kesusastraan Arab modern kemudian dikenal pula mazhab romantisisme. Salah satu tokoh utamanya yaitu Jubran Khalil Jubran, alias Kahlil Gibran. Di samping itu, meski tidak sepenuhnya identik dengan gerakan romantisisme, ada juga Taufik El-Hakim yang banyak menulis karya sastra bernafaskan semangat romantisisme.
Pada tulisan ini kiprah kedua sastrawan tersebut akan diperbincangkan dalam kerangka visi romantisisme yang menjadi semangat zaman (zeitgeist) masa itu. Meski keduanya berasal dari negara yang berbeda, baik Gibran maupun Taufik merupakan sastrawan Arab terkemuka yang sama-sama memainkan peran penting pada masa-masa awal/menjelang kemunculan kesusastraan Arab modern pada awal abad kedua puluh. Gibran lahir di Lebanon pada 1883, sementara Taufik lahir di Mesir pada 1898.
Kahlil Gibran dan Cinta yang Menuntun dalam Hati
Kahlil Gibran merupakan sastrawan romantik terbesar dari dunia Arab. Visi romantisisme tentang surga yang hilang dan cinta sebagai penuntun menujunya sudah tampak gamblang pada karya-karya awal Gibran, misalnya dalam novel Al-Ajnihah al-Mutakassirah (1912). Novel Sayap-Sayap Patah–begitulah terjemahannya dalam bahasa Indonesia–bercerita tentang hubungan cinta sepasang remaja yang tak berdaya melawan liciknya tokoh-tokoh agama bertopeng kesucian. Gibran dan Selma Karamy adalah sepasang remaja itu. Mereka jatuh cinta sejak pandangan pertama ketika Gibran mengunjungi rumah Selma untuk menjenguk ayah Selma yang merupakan teman lama ayah Gibran yang sudah meninggal. Ayah Selma, Faris Effandi Karamy, sangat senang dengan Gibran, sehingga hubungan Gibran dan Selma dari waktu ke waktu semakin akrab dan mesra. Namun, suatu hari Uskup Bulos Galib meminta Faris untuk mau menikahkan Selma dengan keponakannya, Mansour Bey Galib. Permintaan tersebut tak bisa ditolak sebab, seperti kata Gibran, “Di Lebanon tak ada orang Kristen yang bisa melawan uskupnya tanpa terganggu kedudukannya.” Maka, pernikahan itu pun terjadi, dan Gibran harus merelakan cintanya pada Selma patah di tengah jalan. Kondisinya semakin buruk lagi bagi Gibran ketika Selma akhirnya meninggal beberapa waktu kemudian. Sejak tahu bahwa pernikahan itu harus terjadi, Selma selalu rusuh hatinya, tertekan batinnya, sebab ia tak pernah bisa merelakan cintanya pada Gibran, sementara ia pun juga tak pernah bisa mencintai suaminya, Mansour Bey Galib. Begitulah kisah mereka berakhir tragis, dan Gibran kemudian hanya bisa melanjutkan hidupnya dalam kemurungan.
Sewaktu Gibran mula-mula jatuh cinta pada Selma, ia menggambarkan pertemuan mereka seperti kisah Adam dan Hawa ketika di surga. Gibran berkata sebagai berikut.
Aku sedang menjelajah alam pikiran dan merenung untuk memahami arti dari alam dan wahyu buku-buku, dan tulisan-tulisan ketika aku mendengar CINTA berbisik di telingaku melalui bibir Selma. Kehidupanku sekarat, kosong bagai hati Adam di surga, ketika aku melihat Selma berdiri di hadapanku seperti pilar cahaya. Ia adalah Hawa hatiku yang mengisinya dengan rahasia dan membuatku memahami arti kehidupan.
Awalnya Hawa membawa Adam keluar dari surga atas kehendaknya sendiri, sementara Selma membuatku memasuki surga cinta yang suci dan kebahagiaan oleh manis dan cintanya; tapi apa yang terjadi pada manusia pertama itu juga terjadi padaku, dan pedang tajam yang membawa Adam keluar dari surga seperti seseorang yang menakutiku dengan ujung yang berkilau, dan memaksaku dari surga cintaku tanpa harus melanggar peraturan atau merasakan buah dari pohon terlarang.
Cara Gibran menggambarkan kisah cintanya dengan Selma jelas terlihat sangat romantik. Ia merujuk langsung pada kisah cinta Adam dan Hawa yang menjadi sumber bagi wacana “surga yang hilang” dalam visi romantisisme. Seperti umum diketahui melalui kitab suci agama-agama samawi, Adam dan Hawa merupakan pasangan ideal yang awalnya menghuni surga dengan penuh kenikmatan. Namun, setelah melanggar perintah Tuhan, mereka diusir dari surga dan harus menjalani hidup yang penuh masalah di muka bumi. Ketika Gibran juga kehilangan cintanya akibat kelicikan Uskup Bulos Galib, ia juga membayangkan dirinya terusir dari surga sebagai berikut.
