Hamzah Fansuri dan Teori Penciptaan Alam Semesta

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.
[Q.S. Al-Anbiya: 30]

Di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, makam Hamzah Fansuri tampak megah dalam keheningannya. Di belakangnya sungai Lae Souraya mengalir tenang menuju Samudra Hindia. Lihatlah, sepasang perahu kecil tertambat di pinggirannya. Sekonyong-konyong baris-baris “Syair Perahu” pun terbayang-bayang dalam hati.

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil hidupmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal hidupmu

Perahu Hamzah Fansuri telah lalu ratusan tahun lampau. Di horizon tiada lagi ia tampak. Kini yang tertinggal ialah karya-karya dan ajaran-ajarannya yang terus mengalirkan pahala jariyah ke pelabuhan Sang Syekh nun jauh di dunia sana. Kita masih membaca syair-syairnya yang dengan ajaib bisa bertahan melewati rentang tempo yang begitu panjang. Lebih ajaib lagi, kita masih takjub dengan kecanggihan gagasan yang bersemayam dalam syair-syair tersebut. Mungkin karena itulah ia dianggap sejumlah orang sebagai waliyullah.

Tidak ada yang tahu pasti kapan pastinya Hamzah Fansuri lahir dan wafat di muka bumi. Bahkan, tempat ia lahir dan wafat pun juga tidak pernah benar-benar jelas. Sejumlah pakar berusaha menduga-duga berdasarkan tulisan-tulisannya yang bertahan.

Hasilnya, ia hampir bisa dipastikan hidup pada abad keenam belas, dan sudah menjadi tokoh terkenal di Aceh Darussalam pada awal abad ketujuh belas, seperti tampak pada tulisan-tulisan Nuruddin Ar-Raniri. Dengan begitu, kita pun bisa membayangkan bahwa Hamzah Fansuri mungkin sudah menjadi ulama penting pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Ri’ayat Shah Al Mukamil (berkuasa 1589–1604), kakek Sultan Iskandar Muda (berkuasa 1607–1636). Konon, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ajaran Hamzah Fansuri menjadi begitu berpengaruh di Kesultanan Aceh Darussalam sebab pembesar agama sekaligus penasihat sultan saat itu ialah murid Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin As-Sumatrani.

Setelah Sultan Iskandar Muda wafat dan digantikan menantunya Sultan Iskandar Tsani (berkuasa 1636–1641), pengaruh besar ajaran Hamzah Fansuri mendapat tantangan serius dari ulama besar asal India, yang menjadi penasihat baru sultan, yakni Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Nuruddin adalah ulama yang menentang keras paham wahdatul wujud yang diajarkan Hamzah Fansuri. Mulanya ia berhasil menaklukkan para pengikut Hamzah Fansuri dalam perdebatan terbuka yang diselenggarakan Sultan. Karena menang, ia kemudian meminta Sultan memusnahkan kitab-kitab karangan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrani serta menyuruh para pengikut Hamzah Fansuri bertobat. Begitulah mula petaka pengkafiran terjadi. Kitab-kitab yang mengajarkan paham wahdatul wujud dibakar secara masal di depan Masjid Raya Baiturrahman, sementara para penganut wahdatul wujud yang menolak bertobat diburu dan dihukum.

Dengan demikian, sejarah pun berulang. Apa yang menimpa ajaran Hamzah Fansuri sebenarnya juga pernah terjadi pada ajaran Ibnu Arabi (1165–1240) sewaktu ditentang Syekh Ibnu Taimiyah; seperti juga sebelumnya Mansur Al-Hallaj (858–921) harus mengalami eksekusi mati di Baghdad karena ajarannya ditentang keras ulama ortodoks setempat. Bahkan, pada masa yang tak jauh berbeda dengan Hamzah Fansuri, di Jawa juga terjadi pembunuhan terhadap Syekh Sitti Jenar (1404–1517) oleh Dewan Wali. Semua tragedi itu punya benang merah yang sama: mereka sama-sama menganut paham wahdatul wujud, dan itu dianggap sesat oleh ulama-ulama ortodoks yang punya kedekatan moral dengan penguasa.

Lalu, apa itu paham wahdatul wujud?

