“Anak perempuan akan selalu mirip dengan ayahnya,” kata orang-orang dulu ketika istrinya melahirkan seorang anak perempuan bermata kuyu yang amat mirip dengannya.
Dua puluh tiga tahun setelahnya, setelah kematian istrinya, Sazali sadar bahwa memiliki seseorang yang teramat mirip dengan kita sama seperti membangun jarak yang seharusnya tidak ada. Atau bukankah orang-orang tidak memilikinya?
Sazali tidak begitu tahu. Tiga puluh tahun dia menetap di tempat yang sama—setahun sekali pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk kedua orang tuanya, tetapi Sazali tidak melakukannya lagi dalam sepuluh tahun terakhr—bekerja di tempat yang sama, dan bertemu orang yang itu-itu saja atau yang perilakunya tidak jauh berbeda.
Apapun itu, Sazali yakin orang-orang di luar sana tidak memilikinya.
Anak perempuannya bernama Laila, gadis kampung yang sudah enam tahun lamanya menjadi gadis kota, dan kembali menjadi gadis kampung sejak dua pekan terakhir. Anak pendiam yang tidak tergali perasaannya. Kalau bukan karena matanya yang semakin kuyu, Sazali tidak yakin bahwa anak perempuannya itu masih berkabung.
Mereka jarang mengobrol. Entah itu sebelum istrinya meninggal atau sesudahnya. Entah itu ketika Laila yang pendiam masih bisa dia temui saban hari atau ketika anak itu hanya bisa dia temui dua tahun sekali—libur lebaran dan libur panjang tahun baru. Maka ketika pagi pertama Laila menyajikan nasi dalam piring keramik bergambar bunga yang dibeli istrinya lebaran dua tahun lalu, Sazali tidak bisa berkata-kata selain menelannya. Bahkan ketika pria itu tidak perlu mengunyah untuk mencernanya. Hingga meja makan dari kayu itu bersih, masih tidak ada di antara mereka yang berkata-kata.
Kehidupan tetap berjalan bahkan setelah kematian. Itu semacam hukum alam yang tidak terelakkan, oleh Sazali sekalipun. Meski kenangan istrinya masih dia temui di setiap sudut rumah, pasar, dan setiap sudut jalan, pria itu tetap pergi setiap pagi ke sekolah tempatnya bekerja selama tiga puluh tahun lamanya. Lalu dia akan kembali pukul empat sore, tidak pernah terlambat.
Yang berbeda dalam dua pekan terakhir ini hanyalah isi meja kayu di dapur rumahnya. Masakan istrinya telah berganti menjadi lauk-pauk yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tidak hanya rupanya, rasanya juga berbeda. Tidak parah. Tidak lebih parah dari sepiring nasi yang malam ini Sazali perlu mengunyah lebih lama untuk mencernanya.
Di hadapannya Laila mengunyah sama beratnya. Mereka masih belum berkata-kata.
***
Masuk minggu ke-tiga, Laila masih sibuk menyajikan sepiring nasi dengan aneka rasa setiap hari. Padahal kalau Laila tidak sok menguasai dapur setelah kematian istrinya, Sazali bisa memasak jauh lebih baik—entah bagaimana anak perempuannya itu bertahan di kota dengan kemampuan memasak yang buruk. Namun, karena mereka jarang mengobrol, Sazali tidak enak hati menegur rasa-rasa masakan anak perempuannya.
Sepiring nasi siang ini, siang Minggu di mana Sazali hanya bisa menghabiskan waktu dengan merawat pohon-pohon cabai di belakang rumahnya, tidak beda jauh dari sebelum-sebelumnya. Terlalu lembek. Tidak cocok dengan pari bakar. Lebih tidak cocok dipasangkan dengan sambal cabai dan kecap yang terlalu manis.
Sazali akui jika Laila punya ingatan yang cukup baik mengenai menu masakan masa kecilnya. Namun, sepertinya anak perempuannya itu buruk dalam merasa. Selalu ada makanan dengan rasa aneh cenderung tidak sedap dari berbagai makanan yang dia sajikan di meja.
Meski begitu, Sazali tetap akan menghabiskan sepiring nasi di hadapannya. Kemarin-kemarin Sazali baru meninggalkan dapur setelah menunggui anak perempuannya selesai makan. Namun, siang ini bibir pria itu gatal ingin bertanya.
“Kapan kau akan pulang ke kota?” tanya Sazali akhirnya. Saat nasi di piring anak perempuannya tinggal satu suap.
Begitu memasukkan suapan terakhir ke mulutnya, anak perempuannya itu menjawab, “nanti saja.” Lantas lekas mengambil piring-piring kotor, memisahkan sisa-sisa lauk untuk dimakan nanti malam, lalu membersihkan meja.
Sudah. Begitu saja. Percakapan mereka berakhir. Laila kembali masuk ke kamarnya, berkutat dengan sesuatu yang tidak pernah Sazali tahu, sementara pria itu kembali ke belakang rumah, mengipas-ngipas tubuhnya sejenak sebelum kembali merawat pohon-pohon cabai di sana.
