Ilmu itu indah
[Faruk Haji Tripoli]
Dalam suatu perkuliahan tentang sastra Indonesia di UGM, seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan fundamental kepada dosen yang sudah sepuh di depan kelas, “Ketika kita menghadapi puisi atau membaca puisi, sebaiknya kita memahami puisi itu atau menikmatinya, Prof?” Pertanyaan semacam itu mungkin bisa dibilang klasik, dan karena itu saya pribadi segera teringat pada pertanyaan-pertanyaan serupa yang dulu pernah mengganggu hari-hari perkuliahan saya sewaktu masih S-1. Inti masalahnya, jika boleh disederhanakan, untuk apa karya sastra itu dikaji-kaji dengan susah payah, apalagi menggunakan teori-teori yang jelimetnya minta ampun, sampai-sampai proses membaca karya sastra itu pun sering kali tidak lagi menjadi pengalaman yang menyenangkan, bahkan menjadi beban dalam konteks tugas mahasiswa.
Kawan lain juga pernah berkata bahwa sejak belajar teori ini itu di bangku perkuliahan, ia selalu terdorong untuk memperhatikan ini itu ketika membaca karya sastra, sesuai teori-teori yang telah ia pelajari semasa kuliah, sehingga membaca karya sastra tidak lagi demi kepentingan menikmati karya sastra itu sendiri, tapi malah demi kepentingan teori-teori yang butuh diverifikasi. Ia bahkan juga mengaku iri pada orang-orang yang bisa membaca karya sastra sambil ketawa-ketawa karena saking asyiknya. Boleh dibilang, tiba-tiba ia rindu pada masa-masa seperti itu, ketika dulu ia belum terpapar macam-macam teori yang memaksanya menghadapi karya sastra dengan cara lain.
Kegelisahan semacam itu memang patut dipikirkan ulang. Sebenarnya kenapa sih malah jadi begitu? Benarkah upaya-upaya pengkajian sastra malah menghancurkan kenikmatan mengonsumsi sastra itu sendiri? Jika benar demikian, haruskah sekolah-sekolah atau universitas-universitas yang mengajarkan ilmu sastra dibubarkan saja?
Pertama-tama, marilah kita bersetuju dulu bahwa ada banyak kemungkinan jawaban atas pertanyaan semacam itu. Pengalaman-pengalaman yang beragam, serta sejumlah sudut pandang yang tidak sama, akan memunculkan respons yang berbeda-beda pula terhadapnya. Karena itu di tulisan ini saya pun hanya akan berusaha menanggapinya sejauh pengalaman dan wawasan yang ada pada saya pula, terutama sebagai orang yang menggandrungi sastra dan mempelajarinya secara formal di perguruan tinggi.
Fakta yang cukup menarik untuk diketengahkan di sini yaitu kurikulum perkuliahan Magister Sastra di Universitas Gadjah Mada, setidaknya dalam beberapa tahun belakangan. Sejak awal-awal menjadi mahasiswa di sana, saya pribadi segera melihat ada yang aneh dengan perkuliahan tersebut. Betapa tidak, selama semester pertama berlangsung apa yang kami pelajari sebenarnya tidak fokus pada karya sastra, tapi lebih banyak mengurusi teori-teori yang jika ditinjau asal usulnya maka akan membawa kita pada filsafat. Begitulah, kami pun bertungkus lumus menghadapi konsep-konsep yang terdapat dalam pascastrukturalisme, pascamarxisme, pascakolonialisme, feminisme, strukturalisme, dan isme-isme lainnya. Seorang dosen sibuk mengganggu pikiran kami dengan mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterima begitu saja, termasuk pemahaman tentang agama. Dosen yang lain sibuk mencurigai kebijakan-kebijakan negara. Singkat kata, apa yang menjadi titik tekan perkuliahan-perkuliahan tersebut adalah cara berpikir, atau cara memandang realitas dengan benar, dan itu merupakan pokok perhatian filsafat sejak mula.
Fakta ini tentu membawa kita pada pertanyaan lain: apa hubungan sastra dengan filsafat? Apakah filsafat begitu penting untuk dipahami sebelum membaca karya sastra? Jamak dipandang bahwa filsafat itu rumit-melelahkan, dan keharusan untuk mengakrabi filsafat sebelum membaca karya sastra adalah hal yang membuat aktivitas membaca sastra menjadi ikut-ikutan melelahkan pula.