Wahdatul Wujud

Paham wahdatul wujud berangkat dari asumsi dasar bahwa pada mulanya yang ada semata-mata hanyalah Allah. Tiada lain. Ia Maha Besar, dan dengan begitu juga tiada berbatas. Ketika Allah menciptakan alam semesta, maka ciptaannya itu tiada lain berasal dari zat-Nya sendiri. Tiada asal yang lain pada mulanya. Karena alam semesta diciptakan dari zat-Nya, maka alam semesta (termasuk manusia) merupakan bagian dari wujud-Nya. Dengan kata lain, Allah menampakkan diri melalui ciptaan-Nya. Tentu maksud “menampakkan diri” di sini tidak mengacu pada diri yang seutuhnya dan sejati. Wujud yang dimaksud di sini lebih tepat mengacu pada eksistensi ketimbang esensi. Dan karena manusia merupakan bagian dari ciptaan-Nya, maka penganut wahdatul wujud berpegang pada prinsip “man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu (barang siapa telah mengenal dirinya, maka sesungguhnya ia telah mengenal Tuhannya)”.

Wahdatul wujud ingin menegaskan bahwa Allah itu begitu dekat dengan ciptaan-Nya. Ia tidak jauh di puncak langit. Ia tidak jauh di suatu tempat entah di mana. Ia begitu dekat. Selalu begitu. Manusia dikatakan ‘begitu dekat’ dengan Allah karena ia diciptakan dari zat yang merupakan wujud yang satu, atau lebih tepatnya satu-satunya Wujud, yakni Allah. Tiada Wujud selain Allah. Manusia, seperti juga seluruh alam semesta, merupakan mumkinul wujud karena ia ada (baca: wujud) hanya jika Wujud (yang sejati) ada (baca: wujud). Dengan kata lain, kewujudan mumkinul wujud (baca: alam semesta) bergantung mutlak pada kewujudan Wujud yang sejati, atau Wajibul Wujud (baca: Allah). Karena itulah Wajibul Wujud dan mumkinul wujud pada dasarnya bisa dibilang sebagai wahdatul wujud (baca: wujud yang tunggal). Inilah konsep kunci dalam paham wahdatul wujud. Sebagai implikasi logis dari konsep tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dalam diri manusia itu sendiri sejatinya terkandung (baca: imanen) sifat-sifat Allah, setidaknya sebagai sifat-sifat potensial. Sifat-sifat inilah yang dalam Al-Qur’an merujuk pada “fitrah Allah”. Sifat-sifat ini pulalah yang dirujuk Nabi Muhammad Saw. ketika bersabda, “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.”

Meski begitu dekat, Allah juga tidak bisa serta-merta disamakan dengan ciptaan-Nya, seperti kesalahpahaman orang-orang yang segera mengutuki paham wahdatul wujud dari masa ke masa. Bagaimanapun, pengertian ‘begitu dekat’ bukanlah sinonim dari ‘persis sama’. Selain bersifat imanen, Allah juga bersifat transenden terhadap ciptaan-Nya. Transenden berarti berada di luar jangkauan ciptaan-Nya. Allah Maha Besar, sementara ciptaan-Nya tak punya kualitas kemahaan tersebut, bahkan begitu jauh jika dibandingkan. Begitu juga dalam konteks Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Perkasa, dan sebagainya. Singkat kata, sifat transenden inilah yang menegaskan perbedaan mutlak antara Wajibul Wujud dan mumkinul wujud, seperti firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (Q.S. Asy-Syura: 11).

Jadi, dalam paham wahdatul wujud Allah itu dipahami sebagai imanen sekaligus transenden. Ia “sama” sekaligus berbeda. Dikatakan “sama” karena sejatinya Wujud itu hanya satu, atau tunggal (wahdah). Adapun dikatakan berbeda karena memang mumkinul wujud itu sangat terbatas dan bergantung mutlak pada Wajibul Wujud, sementara Wajibul Wujud itu sendiri tak terbatas sekaligus berdiri sendiri secara mutlak. Untuk menjelaskan paradoks ini secara lebih sederhana, Hamzah Fansuri menggunakan analogi laut dalam risalahnya. Menurut Hamzah Fansuri, Wajibul Wujud itu bisa diibaratkan sebagai lautan tak berbatas, yang ujung dan dalamnya tiada terkira, sementara mumkinul wujud itu adalah gelombang-Nya. Laut dan gelombang ialah satu tak terpisahkan. Wujudnya tunggal, yakni air. Tak mungkin ada gelombang tanpa ada laut. Tapi laut dan gelombang juga tidak sama sebab laut adalah laut (dengan segala kebesarannya) dan gelombang hanyalah gelombang (dengan segala keterbatasannya).