Kepergianku seperti turunnya Adam dari surga, namun Hawa dari hatiku tidak bersamaku untuk membuat seluruh dunia menjadi Eden. Malam itu, di saat aku terlahir kembali, aku merasakan wajah kematian untuk yang pertama kalinya.
Bagi Gibran, dunia ideal itu adalah surga tempat ia dan Selma memadu cinta, seperti surga dalam kisah Adam dan Hawa dulu. Namun, kemudian mereka harus menghadapi dunia real tempat Selma dan Mansour Bey Galib harus menikah, sehingga Gibran (dan Selma) kehilangan surga mereka, seolah mereka telah terusir dari sana seperti Adam dan Hawa juga pernah terusir sebelumnya. Cinta yang bersambut adalah faktor utama yang membuat mereka mengalami surga, sementara cinta yang kandas adalah faktor utama yang membuat mereka kehilangan surga.
Dalam visi romantisisme, cinta memang menempati posisi sangat penting, bahkan bisa disebut sebagai inti romantisisme. Kaum romantik percaya bahwa cintalah yang akan membawa manusia kembali ke dunia ideal. Cintalah yang akan menyelamatkan dunia dari berbagai macam kebobrokan. Seperti pandangan Gibran: cinta merupakan fitrah sekaligus dasar eksistensi manusia. Tidak berpegang pada cinta sama dengan tidak berpegang pada fitrah, hukum alam, sehingga niscaya kerusakanlah yang akan terjadi di muka bumi. Sebagai dasar eksistensi, cinta harus meliputi segala sesuatu, termasuk apa pun aktivitas manusia, supaya kehidupan bisa senantiasa berjalan dalam harmoni. Terkait hal ini Gibran berkata dalam buku Sang Nabi sebagai berikut.
Kerja adalah cinta yang mengejawantah.
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan,
Maka lebih baik jika kau meninggalkannya,
Lalu mengambil tempat di depan gapura candi,
Meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan sukacita.
Dalam banyak konteks, cinta itu bagi kaum romantik identik dengan kekuatan ilahiah. Dengan kata lain, cinta itu identik dengan perasaan yang murni; perasaan yang murni identik dengan urusan hati; sementara suara hati identik dengan suara ilahi. Dalam Alkitab hal tersebut juga disebutkan secara implisit, “Kerajaan Tuhan ada dalam hati manusia” (Lukas 17: 21). Dengan mengikuti dorongan cinta, itu berarti sama dengan mengikuti suara hati, yang sejatinya berasal dari Tuhan, sementara Tuhan merupakan sumber kebenaran; sumber keselamatan bagi segala makhluk ciptaan-Nya. Maka, dalam karya-karya Gibran kita bisa juga menemukan banyak ungkapan yang menyaran pada kekuatan cinta sebagai penuntun manusia menuju kebenaran dan keselamatan. Misalnya, sepenggal puisi dalam buku Sang Nabi berikut.
Jika cinta memanggilmu, ikutilah dia,
meskipun jalannya sulit dan terjal.
Dan ketika sayap-sayapnya merangkulmu, menyerahlah padanya,
meskipun pedang yang terselip di antara ujung-ujung sayapnya mungkin melukaimu.
Kaum romantik adalah orang-orang yang berpedoman pada panggilan cinta dalam hatinya. Namun, itu bukan persoalan mudah pula. Jika konteks awal munculnya gerakan romantisisme adalah “perlawanan terhadap standar etika dan estetika yang telah mapan”, maka cinta yang dimaksud oleh kaum romantik adalah dorongan yang sebenarnya bertentangan dengan “standar etika dan estetika” lama/sebelumnya. Artinya, cinta yang diikuti kaum romantik membawa mereka pada pertentangan-pertentangan yang merepotkan dalam masyarakat.
Cara pandang lama, dengan berbagai nilai yang dibawanya, telah membelenggu dan merusak umat manusia karena ia berdasar pada rasionalitas akal, bukan cinta kasih dalam hati. Manusia diperlakukan tidak dengan perasaan, tidak manusiawi, sehingga berbagai macam kejahatan, termasuk nantinya kolonialisme, berlangsung dengan langgengnya. Maka, keburukan inilah yang ditentang oleh romantisisme. Bagi kaum romantik, orang-orang harus mengikuti tuntunan cinta dalam hatinya supaya mereka bisa memperoleh kembali “surga yang hilang” di muka bumi.