Bagaimanapun, adalah benar bahwa sastra sangat dekat hubungannya dengan filsafat. Seorang dosen sastra pernah mengatakan bahwa jika sastra itu diperas sampai ke inti sarinya, maka apa yang akan tersisa adalah pemikiran. Dengan kata lain, hakikat sastra adalah pemikiran. Argumen ini dapat didukung dengan menunjuk pada seabrek filsuf yang sepanjang hidupnya sangat akrab dengan dunia sastra, atau bahkan malah ikut serta menghidupkan dunia sastra. Sebagian dari mereka mengkaji hal ihwal karya sastra dan pengarang sastra. Sebagian lainnya menulis karya-karya sastra, seperti puisi, novel, dan naskah drama. Sastra adalah pemikiran, sebagaimana filsafat juga sangat identik dengan pemikiran.
Barangkali di sinilah masalahnya. Selama ini kita sering melihat sastra itu sebagai karya kreatif, sehingga ia bisa digolongkan ke dalam karya seni–dengan begitu sastrawan pun adalah sekaligus seniman. Orang-orang lalu menyandingkan sastra dengan lukisan dan musik. Semuanya adalah kesenian yang berfungsi untuk menghibur. Bedanya, lukisan diciptakan dari warna, musik dari bunyi, sementara sastra dari bahasa. Tapi bahan dasar saja tidak akan menjadi karya seni jika ia tidak dikreasi sedemikian rupa, sehingga dapat dikatakan bahwa lukisan adalah warna yang mewujudkan rupa indah; musik adalah bunyi yang mewujudkan irama indah; dan sastra adalah bahasa yang mewujudkan makna indah.
Mengatakan bahwa sastra adalah bahasa yang indah mudah membawa kita pada pengertian yang menyesatkan. Apakah benar bahwa orang-orang menikmati karya sastra karena susunan bahasanya yang indah? Apakah orang-orang membaca karya sastra untuk mencari kata-kata yang berbunga-bunga? Meski karya sastra memang secara bentuk disusun oleh kata-kata yang ciamik, dan kadang berbunga-bunga, tapi jika ia kering makna, atau tak mengandung pemikiran apa-apa, maka ia adalah karya sastra yang buruk. Jadi, di sini pemikiran harus dilihat sebagai unsur yang vital juga. Ia tak boleh diabaikan.
Malah, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa keindahan karya sastra sejatinya terletak pada pemikiran yang dikandungnya itu. Keindahan bentuk (bahasa/plot) hanyalah penarik perhatian supaya pembaca bisa bertahan untuk terus menyelami pemikiran yang terkandung di dalam karya sastra, sampai ia kemudian tiba pada momen ketergugahan yang sangat membekas bagi pengalaman batinnya. Untuk keindahan semacam inilah orang-orang rela berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk membaca sebuah karya sastra.
Jadi, prinsip yang perlu ditegaskan di sini yaitu pemikiran itu sendiri adalah keindahan. Karena pemikiran itu hanya bisa digapai lewat aktivitas berpikir, maka kita harus mengatakan bahwa aktivitas berpikir itu adalah aktivitas yang menyenangkan. Masalahnya, orang-orang umumnya memandang berpikir itu sebagai aktivitas yang tidak menyenangkan. Bahkan, lazim didengar bahwa orang yang punya banyak pikiran merupakan orang yang stres. Pikiran adalah beban dalam kepala. Berpikir adalah pekerjaan berat. Bisa memicu kenaikan asam lambung. Bagaimana pula kita bisa menikmati aktivitas melelahkan semacam itu?
Untuk memahami hal ini, tentu akan lebih baik jika kita bisa bertanya langsung kepada orang-orang yang gandrung dengan aktivitas berpikir itu, misalnya filsuf. Tak bisa disangkal bahwa kenyataannya memang ada orang-orang yang menikmati aktivitas berpikir, sekalipun yang rumit-rumit seperti soal-soal filsafat. Orang-orang yang tidak menemukan kenikmatan dalam aktivitas berpikir tentu terheran-heran dengan spesies aneh macam itu. Kok bisa-bisanya ya mereka itu asyik dengan dunia pemikiran, seolah-olah mereka tak perlu lagi kemewahan duniawi untuk membuat hari-harinya bergairah.