Bukanlah kebetulan kalau Hamzah Fansuri memberi ilustrasi laut dan ombak untuk menjelaskan paradoks yang terdapat dalam konsep wahdatul wujud. Dalam karya-karyanya secara umum, baik yang berbentuk prosa (risalah) maupun syair, ia sering menggunakan anasir-anasir laut sebagai simbol bagi konsep-konsep abstrak dalam pemikirannya. Dan menurut Abdul Hadi W.M., sarjana Indonesia yang sangat tekun mempelajari dunia sufi selama berpuluh-puluh tahun, ini merupakan ciri khas Hamzah Fansuri ketimbang simbol-simbol yang lazim digunakan oleh para sufi di Timur Tengah. Kekhasan tersebut tentu cukup beralasan mengingat bahwa Hamzah Fansuri berasal dari negeri kepulauan seperti Nusantara, atau lebih spesifik Kesultanan Aceh Darussalam yang memang merupakan salah satu kekuatan maritim yang berjaya di Asia pada masanya. Keakraban Hamzah Fansuri dengan anasir laut juga semakin mudah dipahami mengingat ia adalah seorang sufi pengembara, sementara pada masa itu alat transportasi yang lazim digunakan untuk perjalanan jauh ialah kapal laut. Begitulah dapat kita bayangkan bahwa Hamzah Fansuri telah menghabiskan begitu banyak usianya dalam pelayaran di tengah laut, menyinggahi banyak kota untuk mencari ilmu, dan sewaktu ia hendak menuliskan ilmu-ilmu tersebut, ia menggunakan anasir-anasir yang akrab dengan pengalamannya sebagai analogi.

Teori Penciptaan Alam Semesta

Dalam paham wahdatul wujud, implikasi dari konsep hubungan Allah yang imanen sekaligus transenden dengan ciptaan-Nya adalah teori penciptaan alam semesta sebagai tajalli (manifestasi/pengejawantahan) dari Allah. Pada dasarnya teori ini mirip dengan teori emanasi dalam filsafat Neo-Platonisme. Allah merupakan sumber peluberan bagi ciptaan-Nya, dan peluberan tersebut terjadi secara bertingkat-tingkat. Dalam ajaran Hamzah Fansuri, tingkatan tersebut ada lima, yakni (1) La Ta’ayyun, (2) Ta’ayyun Awwal, (3) Ta’ayyun Tsani, (4) Ta’ayyun Tsalits, dan (5) Ta’ayyun Rabi’ wa Khamis ila ma la nihayata lahu. Karena ada lima tingkatan, ajaran Hamzah Fansuri kemudian dikenal sebagai ajaran Martabat Lima.

Secara sederhana, martabat pertama merupakan wujud yang tidak pernah bisa diketahui oleh ciptaan-Nya, termasuk manusia; termasuk Nabi Muhammad Saw. Ia merupakan wilayah tak terjangkau akal yang hanya bisa digambarkan sebagai “tidak begini”, “tidak begitu”, dan “tidak-tidak” lainnya. Dengan kata lain, selama manusia bisa memikirkan suatu gambaran tertentu tentang-Nya, maka bisa dipastikan bahwa Ia tidak demikian.

Wujud pada martabat pertama inilah yang kemudian meluberkan diri menjadi wujud pada martabat kedua. Di sini Allah sudah mulai bisa diakses oleh pikiran manusia, meski masih dalam bentuk yang begitu abstrak, sebagai sifat-sifat atau tamsil. Hamzah Fansuri menamai wujud pada martabat ini dengan beberapa nama, seperti Alam Jabarut, Hakikat Muhammad, Buku Tertulis (al-kitabul-masthur), Tirai Kemuliaan (hijabul-’izzah), dan Cinta Hakiki (‘isyqul-haqqi).

Selanjutnya, Hakikat Muhammad menjadi sumber peluberan bagi wujud pada martabat ketiga. Di sini Allah menjadi semakin bisa diakses oleh pikiran dan menjadi esensi bagi segala sesuatu. Hamzah Fansuri menamai wujud pada martabat ini dengan beberapa nama juga, seperti Bentuk yang Dikenal (shuwwarul-’ilmiyyah), Hakikat Segala Sesuatu di Alam Semesta (haqiqatul-asy-ya’), dan Ruh yang Terpaut (ruhul- idhafi).