Pada titik ini cinta menemukan makna spesifik lainnya, yakni kekuatan pembebasan. Cintalah yang akan membebaskan umat manusia dari kebobrokan zaman yang tengah membelenggu. Karena itu, dalam karya-karya Gibran cinta sering kali juga dimetaforakan sebagai sesuatu yang bersayap. Misalnya, dalam novel Sayap-Sayap Patah ia menulis, “Mereka yang cintanya tidak diberi sayap tidak dapat terbang di balik awan untuk melihat keajaiban dunia di mana jiwa Selma dan jiwaku bersatu dalam saat indah yang penuh penderitaan. Mereka yang cintanya tidak dipilih sebagai pengikut tidak akan mendengar ketika cinta memanggil.”
Semakna dengan sesuatu yang bersayap, cinta juga dibayangkan Gibran sebagai kebebasan yang sejati. Misalnya, dalam buku Sang Nabi ia menulis, “Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta adalah gairah yang tidak dapat dihalangi oleh hukum manusia dan fenomena alam.”
Jika ide-ide utama dalam visi romantisisme dipahami secara komprehensif, maka keterkaitan antar ide tersebut akan tampak sebagai satu-kesatuan konsep yang koheren. Dengan kata lain, mengikuti tuntunan cinta berarti sama dengan menjalani hidup sesuai dengan tuntunan hati nurani; sesuai pula dengan menjalani hidup secara bebas, sementara hidup yang bebas dalam konteks romantisisme sama pula artinya dengan hidup dengan keberanian memberontak. Apa yang diberontak? Cara hidup lama yang tidak mendasarkan nilai-nilainya pada keagungan cinta sebagai fitrah alam semesta.
Di antara karya-karya Gibran yang sangat banyak, buku Al-Arwah al-Mutamarridah (Jiwa-Jiwa Pemberontak) barangkali adalah karya paling politis dan subversif yang pernah ia tulis. Karena sangat terang-terangan menunjukkan kemuakan dan kemarahan atas kondisi buruk masyarakat Lebanon masa itu, seperti juga sudah tampak jelas pada judulnya, buku Jiwa-Jiwa Pemberontak sempat dilarang beredar oleh Gereja Lebanon dan Rezim Otoman yang sedang berkuasa.
Meski kaum romantik mengamini semangat pembangkangan terhadap tatanan lama, mereka bukanlah tipe pembangkang yang percaya pada apa pun bentuk kekerasan untuk mewujudkan perubahan-perubahan positif di masyarakat. Seperti telah dijelaskan di muka, Gibran adalah intelektual romantik yang percaya pada kekuatan cinta untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Baginya, cinta adalah fitrah manusia, bahkan seluruh alam semesta berjalan dalam tuntunan cinta. Karena cinta identik dengan kelembutan kasih-sayang, ia tentu bertentangan dengan kekerasan yang identik dengan ketiadaan kasih-sayang. Maka, perjuangan politis Gibran sebenarnya lebih cenderung berkutat pada upaya-upaya menumbuhkan kesadaran penuh cinta pada sebanyak mungkin manusia di muka bumi. Dengan begitu, ia sendiri tak ubahnya pula seperti seorang nabi yang tak lelah-lelahnya menebarkan cinta kasih pada sesama dan sekalian alam. Motivasi profetiknya itu bahkan sangat jelas terlihat melalui beberapa buku yang ia tulis, seperti The Prophet (1923), Jesus the Son of Man (1928), dan The Garden of The Prophet (1933).
Bagaimanapun, ia percaya bahwa pada dasarnya manusia, seperti juga alam semesta secara keseluruhan, punya fitrah yang seirama dengan cinta. Karena cinta itu baik, maka manusia pun sejatinya juga baik. Itulah kenapa ia tidak setuju jika keburukan harus dibalas dengan keburukan pula sebagai bentuk keadilan. Tentang fitrah manusia sebagai kebaikan, Gibran menulis sepenggal puisi berikut dalam buku Sang Nabi.
Tentang kebaikan dalam diri kalian aku dapat berkata, tetapi tidak tentang keburukan.
Karena apa itu keburukan, selain kebaikan yang dianiaya oleh lapar dan dahaga?
Sebenarnya kebaikan adalah kelaparan yang mencari makanan bahkan dalam gua yang gelap dan ketika dahaga ia minum dari genangan air.
Kau adalah kebaikan bila kau menyatu dengan dirimu sendiri. Ketika kau tidak menyatu dengan dirimu sendiri kau adalah keburukan.