Namun, pertanyaan paling penting di sini, pada akhirnya, malah sebaliknya: kok kita tak bisa menikmati aktivitas berpikir seperti orang-orang pemikir itu ya? Apakah ada yang salah selama ini dengan diri kita? Apakah kita pernah melakukan aktivitas berpikir secara intens di luar tuntutan tugas sekolah, atau alasan-alasan lain yang berhubungan dengan motif ekonomi? Pernahkah kita menelaah suatu persoalan dan merumuskan pemikiran sendiri secara serius hanya semata-mata karena kita senang memikirkan hal tersebut? Jika tidak, apakah itu karena memang kita tidak punya sifat bawaan sebagai orang yang suka berpikir? Apakah ini hanya masalah preferensi hobi semata? Atau, jangan-jangan sebenarnya ada faktor-faktor eksternal yang diam-diam menjauhkan kita dari kegemaran-kegemaran semacam itu, sehingga membuat kita takut/malas/tidak percaya diri/tidak nyaman dalam berpikir, dan membuat kita menjadi asing dengan pikiran kita sendiri; menyibukkan kita dengan hal-hal semu yang bisa dilakukan tanpa perlu banyak berpikir? Andai benar begitu, siapa pula pihak yang diuntungkan oleh banyaknya orang-orang yang tidak peduli dengan aktivitas berpikir secara serius–sehingga kondisi semacam itu perlu dipertahankan, dan kalau bisa dijadikan tampak membanggakan?
Jika kita tidak bisa menemukan sisi indah dari aktivitas berpikir, yakni menyelami lautan pemikiran, bagaimana mungkin kita dapat menikmati karya sastra yang bagus dan penuh pemikiran indah?
Menurut saya, di sinilah peran kajian sastra menjadi relevan untuk ditekuni. Kajian sastra itu sendiri adalah aktivitas berpikir juga, dan di perguruan tinggi ia disandingkan rapat-rapat dengan tradisi filsafat. Karena sastra dan filsafat adalah bagaikan saudara kandung yang sulit dipisahkan, maka kajian sastra dan studi filsafat punya nilai yang juga tak jauh berbeda sebenarnya. Sebagai penutup, mari kita ingat lagi pandangan Bertrand Russell, peraih Hadiah Nobel Sastra 1950, dalam buku Persoalan-Persoalan Filsafat berikut.
“[…] jika kita tidak gagal dalam usaha untuk menentukan nilai filsafat, maka pertama-tama kita harus membebaskan pikiran kita dari prasangka tentang apa yang secara keliru disebut sebagai manusia ‘praktis’ (practical men). Manusia ‘praktis’, sebagaimana kata ini sering digunakan, adalah orang yang hanya mengenali kebutuhan material, yang menyadari bahwa manusia harus mempunyai makanan untuk tubuh, tetapi tidak menyadari pentingnya menyediakan makanan untuk pikiran. Jika semua adalah orang kaya, jika kemiskinan dan penyakit telah diturunkan ke titik serendah mungkin, masih banyak yang harus dilakukan untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang berharga (a valuable society); dan, bahkan di dunia yang ada, hal-hal yang berkaitan dengan pikiran setidaknya sama pentingnya dengan hal-hal yang berkaitan dengan tubuh. Secara eksklusif, di antara hal-hal yang berkaitan dengan pikiran itulah nilai filsafat dapat ditemukan; dan, hanya mereka yang tidak cuek dengan hal-hal tersebut, yang dapat diyakinkan bahwa studi filsafat bukanlah buang-buang waktu.”
Meski Russell menulis dalam konteks studi filsafat, sejatinya prinsip yang sama juga sama berlaku dalam konteks kajian sastra. Keduanya sama-sama aktivitas “yang berkaitan dengan pikiran”, sama-sama “menyediakan makanan untuk pikiran”. Seperti makanan lezat memberi kenikmatan bagi tubuh, studi filsafat dan kajian sastra yang sungguh-sungguh juga memberi kenikmatan bagi pikiran. Harusnya begitu.