Dari ruh yang esensial pada martabat ketiga, maka diturunkanlah ruh-ruh yang lebih spesifik pada martabat keempat. Di sinilah tercipta ruh-ruh makhluk hidup, seperti ruh manusia, ruh hewan, dan ruh tumbuh-tumbuhan. Ruh-ruh tersebut pada gilirannya maujud sebagai ciptaan jasmaniah pada martabat kelima, yakni menjadi alam semesta dengan segala isinya. Pada martabat terakhir ini proses penciptaan bukan berarti selesai begitu saja sebab itu bertentangan dengan sifat Allah sebagai Yang Maha Pencipta. Karena itu, ia sejatinya berlangsung tiada berkesudahan (ila ma la nihayatan lahu).

Untuk menjelaskan konsep martabat lima ini secara lebih konkret, Hamzah Fansuri dalam kitab Syarabul-’Asyiqin mengibaratkannya juga dengan anasir laut. Karena martabat pertama tidak terjangkau oleh akal manusia, maka ia dengan sendirinya tidak bisa diibaratkan, atau tidak disertakan dalam proses pemikiran. Dengan begitu, analogi penciptaan dimulai dari martabat dua yang diibaratkan sebagai laut yang tiada bertepi. Sebagai Ilmu, atau Nur, atau Hakikat Muhammad, laut ini bergerak dengan gelombang ombaknya, melepaskan uap, sehingga menjadi ibarat bagi tajalli atau penciptaan martabat ketiga yang setara dengan awan. Sebagai hakikat segala sesuatu, atau ruh idhafi, awan kemudian mencair menjadi hujan. Proses pencairan ini merupakan ibarat bagi tajalli menuju martabat keempat. Dengan kata lain, hujan yang begitu ramai rintiknya merupakan ibarat bagi ruh-ruh makhluk hidup yang juga begitu ramai jumlahnya, seperti ruh manusia, ruh hewan, dan ruh tumbuh-tumbuhan. Ruh-ruh inilah yang turun ke bumi menjadi danau, menjadi sungai, memberi kehidupan bagi makhluk hidup, entah manusia, hewan, dan tumbuhan.

Syair Ikan Tunggal Bernama Fadil

Meskipun pada hakikatnya alam semesta itu wahdatul wujud dengan Allah, dalam ajaran tasawuf tetap saja seorang manusia tidak serta merta bisa merasakan “kebersatuan” dengan Allah. Karena itu, ia mesti menjadi seorang salik; berusaha mencari dan menempuh jalan untuk bisa mencapai pengalaman wahdatul wujud, atau seperti kata Hamzah Fansuri, “supaya dapat syurbat [minuman] kau rasai”. Tentang perjalanan spiritual ini Hamzah Fansuri mensyairkannya dalam “Syair Ikan Tunggal Bernama Fadil”, atau syair nomor XXXI dalam buku The Poems of Hamzah Fansuri suntingan Drewes dan Brakel.

Analogi dasar dalam syair ini relatif sama. Laut merupakan simbol bagi wujud Allah yang Maha Luas dan Maha Dalam, sementara ikan merupakan simbol bagi manusia, ciptaan-Nya, yang maujud di dalam wujud-Nya. Ikan dan laut tak terpisahkan, sebagaimana makhluk dan Khalik juga merupakan wahdatul wujud. Tentang hubungan yang rapat ini Hamzah Fansuri menulis di bait ketiga sebagai berikut.

Bismillahi akan namanya
Ruhullahi akan nyawanya
Wajhullahi akan mukanya
Zahir dan batin da’im sertanya

Seperti telah dibahas di muka, konsep wahdatul wujud mengimplikasikan pemahaman bahwa dalam diri makhluk terkandung sifat-sifat wujud Sang Khalik. Dalam Islam, sifat-sifat Allah itu identik dengan nama-nama-Nya, yang juga terkenal sebagai asmaul husna. Karena sifat-sifat-Nya terkandung dalam diri ciptaan-Nya, maka dari itu Hamzah Fansuri menyebut “Bismillahi akan namanya”, yang berarti ‘dengan nama (sifat) Allah ia (manusia) mendapat nama (sifat)’. Boleh dibilang, baris pertama tersebut pada dasarnya setara dengan penjelasan tentang Hakikat Muhammad (martabat kedua) dalam konsep Martabat Lima sebelumnya.