Taufik El-Hakim dan Setan yang Menyesatkan dalam Pikiran
Dalam Taurat, Injil, serta Al-Quran, kisah cinta Adam dan Hawa selalu identik dengan antagonis yang bernama Iblis laknatullah. Iblis adalah perusak kebahagiaan Adam dan Hawa, serta penyebab mereka kehilangan surga dan terpaksa menjalani hidup penuh masalah di muka bumi. Dengan begitu, Iblis pun menjadi musuh yang nyata bagi Adam dan anak cucunya kemudian–sampai kiamat. Iblis selalu berusaha menjerumuskan umat manusia ke dalam kehinaan. Modalnya yang utama: tipu daya cerdik. Ia menjadikan tampak benar apa yang sebenarnya salah, dan ia menjadikan tampak indah apa yang sebenarnya buruk. Jika manusia berhasil dijerumuskan Iblis ke dalam kehinaan, ia otomatis bisa dikatakan telah jauh dari fitrah. Jika begitu, ia pun telah jauh dari cinta. Maka, teranglah bahwa Iblis sebenarnya berusaha menutupi hati manusia dalam upayanya menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan; atau menjauhkan manusia dari fitrah. Dengan begitu, pembahasan tentang kekuatan cinta dalam visi romantisisme akan kurang lengkap rasanya jika ia tidak dibarengi dengan pembahasan tentang kekuatan setan yang secara prinsip berlawanan dengannya. Jika pembahasan pertama diwakili oleh karya-karya Gibran yang banyak menyarankan sifat cinta sebagai penuntun manusia menuju keselamatan, maka pembahasan kedua akan diwakili oleh karya-karya Taufik El-Hakim yang sering mengajak pembaca merenungi sifat setan sebagai penyesat manusia di muka bumi.
Taufik El-Hakim adalah sastrawan yang cukup serius memberikan perhatian terhadap hubungan manusia dengan setan dalam kehidupan sehari-hari. Ia setidaknya menulis enam cerpen dan satu naskah drama dengan tokoh utama adalah setan. Enam cerpen tersebut, yaitu “Al-Syahid” (Martir), ‘”Ahd al-Syaitan” (Sumpah Setan), “Fi Hanat al-Hayat” (Pada Bar Kehidupan), “Imraatun Galibat al-Syaitan” (Wanita yang Mengalahkan Setan), “Wakaanat al-Dunyaa!” (Dan Dunia Pun Ada!), dan “Iblisu Yantashiru” (Kemenangan Iblis). Adapun satu naskah drama sisanya yaitu Al-Syaitan fi Khatar (Setan dalam Bahaya).
Cerpen “Martir” merupakan karya yang kontroversial. Ceritanya menampilkan tokoh Setan sebagai makhluk yang ingin bertobat karena ia begitu cinta kepada Tuhan. Ia mendatangi Paus di Vatikan, Rabi Yahudi, dan Syekh Al-Azhar untuk mendapatkan bantuan pertobatan, tapi ketiga pemimpin agama samawi tersebut sama-sama menolaknya. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana jadinya agama tanpa eksistensi Setan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Jika Setan berhenti berusaha menyesatkan manusia, maka agama akan kehilangan fungsinya sebagai pedoman menuju jalan yang benar. Dengan kata lain, agama akan bubar dengan sendirinya. Itu tidak boleh terjadi. Makanya, tokoh-tokoh agama tersebut menginginkan Setan untuk tetap menjalankan peranannya seperti sebelumnya.
Lantas, Setan pun protes kepada Jibril. Ia merasa seperti makhluk sial yang harus menanggung peran sebagai penggoda dan penyesat umat manusia hingga kiamat. Kenapa harus ia yang mendapatkan peran tersebut? Kenapa harus ia yang dikorbankan? Setan berusaha menunjukkan kepada Jibril bahwa ia sebenarnya tidak bermaksud buruk terhadap manusia. Ia hanya menjalankan peran yang sudah dipilihkan untuknya, sekalipun ia merasa sangat keberatan untuk itu. Makanya, untuk menghibur diri, ia berkata dengan yakin, “Aku seorang martir! Aku seorang martir…!”
Apa yang diperbuat Setan dalam cerpen ini benar-benar bisa membuat pembaca jadi termenung senyap. Sikap Setan berangkat dari suatu kelogisan berpikir yang sulit dibantah, terutama dalam perspektif doktrin agama samawi yang menakdirkannya bermusuhan abadi dengan Sang Pencipta dan manusia. Jika Setan tetap akan menderita ketika nanti disiksa di neraka, kenapa ia ditakdirkan untuk menjadi penghuni neraka? Jika ia bernasib begitu karena pernah membangkang kepada Tuhan, kenapa semua keturunannya juga harus ikut-ikutan menanggung penderitaan abadi yang sama? Bukankah mereka hanya ditakdirkan sebagai anak-cucu Setan yang sudah telanjur jadi makhluk terkutuk? Apakah itu adil bagi mereka? Kenapa anak-cucu Setan tidak dapat menghindari kutukan leluhur mereka melalui pertobatan? Atau, kenapa mereka tidak dilahirkan sebagai anak-cucu Adam saja yang masih punya pilihan bebas untuk menjadi baik atau buruk?