***
“Apa pekerjaanmu baik-baik saja?” Pada kesempatan lain, Sazali bertanya. Di Jumat pagi ketika anak perempuannya menyajikan nasi terlalu lembek dengan telur dadar yang rasanya tidak aneh. Sazali tidak berangkat pagi-pagi sekali pagi itu. Kelasnya baru dimulai pukul sepuluh.
“Baik-baik saja,” jawab Laila. Tampak lebih tidak yakin daripada Sazali sendiri.
Sazali tidak lagi mengulik lebih jauh. Selama ini pria itu hanya tahu bahwa anak perempuannya bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia untuk warga negara asing. Meski terdengar mudah, diam-diam dari istrinya, Sazali tahu bahwa anak perempuannya melakukan pekerjaan yang berat. Lagi-lagi dari istrinya, Sazali tahu bahwa Laila sangat menyukai pekerjaannya. Maka tak heran jika Sazali heran apa yang menahan anak perempuannya itu tetap berada di kampung Melayu ini alih-alih kembali ke kota.
Pada saat-saat begitu, Sazali berharap anak perempuannya lebih banyak mewarisi sifat ibunya yang periang dan senang mengobrol. Atau kalau tidak, Sazali berharap mendapat keberanian untuk mengajak anak perempuannya mengobrol. Hal sederhana pun tak apa.
Sayangnya, anak perempuan selalu lebih mirip dengan ayahnya.
Hari-hari berlalu begitu saja. Sazali tetap pergi ke sekolah pada pagi hari pulang sorenya dan menghabiskan akhir pekan di kebun kecil di belakang rumahnya. Laila juga menghabiskan hampir sepanjang harinya di rumah. Anak perempuan Sazali itu baru akan meninggalkan rumah saat penjaja sayur lewat depan rumah atau ketika ada sesuatu yang ingin dia beli dari pasar. Sazali bahkan hampir tidak pernah melihatnya bercakap-cakap dengan satu orang pun.
Alhasil Sazali resah. Bukan perkara Laila kembali ke kota untuk melanjutkan pekerjaannya. Bukan pula karena Laila hanya menghabiskan waktu untuk mengurus rumah dan memasak. Lebih dari itu, keresahan Sazali berakar pada perasaan anak perempuannya yang tidak terbaca. Apakah dia marah, sedih, terpukul, kecewa, atau masih berkabung. Keresahan itulah yang membawa mereka pada percakapan agak panjang malam itu, saat Laila menyajikan sepiring nasi yang rasanya berbeda dari nasi yang dia masak tadi siang—Sazali akhirnya menemukan masalah terbesar anak perempuannya berada pada nasi.
“Kau tidak ingin pulang ke kota?” tanya Sazali memulai. Nasi di piringnya belum habis.
“Bapak tidak suka aku di sini?” Laila membalik pertanyaannya tanpa sedikitpun menoleh.
“Bukan begitu.”
Laila tidak bersuara.
“Bapak bisa mengurus diri sendiri.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin tinggal di rumah ini lebih lama.”
“Lalu pekerjaanmu?”
“Baik-baik saja.”
“Mana mungkin baik-baik saja kalau kau tidak melakukan apa-apa, Laila.”
Laila tidak menyahut. Nasi di piringnya tidak habis dan anak perempuan Sazali itu tak lagi melanjutkan makannya. Segera setelah Sazali menyelesaikan makan malamnya, Laila membersihkan meja makan dan mencuci piring. Lalu seperti malam-malam sebelumnya, Laila akan tenggelam dalam kamarnya sebelum membuat suara lagi di dapur besok pagi.
Malam itu perasaan anak perempuan Sazali masih belum tergali.
***
Entah di minggu ke berapa—Sazali sudah tidak menghitung—rasa sepiring nasi yang disajikan Laila pagi itu mirip nasi buatan istrinya. Jika minggu-minggu yang dihabiskan anak perempuannya itu bertujuan untuk menciptakan rasa makanan yang sama dengan rasa masakan ibunya, Sazali akui pagi ini Laila telah berhasil. Bahkan sambal ikan senangin yang dimasaknya memiliki rasa yang hampir mirip dengan buatan istrinya.
Sazali sampai menghabiskan dua piring nasi.
“Kau memasaknya dengan baik,” puji Sazali pada anak perempuannya.
Untuk kali pertama setelah kematian istrinya, Sazali melihat anak perempuannya tersenyum meski samar. Gadis itu tak lekas membereskan piring kotor dan membersihkan meja. Sebaliknya, diraihnya selembar kertas dari kursi kosong di sebelah kursinya—dulu ibunya duduk di sana—lalu menyerahkannya pada Sazali.
“Aku berhenti bekerja, Pak.” Katanya sebelum bergerak membersihkan meja.
Sazali hanya tersenyum memandangi surat pengunduran diri di hadapannya. Keresahannya menguap bersama perasaan anak perempuannya yang kini terbaca.
***
Hida Al Maida – Balai Bahasa Provinsi Aceh