Pada baris kedua, Hamzah Fansuri masuk pada konsep Ruh Idhafi (martabat ketiga) sebagai hakikat bagi segala ruh pada martabat keempat. Ruh inilah yang dimaksud memberi nyawa pada manusia, seperti tersebut dalam syair sebagai “Ruhullahi akan nyawanya”. Setelah manusia mendapat nyawa dari ruh Allah, ia pun mendapat muka (jasmani) dari “wajhullah” (wajah/penampakan/manifestasi Allah). Dengan demikian, lahir dan batin manusia sejatinya tak terpisah dari wujud Allah; keduanya manunggal, seperti disebut Hamzah Fansuri pada baris terakhir.

Namun, adalah kebodohan yang membuat manusia lalai dengan kenyataan wahdatul wujud antara ia dan Allah. Hamzah Fansuri menganalogikan hal ini sebagai “Ikan ahmaq bersuku-suku/Mencari air ke dalam batu”. Secara harfiah, ‘ahmaq’ berarti ‘bodoh’, sementara ‘bersuku-suku’ mengindikasikan jumlah yang banyak. Dengan kata lain, banyak manusia telah lalai seperti itu dalam hidup. Ia seperti ikan yang hidup dalam lautan luas yang meliputinya selalu ke mana saja, tapi masih merasa bahwa air itu tidak ada bersamanya. Lebih konyol lagi, ia mencari pula air itu di dalam batu. Begitulah Hamzah Fansuri mengibaratkan orang-orang yang lalai akan kehadiran Allah yang sejatinya senantiasa meliputinya. Bandingkan syair Hamzah Fansuri tersebut dengan sepenggal puisi Jalaluddin Rumi berikut.

Cinta adalah samudra Tuhan tak bertepi
Tapi, betapa mengherankan
Ribuan jiwa tenggelam di dalamnya
sambil berteriak lantang:
’Tuhan tidak ada!’”

Karena pangkal masalahnya ada pada kebodohan dan kelalaian, maka seorang muslim yang hendak menjadi salik mesti membekali dirinya dengan ilmu, terutama dengan cara “mencari guru” sebagai pembimbingnya ke “jalan mutu”. Jalan itulah yang mesti ia tempuh dengan sungguh-sungguh. Jalan yang sunyi, tapi menuju ke suatu ujung tempat ia bisa menikmati pengalaman wahdatul wujud dengan Sang Khalik. Dikatakan sunyi, karena ia mesti menjadi fana dari kesibukan duniawi yang melalaikan. Dengan menjadi fana, yakni meniadakan diri, barulah seorang salik akan bisa hidup sesuai dengan nama (sifat) Allah dalam dirinya. Seperti kata Hamzah Fansuri pada bait kelima, “Kerja Allah yang ditirunya/Mengenal Allah dengan bisunya”. Jika kefanaan dan perilaku demikian sudah bisa dicapai seorang salik, maka di titik inilah pengalaman wahdatul wujud akan ia nikmati, seperti kata Hamzah Fansuri pada bait ketujuh dan kedelapan berikut.

Tarkud dunya [meninggalkan dunia] akan labanya
Menuntut dunya akan maranya
‘Abdul Wahid asal namanya
Da’im ‘Anal Haqq akan katanya

Kerjanya mabuk dan ‘asyiq
Ilmunya sempurna fa’iq
Mencari air terlalu sadiq
Di dalam laut bernama Khaliq

Sastra sebagai Analogi Kehidupan

Dalam ngaji filsafat bertema Hamzah Fansuri di Masjid Jenderal Sudirman, Fahruddin Faiz mengatakan bahwa sastra merupakan karamah Hamzah Fansuri karena Sang Syekh memang dianggap banyak orang sebagai seorang waliyullah. Pernyataan ini mengingatkan kita pada ulama-ulama sufi yang juga akrab dengan sastra, seperti Syekh Ibnu Arabi dan Maulana Jalaluddin Rumi. Bukanlah kebetulan kalau Hamzah Fansuri punya banyak kemiripan dengan dua ulama sufi tersebut. Pertama, mereka bertiga sama-sama menganut paham wahdatul wujud. Kedua, mereka bertiga sama-sama mengekspresikan pemahaman agama mereka melalui medium sastra, khususnya puisi/syair. Karena itu, banyak yang menduga bahwa entah secara langsung atau tidak, Hamzah Fansuri memang mendapat banyak pengaruh dari dua penyair sufi tersebut.