Oh, dari kalangan manusia tentu ada juga yang berstatus setan. Mereka adalah orang-orang yang menjauhkan orang lain dari Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mencelakakan orang lain dengan penuh kesadaran. Namun, dengan cara berpikir Setan seperti dalam cerpen “Martir”, sebenarnya bisa muncul pula persoalan-persoalan serupa yang tak kalah rumit. Misalnya, jika seseorang ditakdirkan mengalami musibah, katakanlah kemalingan, bukankah dalam takdir tersebut dengan sendirinya mutlak disyaratkan ada orang lain yang mesti menjadi maling? Sangat mustahil bisa terjadi kemalingan tanpa ada, setidaknya, seseorang yang menjadi korban dan orang lain yang menjadi pelaku. Bagaimanapun, kejahatan niscaya tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Kejahatan membutuhkan setidaknya dua pihak dalam satu paket: satu sebagai korban dan satu lainnya sebagai pelaku.
Dengan cara yang sama, logika tersebut juga berlaku pada peristiwa-peristiwa kejahatan lainnya, seperti pembunuhan, penindasan, penghinaan, penipuan, dan seterusnya. Jika peristiwa-peristiwa semacam itu disebut sebagai takdir bagi korban yang mengalaminya, maka secara bersamaan itu juga menjadi takdir bagi pelakunya. Keduanya mengalami satu takdir yang sama, yakni peristiwa kejahatan, tapi dalam peran berbeda: korban dan pelaku. Maka, jika semua pelaku tersebut disebut sebagai penjahat, bukankah mereka sebenarnya adalah orang-orang yang mesti menjalankan peran antagonis belaka supaya peristiwa yang ditakdirkan dapat terjadi? Dengan kata lain, mereka adalah korban-korban keniscayaan takdir. Tepat di sini, mereka mirip dengan tokoh Setan yang akhirnya menganggap dirinya seorang martir.
Lalu, apakah Taufik El-Hakim memang menulis cerpen “Martir” untuk membela Setan sebagai korban takdir belaka, alias martir, atau mungkin malah ada maksud lain? Tentu jawabannya tidak akan bisa dengan mudah dan gamblang diberikan. Yang jelas, kita mesti membacanya dengan hati-hati. Selain itu, kita dapat pula mencari penjelasan alternatif dengan merujuk pada karya-karya Taufik lainnya yang menghadirkan tokoh Setan sebagai tokoh utamanya.
Dalam buku yang sama, tokoh Setan lainnya muncul pada cerpen “Wakaanat al-Dunyaa!” (Dan Dunia Pun Ada!) dan “Imraatun Galibat al-Syaitan” (Wanita yang Mengalahkan Setan). Cerpen “Dan Dunia Pun Ada!” merupakan parodi bagi kisah penciptaan Hawa sewaktu di surga. Karena kecongkakan dan perasaan paling istimewa di antara semua makhluk Allah, Iblis menolak perintah sujud kepada Adam. Ia bahkan ingin membuktikan bahwa ia pun bisa menciptakan manusia serupa Adam, dengan tiupan rohnya sendiri untuk menghidupkan ciptaannya. Lagi pula, ia merupakan “malaikat tercerdas dan berilmu paling banyak”.
Setelah berkali-kali gagal menciptakan manusia dari tanah, Setan menemukan cara lain yang efektif, yaitu dengan menggunakan sebagian tubuh Adam yang jelas-jelas sudah hidup. Untuk itu, ia harus melakukan pencurian secara diam-diam. Supaya aksinya berhasil, Iblis mencuri salah satu tulang rusuk Adam sewaktu Adam sedang lelap dalam tidur. Tulang rusuk Adam jumlahnya cukup banyak dan letaknya juga tersembunyi, sehingga jika salah satunya hilang dicuri Iblis, itu pun yang ukurannya paling pendek, Adam tidak akan menyadarinya sebagai kehilangan.
