Ibu Pertiwi

(Oleh: Novita Maharani)

Kilatan cahaya dari banyak kamera berebutan membidiknya. Tiwi berusaha tetap tersenyum meski bahkan untuk melihat dengan benar pun terasa sulit pada saat seperti ini. Tak lama, seseorang terlihat mempersilakannya untuk duduk di kursi yang berada di tengah panggung kecil dengan meja panjang di depannya. Tiwi segera menuju kursi itu dan mendudukkan diri di sana. Di meja di hadapannya saat ini sudah tersedia microphone, sementara puluhan kursi di depan panggung terlihat sudah diisi oleh wartawan lokal, luar kota, bahkan luar negeri.

Meski sudah sering berada di posisi seperti sekarang, Tiwi tetap tidak pernah nyaman berada di depan banyak orang sebenarnya, apalagi dengan banyak kamera. Profesinya memaksa ia harus membiasakan diri dengan ini. Namun, kali ini Tiwi akan mencurahkan yang terbaik yang ia punya, sebab ini akan menjadi kali terakhir baginya.

Seorang gadis yang duduk tak jauh dari Tiwi memandang ke arahnya, lantas mengangguk perlahan. Tiwi membalas anggukan itu, memberi isyarat bahwa ia sudah siap dirundung pertanyaan-pertanyaan ke depan.

Pewara–gadis tadi–membuka acara itu dengan lancar. Ia juga memberi beberapa pertanyaan retorik kepada Tiwi, yang membuat hadirin terhibur dan suasana menjadi lebih hidup. Tak lama, pembawa acara itu mempersilakan Tiwi menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.

“Sebenarnya, tak banyak yang bisa aku sampaikan.” Tiwi memulai kalimatnya. “Hanya saja konferensi pers ini dibuat karena aku yakin teman-teman di sini pasti punya beberapa pertanyaan yang harus terjawab, terlebih ini akan menjadi yang terakhir bagiku.”

Tiwi menatap sekilas deretan hadirin di depannya. Ada beberapa wajah yang sudah tak asing di pandangannya. Semua terlihat mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.

“Seperti yang kalian tahu, konferensi pers ini dibuat untuk menyatakan pensiunnya aku sebagai atlet, sekaligus peresmian sekolah yang baru-baru ini selesai dibangun. Jika kalian juga tahu, aku pernah mengatakan bahwa akan pensiun setelah dua puluh tahun berkarir, dan aku telah menghabiskan dua puluh tahun berharga itu, maka di sinilah aku saat ini.”

“Tentang mendirikan sekolah, niat ini sudah muncul bahkan sebelum aku menjadi atlet. Tentu aku sangat bahagia ketika niat itu akhirnya terealisasi hari ini. Sebagaimana tujuan dan fungsi sekolah itu sendiri, aku berharap sekolah ini mampu memberi pendidikan yang layak bagi anak-anak bangsa, terkhusus yang tidak dan kurang mampu secara finansial.”

Setelah menyampaikan apa yang bisa ia sampaikan, Tiwi memberi isyarat kepada pembawa acara. Gadis itu langsung mengambil alih acara kembali.

“Baik. Kita akan masuk ke sesi yang paling ditunggu, yaitu sesi tanya jawab. Kami persilakan bagi yang ingin bertanya untuk mengacungkan tangan.”

Sontak para wartawan yang hadir sibuk mengangkat tangan mereka. Tiwi tersenyum dengan matanya. Sepertinya konferensi pers kali ini akan berlangsung lebih lama dibanding sebelum-sebelumnya. Setelah dipersilakan untuk berbicara, wartawan yang mendapat giliran langsung menyebutkan nama dan asal kantor atau medianya sebelum mengajukan pertanyaan.

“Apakah benar, Anda selalu mengalokasikan seluruh pendapatan hasil menang kejuaraan ataupun bonus dari pemerintah untuk pembangunan sekolah ini?”

Tiwi mendekatkan kembali microphone-nya. “Tidak seluruhnya. Aku mengambil sedikit dari itu. Aku juga butuh makan.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan candaan.
Kontan saja candaan itu mengundang gelak tawa.

“Lantas, apa motivasi terbesar Anda membangun sekolah gratis ini?”

Tiwi terdiam sejenak. Ia memandang wartawan yang bertanya tadi dan wartawan lain dengan pandangan yang sulit diartikan. Pertanyaan itu seperti memanggil seluruh kenangan yang bersemayam dalam hatinya, menguarkan rasa haru yang tak mampu ia cegah. Sambil tersenyum dan berkaca-kaca, lantas Tiwi menjawab dengan tegas dan penuh kebanggaan.

“Ibuku.”

*

Tiwi mengingat ibunya sebagai sosok setegar karang sekaligus selembut kapas. Ibunya bahkan tak pernah menikah. Ia menjadikan Tiwi anak setelah tanpa sengaja menemukan Tiwi yang masih bayi dalam sebuah kardus beralas sarung di bawah pohon dekat rumah. Namun, ibunya selalu berkata itu bukan ketidaksengajaan, melainkan takdir Tuhan.

