SERUNYA BELAJAR BAHASA DAERAH

Cerita Anak dalam Rangka Memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional

SERUNYA BELAJAR BAHASA DAERAH

            “Kiban Ayah, peuna mangat teumon bu sawoe nyoe?

            Afida menoleh ke arah ayah dan ibunya. Mereka sedang makan sahur. Ibu sudah memasak sie reuboh dan sie masak itam. Kedua masakan ini merupakan masakan khas Aceh Besar. Ibu memasak sebagai pelengkap, kuah sayur gambas, wortel, dan taoge serta kerupuk mulieng.

            “Keubiet that mangat. Carong that Mak maguen,” terdengar lancar sahutan dari ayah.

            Apa-apaan ini? Biasanya di rumah Afida bersama ayah dan ibunya, mereka selalu berbahasa Indonesia. Ibu orang Aceh. Ayah orang Jawa. Afida jadi bingung. Ia tak bisa bahasa Aceh. Ia juga tak bisa bahasa Jawa.

            “Ayah, tamah lom eungkot sie!” ibu menyodorkan semangkuk sie reuboh yang asapnya masih mengepul.

            “Kasep dile, Mak. Ayah ka troe,”

            Afida tertawa sedikit mendengar logat ayah ketika berbahasa Aceh. Logatnya bercampur logat Jawa. Akan tetapi, ini seru, menurut Afida. Kedua orang tuanya memiliki bahasa daerah yang berbeda.

            “Kamu juga harus belajar bahasa daerah Afida!” ujar ibu mengingatkan.

            “Ini ayahmu sedang belajar bahasa Aceh. Ibu juga akan belajar bahasa Jawa. Bahkan, ibu juga ingin belajar bahasa-bahasa daerah lainnya dari seluruh nusantara. Apalagi negara kita ini memiliki 718 bahasa daerah yang tersebar di seluruh nusantara. Ini suatu kekayaan yang luar biasa untuk bangsa kita,”

            “Ya Bu, Afida akan belajar bahasa daerah, Bu,” janji Afida.

Mak, tamah lom bu bacut!”

Mbok, tambahi sego sithik!”

            “Wah, pintere!” puji ayah dalam bahasa Jawa ketika menyaksikan Afida mulai praktik berbahasa daerah.

            “Carong that,” kata ibu dalam bahasa Aceh.

            Afida tersenyum senang, Ia akan belajar bahasa daerah dan akan membiasakan menggunakan bahasa daerah di rumah bersama keluarganya.

Balai Bahasa Provinsi Aceh, Kamis. 19 Februari 2026

Cerita ini Ditulis oleh Nurhaida, Tim Kerja Pelindungan dan Pemodernan di Balai Bahasa Provinsi Aceh

Tinggalkan balasan!