Singkat cerita, Iblis akhirnya berhasil menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Karena diciptakan oleh Iblis, Hawa juga mewarisi sejumlah sifat Iblis dalam dirinya, khususnya “kecerobohan, kesembronoan, ketergesaan, dan membakar”. Lalu, Hawa juga mewarisi keahlian utama Iblis, yaitu “kekuatan rayuan dan tipu muslihat”. Di sinilah awal mula masalah umat manusia terjadi. Melalui ciptaannya, Hawa, Iblis berhasil memperdaya Adam untuk melanggar larangan Allah, yaitu memakan buah pohon terlarang. Karena buah itu memabukkan, Adam pun jadi lupa diri dan ia menyetubuhi Hawa hingga hamil. Tak lama setelah Adam dan Hawa terusir dari surga, Hawa melahirkan janin pertama di bumi. Sejak itu, Adam dan Hawa terus beranak-pinak, dan pada diri keturunan-keturunan Adam tersebut sudah bercampur-baur unsur-unsur Adam dan unsur-unsur Hawa tanpa bisa dipilah-pilah lagi, yaitu “kebaikan, keburukan, keindahan, kejelekan, kehinaan, keluhuran, ketakberartian, keagungan, keadilan, kezaliman, akal, kecerobohan, kelemahan dan kepongahan”. Semuanya jadi satu dalam diri anak-cucu Adam. Begitulah kemudian “dunia pun ada!”
Meski cerpen ini bisa disebut sebagai parodi, setidaknya kita bisa menggarisbawahi salah satu pandangan penting Taufik di sini, yakni bahwa Setan adalah sumber kejahatan, dan kecenderungan padanya merupakan potensi yang laten dalam diri setiap manusia. Dengan kata lain, Setan merupakan sesuatu yang dipandang begitu dekat dengan hakikat kemanusiaan.
Sementara itu, cerpen “Wanita yang Mengalahkan Setan” bercerita tentang seorang wanita yang meminta bantuan Setan untuk bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia. Sebagai gantinya, ia menjanjikan ruhnya kepada Setan untuk dibawa ke neraka jahanam setelah ia mati nanti. Namun, kebahagiaan yang ia minta ternyata juga mencakup kebahagiaan rohani yang berasal dari ketaatan beribadah kepada Allah, setidaknya pada masa-masa terakhir kehidupannya. Karena wafatnya husnul khatimah, roh wanita tersebut akhirnya diselamatkan malaikat surga sewaktu Setan hendak membawanya ke neraka. Di sini si wanita berhasil lolos dari tipu daya Setan, bahkan memanfaatkannya dengan sangat cerdik, dan karena itu ia disebut “mengalahkan Setan”.
Secara umum, pada cerpen ini tokoh Setan juga dengan gamblang ditampilkan sebagai kekuatan jahat yang suka menjerumuskan manusia pada kesesatan. Ia menawarkan kemudahan, atau keinstanan dalam meraih keinginan yang sebenarnya begitu sulit, atau bahkan juga mustahil, dengan harga yang seolah-olah murah, padahal tak terkira mahalnya, yaitu jiwa.
Bagaimanapun, cerpen ini jelas banyak berutang ide pada kisah Faust karya Goethe, seperti juga tampak pada cerpen Taufik lainnya, yaitu “Sumpah Setan” dalam buku ‘Ahd al-Syaitan. Alusi dalam cerpen “Sumpah Setan” sangat kentara sebab tokoh utama dalam cerita bertemu dengan Setan setelah ia membaca buku Faust karangan Goethe, dan ia ingin menjadi seperti Dr. Faust apa pun itu risikonya. Hanya saja, berbeda dengan cerpen “Wanita yang Mengalahkan Setan”, tokoh utama dalam cerpen ini tidak disebutkan berhasil lolos dari tipu daya Setan yang telah melayaninya untuk mendapatkan berbagai macam kenikmatan dunia sebelum ajal menjelang.
Secara ringkas, drama Faust karya Goethe bisa dikatakan sebagai kisah tentang pencarian pengetahuan, kekuasaan, cinta, dan penebusan. Faust, tokoh utama dalam cerita, merupakan seorang cendekiawan yang sudah berpuluh-puluh tahun menekuni ilmu pengetahuan, tetap melajang di usianya yang sudah sangat tua, tapi tetap saja belum puas dengan segala pengetahuan yang ia miliki. Ia merasa bahwa hidupnya begitu hampa, tidak bermakna, sehingga pernah juga terpikir olehnya untuk melakukan bunuh diri.
Suatu hari Faust bertemu dengan sesosok setan bernama Mephistopheles. Setan itu menawarkan kesepakatan kepada Faust: ia akan menjadi pelayan Faust di dunia, melimpahinya dengan kenikmatan duniawi, tapi sebagai gantinya Faust mesti menyerahkan jiwanya ke setan itu di akhirat. Tergoda oleh kenikmatan yang dijanjikan, Faust pun membuat kesepakatan dengan setan itu. Ia telah menggadaikan jiwanya demi segala ambisi duniawi yang tidak pernah ada habisnya.
