Arinda turun dari sepeda motornya. Hari ini, ia dan rekan-rekan kerjanya ada jadwal buka puasa bersama. Makanya sekarang ia berada di satu resto bernama Jambo Boh Kaye.
Angin dari pepohonan menyambut kedatangan Arinda, Jambo Boh Kaye ini dipenuhi dengan pohon buah. Paling banyak pohon anggur. Bertangkai-tangkai anggur merah, hijau, dan hitam tampak berjuntai dari belasan pohon anggur. Buahnya banyak dan besar-besar. Sesekali Arinda menghentikan langkah kakinya. Ia menatap takjub anggur-anggur ini. Ia suka anggur. Akan tetapi, ia hanya dapat menikmatinya sesekali. Harganya lumayan mahal untuk isi dompetnya, di atas seratus ribu rupiah. Gajinya sebagai pekerja di pabrik kue kering sekitar tiga jutaan setiap bulan.
Bulan puasa ini membawa berkah tersendiri. Pabrik kue kering tempatnya bekerja memproduksi ribuan stoples kue kering. Semuanya laris manis. Produksi kue kering meningkat berkali-kali lipat sesuai permintaan konsumen. Arinda dan rekan-rekan kerjanya mendapat tambahan penghasilan. Mereka tambah bersemangat bekerja. Malam pun mereka membuat kue. Pabrik menyediakan tempat menginap untuk karyawan yang bekerja di luar jam kerja rutin.
Suara riuh rekan-rekan kerjanya terdengar dari salah satu tempat makan lesehan. Tempat makan ini berbentuk gazebo besar. Atapnya dari genteng berwarna biru. Keramiknya warna biru muda. Meja makan sudah dipenuhi beragam makanan dan minuman.
“Ada anggur!” suara Arinda setengah berteriak.
Puluhan tangkai anggur merah, hijau, dan hitam diletakkan di atas piring-piring. Buah jeruk berukuran besar yang kulitnya oren pun disajikan bersama anggur.
“Ini enak banget. Buka puasa ada anggurnya. Ditambah lagi dengan jeruk,” seru Arinda pada teman-temannya.
“Bu Bos yang membelikan anggur dan jeruk untuk kita,” ujar seorang temannya yang bernama Hedi. Mereka biasa memanggil pemilik pabrik dengan sebutan Bu Bos.
“Bu Bos juga yang membayar buka puasa kita ini,” tambah Kia sambil merentangkan kedua tangannya ke arah hidangan yang disajikan di atas meja makan.
Meja makan dipenuhi aneka masakan termasuk masakan khas Aceh. Ada kuah beulangong, udeueng tumeh aceh, sie puteh, manok boh kulu, masak sie itek dan sie reuboh yang digoreng. Minuman mentimun dan pepaya yang isinya dikeruk pun ada.
Sudah setahun Arinda bekerja di pabrik kue kering. Suasana kerjanya menyenangkan. Penuh kekeluargaan. Makanya hampir semua karyawan betah bekerja di pabrik. Bahkan ada karyawan yang sudah bekerja selama tiga puluh tahun lebih. Ia sudah berhasil menyekolahkan dua anaknya dari penghasilannya di pabrik hingga kedua anaknya sarjana dan bekerja.
“Sudah bunyi sirine!” Hedi memberitahukan semuanya ketika terdengar sirine tanda waktu berbuka puasa sudah tiba. Ia juga memimpin baca doa buka puasa.
“Alhamdulillah, segarnya,” Arinda baru saja meneguk minuman mentimun yang rasanya segar. Apalagi sekarang musim panas. Matahari bersinar terik. Minum minuman seperti ini rasanya begitu nikmat di tenggorokan.
Selesai mereka salat magrib, Bu Bos membagikan satu tas jinjing untuk karyawan. Arinda penasaran dengan isinya.
“Alhamdulillah, isinya anggur, melon, dan jeruk,”
“Apa ini?” Arinda menarik satu amplop dari dalam tas jinjing. Isinya uang satu juta rupiah.
“Alhamdulillah. Terima kasih Bu Bos. Uang ini dapat digunakan untuk persiapan Idulfitri,”
Semua karyawan tersenyum senang. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan bahagia.
Nurhaida
Balai Bahasa Provinsi Aceh, Maret 2026
