Oleh : Adnan A. Nasution
Widyabasa Ahli Pertama
Kata penghubung dan/atau digunakan untuk menyatakan dua kemungkinan makna sekaligus, yaitu sebagai dan maupun sebagai atau. Tanda garis miring (/) di antara kedua kata tersebut menunjukkan adanya pilihan makna. Dengan demikian, bentuk A dan/atau B dapat dimaknai sebagai A dan B atau A atau B. Oleh karena itu, penulisan yang tepat adalah dan/atau, bukan dan atau.
Perhatikan contoh berikut.
(1) Setiap orang yang mengubah dan/atau menyebarluaskan dokumen resmi tanpa izin dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kalimat tersebut mengandung dua kemungkinan makna, yaitu
(1) setiap orang yang mengubah dan menyebarluaskan dokumen resmi tanpa izin dapat dikenai sanksi; atau
(2) setiap orang yang mengubah atau menyebarluaskan dokumen resmi tanpa izin dapat dikenai sanksi.
Dalam praktik penulisan, bentuk dan/atau sering ditulis dan atau tanpa menggunakan tanda garis miring (/). Penulisan seperti itu tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia ragam tulis. Kekeliruan tersebut biasanya muncul karena penulis mengikuti bentuk yang terdengar dalam ragam lisan. Dalam ragam tulis, penggunaan tanda baca secara tepat diperlukan agar makna kalimat tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda. Jika dalam ragam lisan makna dapat dipahami melalui konteks situasi percakapan, dalam ragam tulis kejelasan makna sangat bergantung pada ketepatan penggunaan tanda baca.
Perhatikan contoh berikut.
(2) Pegawai yang menghapus dan atau memindahkan arsip digital tanpa prosedur yang sah dapat dikenai sanksi disiplin.
Pada contoh tersebut, bentuk dan atau seharusnya ditulis dan/atau, seperti berikut.
(2a) Pegawai yang menghapus dan/atau memindahkan arsip digital tanpa prosedur yang sah dapat dikenai sanksi disiplin.
Penggunaan dan/atau pada kalimat tersebut menimbulkan tiga kemungkinan makna, yaitu
(1) menghapus dan memindahkan arsip digital;
(2) hanya menghapus arsip digital; atau
(3) hanya memindahkan arsip digital.
Selain kesalahan penulisan, terdapat pula kekeliruan dalam penggunaan bentuk kata kerja yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis. Perhatikan contoh berikut.
(3) Sanksi administratif dapat mengenakan setiap pegawai yang mengubah dan/atau menghapus data sistem.
Kalimat tersebut tidak tepat karena sanksi tidak dapat melakukan tindakan memberlakukan kepada seseorang. Bentuk yang tepat adalah dikenakan kepada. Perbaikannya sebagai berikut.
(3a) Sanksi administratif dapat dikenakan kepada setiap pegawai yang mengubah dan/atau menghapus data sistem tanpa izin.
Apabila susunan kalimat diubah dengan menempatkan subjek setiap pegawai di awal kalimat, bentuk kata kerja yang tepat adalah dikenai, bukan dikenakan, seperti pada contoh berikut.
(4) Setiap pegawai yang mengubah dan/atau menghapus data pada sistem informasi lembaga tanpa kewenangan dapat dikenai sanksi administratif.
Referensi:
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2022. Ejaan Bahasa Indonesia Edisi Kelima (EYD V). Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Tersedia secara daring di https://ejaan.kemendikdasmen.go.id/. Diakses 6 Maret 2026.
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2025. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keenam Daring. Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Tersedia secara daring di https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/. Diakses 6 Maret 2026.
- Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Buku Praktis Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