Setelah menjadi muda kembali, Faust menjalani berbagai pengalaman luar biasa dengan dibantu Mephistopheles sebagai pelayannya. Meski benar-benar senang dengan segala pencapaian yang ia raih, Faust segera tersadar bahwa kepuasan yang ia miliki sebenarnya begitu semu. Kesepakatannya dengan Mephistopheles merupakan kesalahan besar. Ia telah meninggalkan ajaran Kristen, dan itu membuatnya sangat menyesal. Dengan sisa usia yang masih ada, Faust kemudian melakukan banyak kebaikan dengan ilmu pengetahuan yang ia punya. Karena itu, sewaktu Faust tutup usia dan jiwanya hendak dibawa Mephistopheles ke neraka, malaikat surga tiba-tiba menyelamatkannya.
Secara umum, kisah Faust ini sering kali dibayangkan sebagai simbol dari semangat manusia yang terus-menerus berusaha melampaui ketidakmungkinan, sekaligus peringatan tentang bahaya dari ambisi yang tak terkendali. Karena juga identik dengan prinsip penghalalan segala cara demi meraih apa pun tujuan duniawi, ia sangat cocok menjadi kiasan bagi semangat zaman modern di Eropa yang juga sangat haus dengan ilmu pengetahuan, ambisi tanpa batas untuk menguasai dunia, sehingga melahirkan sejumlah dampak buruk, seperti krisis moral, kerusakan alam, kolonialisme, perang dunia, dan sebagainya.
Ketika Taufik El-Hakim menulis beberapa cerpen yang secara implisit ataupun eksplisit merujuk pada kisah Faust, ia bisa dibayangkan sedang mengajak orang-orang untuk memikirkan ulang semangat zaman modern yang sedang melanda seluruh dunia, termasuk bagaimana dampak buruknya bagi dunia Arab melalui kolonialisme pada masa itu. Persis di sini cerpen-cerpen dengan tokoh Setan yang ditulis Taufik jadi relevan dengan visi romantisisme yang juga bersikap kritis terhadap peradaban modern yang penuh toksik bagi kemanusiaan.
Seperti telah disebut di bagian awal, romantisisme mulanya merupakan “perlawanan terhadap standar etika dan estetika yang telah mapan”, yang pada dasarnya sangat kuat dipengaruhi oleh rasionalisme Abad Pencerahan ketika sains menemukan kejayaannya, dan peradaban umat manusia mulai memasuki era modern. Jadi, semangat romantisisme bisa dibilang adalah semangat yang bersikap kritis terhadap semangat zaman modern. Karena modernisme mengutamakan rasio/akal sebagai standar etika dan estetika, romantisisme menawarkan perasaan/cinta sebagai standar baru. Dengan begitu, secara implisit romantisisme sebenarnya punya ketidakpercayaan begitu saja pada keagungan akal sebagai keistimewaan manusia seperti yang dibangga-banggakan orang modern. Rasionalitas yang terlalu dominan ternyata mendatangkan banyak masalah.
Sebagian ciri zaman modern adalah cara pandang yang materialistik. Meski di satu sisi itu membuat sains jadi lebih cepat berkembang, di sisi lain ia juga ikut menyuburkan ateisme di Eropa. Agama ramai-ramai ditinggalkan dan Tuhan makin dilupakan, atau sekadar dikenang sebagai omong kosong saja. Karena agama makin kehilangan fungsi, maka sistem moral pun jadi makin berantakan. Bermacam-macam ideologi kemudian muncul dari akal-akal besar Eropa untuk menggantikan posisi yang sebelumnya ditempati agama. Singkat kata, kebenaran jadi relatif, dan setiap orang punya kebebasan berpendapat. Lalu, dalam kacau balau dan kekaburan kebenaran tersebut menyusup pula banyak kepentingan yang intinya ingin memperoleh kekuasaan bagaimanapun caranya, selama itu masuk akal. Dengan begitu, akhirnya muncullah segala macam ekses modernisme tersebut, yang ujung-ujungnya menjadikan dunia sebagai tempat yang begitu sumpek untuk ditempati.
Jika kita kembali pada cerpen “Martir” yang menampilkan tokoh Setan sebagai makhluk kontroversial, kita akan ingat bahwa ia menjadi begitu karena ia sangat berpegang pada akal, khususnya logika. Argumen dasarnya dalam mengajukan protes sangat logis dan cerdas, sehingga kita pun jadi termenung senyap menyikapinya. Tapi, barangkali memang pengalaman-mengguncang-akidah semacam itulah yang ingin ditawarkan Taufik pada pembacanya. Artinya, ia ingin menunjukkan bahwa Setan benar-benar begitu lihai dalam mengelabui pikiran manusia, terlebih-lebih jika manusia hanya bergantung pada akal semata dalam hidup.