Kasih Ibu tentu setara dengan kasih ibu-ibu lain yang memiliki darah dagingnya sendiri. Meski darahnya tak pernah mengalir dalam tubuh Tiwi, Ibu bagai rela berdarah-darah demi memberi kehidupan yang terbaik untuk Tiwi.

Pernah suatu ketika, Tiwi pulang ke rumah dalam keadaan berlumpur. Tiwi yang masih berusia lima tahun waktu itu membuka pintu sambil tersedu-sedu. Ia bahkan lupa mengucap salam dan melepas sepatu.

Ibu yang sedang di dapur langsung keluar menghampiri gadis kecilnya. Dibanding langsung bertanya, Ibu justru langsung memeluk Tiwi. Tak peduli lumpur yang ikut menempel di bajunya, Ibu mengelus lembut surai hitam gadis kecilnya itu penuh kasih. Ibu pun akhirnya bertanya saat tangis Tiwi mulai mereda.

“Tiwi kenapa, Nak?”

Masih dengan sisa-sisa air mata dan sengguknya, Tiwi menjawab, “Alin, Bu. Alin dorong Tiwi ke kubangan di jalan depan.”

Alin adalah anak tetangga sekaligus teman sekelas Tiwi di TK. Setahu Ibu, selama ini mereka baik-baik saja dan tak pernah bertengkar.

“Kenapa Alin dorong Tiwi?” Ibu bertanya lagi.

Tiwi mengusap hidung dengan punggung tangan kecilnya. “Katanya, Tiwi bukan anak Ibu. Tiwi cuma anak buangan. Dia tidak mau berteman dengan anak buangan.”

Mata Ibu sedikit melebar, tak lama terlihat berkaca-kaca. Ibu menggigit bibir. Tiwi tidak pernah melihat Ibu seperti itu sebelumnya. Tangan Ibu tiba-tiba terangkat, mengusap cipratan lumpur yang menempel di wajah mungil Tiwi. Kemudian tanpa bersuara lagi, Ibu segera menggandeng tangan Tiwi untuk mengikutinya ke luar rumah.

Ternyata Ibu membawa Tiwi ke rumah Alin. Anak itu terlihat bermain dengan beberapa anak lain di halaman rumahnya. Alin yang menyadari kehadiran Tiwi dan Ibunya terlihat sedikit ketakutan. Tetapi Ibu justru tersenyum, ia memanggil Alin untuk mendekat.

Dengan ragu, Alin mendekat. Ibu kemudian menggandengnya dengan sebelah tangan–yang satunya masih menggenggam milik Tiwi–dan membawa mereka ke jalan kecil depan rumah. Di sana, terlihat kubangan penuh air hujan semalam yang dimaksud Tiwi tadi.

Ibu melepas genggamannya pada Tiwi sambil tersenyum dan menyuruhnya menunggu sebentar. Lantas Ibu menggendong Alin dan membawanya lebih dekat ke kubangan itu. Meski bingung dan takut, Alin terlihat tak berkutik. Ibu tiba-tiba menurunkan Alin kembali tepat di hadapan kubangan itu. Kemudian mendorong punggung kecil itu ke arah kubangan.

Tiwi memejamkan mata. Ia hanya bisa mendengar jeritan Alin. Tak lama, gadis kecil itu membuka matanya kembali. Alin ternyata tidak jatuh ke kubangan. Ibu menahan tubuhnya dengan tangannya yang tadinya bebas. Setelahnya, Ibu berjongkok di hadapan Alin yang mulai mengeluarkan air mata.

Ibu menyuruh Tiwi mendekat. Gadis kecil itu melangkah perlahan menuju ibunya dan Alin yang masih sibuk mengusap air mata. Setelah Tiwi berdiri di samping Ibu, Ibu menghapus air mata Alin dengan kedua ibu jarinya.

“Bibi tidak bermaksud mendorongmu. Kau bahkan tidak jatuh ke dalam kubangan, tetapi kau bisa ketakutan dan menangis karena ini. Coba bayangkan betapa sakitnya hati Pertiwi ketika kau mendorongnya hingga tubuhnya dipenuhi lumpur.”

Alin menunduk. Air matanya juga mulai surut. Anak itu diam saja ketika Ibu mengelus kepalanya.

“Alin, Pertiwi itu anak Ibu. Dia juga seorang gadis kecil berharga, seperti kau yang begitu berharga bagi ibumu.”

Alin mendongak. “Tapi, Alin pernah dengar Ibu bercerita dengan ibunya Arif dan Thomas kalau Tiwi itu anak yang dibuang, kemudian Bibi mengambilnya. Lalu tidak ada yang mau menikahi Bibi karena itu.”

Ibu kembali menggigit bibirnya. Dari situ, Tiwi tahu bahwa itu adalah sikapnya ketika menahan amarah. Tak berselang lama, Ibu Alin terlihat berlari kecil ke arah mereka.