Sastra sendiri dalam sejarahnya memang akrab juga dengan dunia keagamaan. Tidak hanya di kebudayaan Islam, di kebudayaan agama-agama lain seperti Hindu, Buddha, dan Katolik pun sastra sering kali menjadi media penyebaran ajaran agama, sehingga kitab-kitab sastra tersebut dengan sendirinya juga ikut-ikutan dianggap keramat oleh masyarakat umum. Dengan begitu, bisa diduga bahwa ada sifat khas pada sastra yang membuatnya menjadi begitu cocok dengan dunia keagamaan. Lalu, apakah ia gerangan?

Pada dasarnya sastra itu ialah bahasa, sementara bahasa ialah penanda pikiran bagi manusia. Manusia berpikir sebagai cara untuk memahami kehidupan, dan karena itu ia pun bisa berpikir tentang apa saja: hal-hal konkret, hal-hal abstrak, hal-hal yang ada, hal-hal yang mungkin ada, dan sebagainya. Dalam hal ini, apa yang dimaksud dengan pikiran juga bisa merujuk pada perasaan, apa pun macamnya. Dengan kata lain, manusia menggunakan bahasa untuk mengartikulasikan apa yang ia pikirkan, termasuk yang ia rasakan, terkait pengalaman hidup yang ingin ia pahami.

Karena pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan tersebut tidak selamanya merujuk pada sesuatu yang konkret, atau yang bisa diindra, maka sering kali pemikiran dan perasaan yang merujuk pada soal-soal abstrak/gaib menjadi sulit dipahami jika dijelaskan secara rinci. Ia tidak punya acuan yang jelas di hadapan indra. Maka, salah satu cara mengonkretkan soal-soal abstrak/gaib tersebut ialah dengan menggunakan analogi/tamsil dari dunia material sehari-hari, yang notabene sangat akrab dengan indra manusia. Itulah yang bisa kita lihat pada syair-syair Hamzah Fansuri yang menggunakan anasir-anasir alam, seperti laut, untuk membicarakan konsep-konsep yang abstrak/gaib, seperti Tuhan.

Karena dunia tasawuf punya perhatian besar pada masalah kebatinan, begitu juga metafisika, maka tidak mengherankan jika ia sering kali meminjam analogi-analogi semacam itu untuk mengartikulasikan pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan yang menjadi bagian dari ilmunya. Misalnya, sewaktu membicarakan tentang konsep mujahadah dalam kitab Kimiyaus Sa’adah, Al-Ghazali menggambarkan bahwa dalam diri manusia terdapat dua pasukan yang saling berperang, yakni (1) pasukan lahir yang mengacu pada nafsu dan angkara murka dan (2) pasukan batin yang mengacu pada akal sehat dan imajinasi. Konsep tentang perang dalam diri ini tentu merupakan pemikiran yang abstrak, tapi dengan meminjam analogi dari angkatan perang dalam dunia militer ia bisa diartikulasikan secara lebih konkret, sehingga juga semakin mudah dipahami.

Jika pemikiran tentang hal-hal abstrak/gaib sering kali butuh analogi-analogi konkret untuk membuatnya bisa lebih artikulatif ketika diekspresikan, maka perasaan-perasaan yang sejatinya memang pasti abstrak dan tiada berbentuk juga bisa diekspresikan secara artikulatif dengan cara yang sama. Misalnya, perasaan cinta yang begitu kuat adalah suatu hal yang sejatinya tiada berbentuk, dan dengan sendirinya ia abstrak. Maka, untuk mengartikulasikannya lebih jelas, para sufi biasanya memberi bentuk konkret terhadap perasaan tersebut dengan analogi mabuk. Orang yang begitu larut dalam cinta kepada Allah diibaratkan seperti orang yang sedang mabuk, tapi mabuk Allah. Begitu juga, ketika seseorang mengalami penyesalan yang begitu berat, ia bisa mengonkretkan perasaan abstrak tersebut menjadi ungkapan “dua belas ekor serigala muncul dari masa silam, merobek-robek hatiku yang celaka”.

Analogi-analogi, atau metafora-metafora demikian merupakan ciri khas utama dalam sastra. Barangkali karena itulah sastra bisa menjadi begitu cocok dengan dunia tasawuf yang cenderung berfokus pada soal-soal kebatinan (abstrak/gaib). Jika kita kembali mengingat konsep Martabat Lima yang telah dibahas sebelumnya, maka di sini sastra bisa dilihat sebagai sarana penting yang menjembatani pemahaman manusia tentang dunia jasmani yang konkret (alam nasut/alam semesta/martabat kelima) dan dunia ruhani yang abstrak (alam-alam pada martabat pertama sampai keempat).