Kesangsian Taufik terhadap keistimewaan akal (dan sains) bagi peradaban manusia sebenarnya sangat banyak termanifestasi dalam sejumlah karyanya, termasuk karya-karya terpentingnya. Bahkan, tidaklah keliru pula mengatakan bahwa pengagungan hati (identik dengan bangsa Timur) di atas akal (identik dengan bangsa Barat) merupakan gagasan utama bagi kebanyakan karya sastra yang ditulisnya sepanjang hidup. Misalnya, dalam novel ‘Usfur min al-Sharq (Burung Pipit dari Timur) Taufik berkata melalui tokoh Ivan bahwa sains Eropa “hanyalah bualan sepanjang sejarah”, “mainan dari kaleng dan kaca yang telah memberi orang-orang beberapa kenyamanan dalam keseharian mereka, tapi memundurkan kemanusiaan, dan merampasnya dari kodrat yang sejati, puisinya, dan kesucian jiwa …” Pada novel pentingnya yang lain, Awdat ar-Ruh (Kembalinya Roh) Taufik juga menulis sebuah dialog sebagai berikut.
“Ini [Mesir] adalah bangsa kuno. Jika kau buka hati salah seorang petani, kau akan menemukan di dalamnya sisa-sisa pengalaman dan pengetahuan selama sepuluh ribu tahun, lapisan di atas lapisan, yang tidak ia sadari. […] Jika kau buka hati seorang Eropa, kau akan menemukan kekosongan. […] mereka tak punya warisan [peradaban], tidak ada masa lalu untuk diingat secara tidak sadar … Satu-satunya kekuatan Eropa ada pada akal, mesin terbatas yang kita gunakan sendiri. Adapun Mesir, kekuatannya ada pada hati, yang dalamnya tak terkira.”
Jadi, Taufik tak ingin silau oleh segala keyakinan modernisme yang mengutamakan akal/rasio seperti yang terjadi pada bangsa Barat ketika mereka membanggakan kemajuan sains dan mendominasi berbagai belahan dunia melalui kolonialisme. Bahkan, Taufik secara rajin berusaha mengkritik keyakinan tersebut melalui karya-karya sastranya, lewat berbagai macam cerita, termasuk kisah Setan yang punya argumen sebagai martir dalam cerpen “Martir” yang kontroversial itu.
Bukankah ekses-ekses modernisme yang jelas-jelas mengacaukan tatanan nilai global itu merupakan hal-hal yang memang selaras dengan misi Setan sebagai penyesat abadi umat manusia di dunia? Seperti prasangka-prasangka buruk yang menjadi racun dalam pikiran manusia, bukankah tipu daya Setan juga telah menjauhkan/menghalangi manusia dari cinta kasih, sehingga sering memicu permusuhan antarsesama, membuat kedamaian menjadi langka, dan surga yang dicita-citakan tetap menjadi hilang di muka bumi?
Sebagai penutup, baik juga kita simak kutipan dari cerpen Taufik, “Terusir dari Firdaus” berikut.
“Oh, ternyata Firdaus bukanlah di langit sana. Bukan pula yang berdiri di jalan Imaduddin. Firdaus yang sebenarnya bersemayam di lubuk hati. Barangkali jahanam juga demikian.”
REFERENSI
Bertrand Russell. 2010. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fahruddin Faiz. 2022. Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran. Yogyakarta: MJS Press.
Faruk. 2016. Novel Indonesia, Kolonialisme dan Ideologi Emansipatoris. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Helvy Tiana Rosa. 2002. Wanita yang Mengalahkan Setan: Taufiq al Hakim, Cerpen, dan Tokoh Setan. Magelang: Tamboer Press.
Iftitah. 2022. Teori Kesusastraan Arab: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.
Kahlil Gibran. 2010. Rahasia Hati Sang Nabi: Karya Terpilih. (Anton Kurnia, Trans). Bandung: Penerbit Nuansa.
Paul Starkey. 1977. “Philosophical Themes in Tawfiq Al-Hakim’s Drama”. Journal of Arabic Literature, Vol. 8, 136-152.
Rasheed El-Enany. 2000. “Tawfiq al-Hakim and the West: A New Assessment of the Relationship”. British Journal of Middle Eastern Studies, Vol. 27, No. 2, 165-175
Taufiq El Hakim. 2003. Malam Pengantin. (Khalifurrahman Fath, Terj). Yogyakarta: Navila.
Taufiq El Hakim. 2008. Dalam Perjamuan Cinta. Jakarta: Republika.