Allah Maha Besar dan manusia yang begitu kecil tidak dapat mengenal-Nya secara langsung. Manusia hidup di dunia jasmani, sementara Allah sejatinya wujud dalam dunia ruhani. Namun, dunia jasmani itu sendiri merupakan manifestasi dari wujud Allah, sehingga keduanya punya hubungan yang sangat dekat. Dalam kondisi demikian, maka manusia menjadikan tanda-tanda di alam semesta sebagai perantara/perumpamaan untuk dapat memikirkan (baca: berusaha mengenal) Allah yang merupakan bagian dari alam gaib. Dan tepat di titik inilah sastra bisa diandalkan untuk menjalankan perannya sebagai bahasa (baca: penanda pikiran) yang metaforis. Dengan kata lain, segala pengalaman manusia di muka bumi sejatinya merupakan syarat bagi manusia untuk merenungi Allah yang transenden sekaligus imanen.

Dengan kata lain pula, hidup manusia itu sendiri sejatinya merupakan rangkaian proses untuk mengenal Allah, seperti firman Allah, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Q.S. Az-Zariyat: 56).

Bukankah merenungi Allah; berusaha mengenal Allah, merupakan bagian dari zikrullah, dan dengan demikian juga sebentuk ibadah yang sangat mendasar, sekaligus syarat utama dalam pengalaman wahdatul wujud seperti yang diajarkan Hamzah Fansuri? Lagi pula, “Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 115).

Catatan:
Ada perdebatan tentang siapa penulis asli “Syair Perahu” yang sebagian dikutip pada awal tulisan ini. Banyak yang menganggap bahwa penulisnya Hamzah Fansuri, sampai-sampai sudah lazim diterima begitu saja. Namun, sebagian filolog juga meragukan, bahkan menolak, klaim tersebut. Alasannya, ada beberapa perbedaan bentuk syair tersebut dibandingkan syair-syair Hamzah Fansuri pada umumnya. Lihat Abdul Hadi W.M., “Benarkah ‘Syair Perahu’ Karangan Hamzah Fansuri?” dalam Cakrawala Budaya Islam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016), hlm. 187-191. Terlepas dari perdebatan yang ada, penggalan “Syair Perahu” yang dikutip itu punya banyak kemiripan dengan penggalan sebuah syair Hamzah Fansuri berikut. Kenali dirimu hai anak dagang/Jadikan markab tempat berulang/Kemudi tinggal jangan kaugoyang/Supaya dapat hampir kaupulang. Yang dimaksud dengan ‘markab’ adalah kapal, atau sejenisnya. Lihat G.W.J. Drewes dan L.F. Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri (Dordrecht: Foris Publications Holland, 1986), hlm. 112.

REFERENSI

Al-Ghazali. 2020. Proses Kebahagiaan. Diterjemahkan oleh Ahmad Mustofa Bisri dari Kimiyaus Sa’adah. Jakarta: Qaf.
Bagir, Haidar. 2015. Belajar Hidup dari Rumi. Jakarta: Mizan.
Drewes, G.W.J. dan L.F. Brakel. 1986. The Poems of Hamzah Fansuri. Dordrecht: Foris Publications.
Faiz, Fahruddin. 2019. Ngaji Filsafat 137: Sufi Nusantara – Hamzah Fansuri. MJS Channel. (Youtube)
Hadi W.M., Abdul. 2012. Kuliah Umum Islam dan Mistisisme Nusantara Hamzah Fansuri dan Wahdatul Wujud. Salihara Arts Center. (Youtube)
Hadi W.M., Abdul. 2016. Cakrawala Budaya Islam. Yogyakarta: IRCiSod.
Lombard, Denys. 2014. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636).
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Sangidu. 2003a. Wachdatul Wujud: Polemik Pemikiran Sufistik Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani dengan Nuruddin ar-Raniri. Yogyakarta: Gama Media.
Sangidu. 2003b. “Ikan Tunggal Bernama Fadhil Karya Syaikh Hamzah Fansuri: Analisis Semiotik”. Humaniora, Vol. 15, No. 2 Juni, hlm. 191-199.

Tinggalkan balasan!