Ibu menatap Ibu Alin tajam, lalu ia menghela napas pelan dan kembali berbicara pada Alin. “Bukan. Yang mengirim Pertiwi kepada Bibi itu Tuhan, tidak ada sama sekali yang membuangnya. Alin anak yang baik, kan? Cukup dengarkan perkataan yang baik-baik saja, ya?”

Ibu kemudian bangkit. Setelah menepuk pelan bahu Alin, Ibu kembali menggenggam tangan Tiwi dan mengajaknya kembali ke rumah. Ibu Alin terlihat kembali melangkah mendekati anaknya setelah sempat berhenti sebentar mendengar kalimat Ibu Tiwi tadi. Ketika posisi mereka bertemu, Tiwi bisa mendengar Ibu mengucapkan sesuatu kepada Ibu Alin.

“Kisah macam apa yang kau perdengarkan kepada anak-anak?”

Ibu Alin terlihat menunduk. Tiwi dan Ibu kembali melangkah menuju rumah. Sebelum terlalu jauh, Tiwi mendengar Alin menyerukan namanya. Gadis kecil itu pun kembali menoleh ke belakang.

“Maafkan aku, Pertiwi.”

Tiwi memberi senyum samar. Saat ia menatap Ibu, Ibu juga tersenyum. Kemudian mereka kembali berjalan pulang.

“Tiwi kira Ibu akan mendorong Alin tadi.”

Tiwi langsung bersuara ketika mereka tiba di rumah. Ibu masih diam sampai mereka tiba di sumur belakang rumah, tempat mereka biasa mandi.

“Melakukan hal buruk kepada orang yang bersikap buruk kepada kita tidak akan membuat kita menjadi lebih baik, Nak. Lagi pula, Alin masih kecil, sama sepertimu. Dibanding memarahi, lebih baik Ibu memberinya pengertian.” Ibu berkata sembari melepas seragam Tiwi.

“Tapi, apa benar Ibu tidak bisa menikah karena ada aku?”

“Tidak. Ibu tidak menikah karena Ibu merasa cukup dengan hidup bersamamu.”

“Berarti, Ibu benar-benar Ibuku, kan?”

Tangan Ibu yang baru saja akan mengambil gayung dari ember mendadak berhenti di udara. Kemudian, Ibu memfokuskan tatapannya ke wajah Tiwi yang masih menunggu jawaban.

“Apa harus melahirkan untuk menjadi seorang Ibu? Apa Ibu harus menikah dulu untuk bisa menjadi ibumu?”

Setelah balik bertanya, Ibu terlihat mengusap cepat sudut matanya yang tiba-tiba berair. Melihat itu, Tiwi jadi merasa bersalah.

“Maaf, Bu.” Tiwi melingkarkan kedua tangan kecilnya ke leher Ibu. “Kalau begitu, Tiwi ingin membantu Ibu di pasar mulai besok, boleh?”

Ibu melepas pelukan Tiwi dan menatap matanya penuh penolakan. “Tidak. Waktu kerja Ibu sama seperti waktu sekolahmu.”

“Tiwi tidak ingin sekolah lagi, Bu.”

Ibu mengernyitkan dahi. Sejurus kemudian, ia bertanya ragu-ragu, “Apa Tiwi takut ada yang mengolok lagi?”

“Bukan. Tiwi tidak tega melihat Ibu bekerja keras sendirian.” Gadis kecil itu mengelus bekas-bekas luka yang ada di tangan ibunya. “Tiwi ingin meringankan beban Ibu.”

Ibu menghela napas dan langsung memegang kedua pundak Tiwi. “Tiwi, dengar. Ibu tidak pernah merasa terbebani sedikit pun, justru Ibu merasa terberkahi setiap hari karena bisa melihatmu tumbuh.”

“Tapi, selain itu, Tiwi tidak suka belajar, Bu. Tiwi rasa Tiwi ingin menjadi atlet suatu hari nanti.”

Ibu tertawa sejenak. “Benarkah? Wah, Ibu tidak menyangka kau sudah punya cita-cita!”

Tiwi tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putih susunya.

“Tetapi, Nak. Belajar itu adalah suatu kepentingan, hal dasar yang mesti kau lakukan sebagai kanak-kanak bahkan hingga nanti. Ibu tentu mendukung keinginanmu, tetapi apa kau mau menjadi atlet yang tidak bisa baca, tulis, hitung?”

“Ibu tidak ingin kau seperti Ibu, yang bahkan tidak tamat sekolah dasar. Ibu ingin kau sekolah setinggi-tingginya. Karena bukan hanya harapan Ibu yang ada di pundakmu, tetapi juga harapan negeri ini, harapan ibu pertiwi. Jika kau belajar sungguh-sungguh, cita-cita apa pun akan menjadi jauh lebih mudah diraih.”

“Dan sebagai seorang Ibu, sudah sepatutnya Ibu bertanggung jawab terhadap pendidikanmu. Kau tak perlu memikirkan hal lain, sebab suatu hari nanti, akan tiba gilirannya padamu. Kau mungkin akan memegang tanggung jawab yang lebih besar dari ini.”

Meski tak sepenuhnya mengerti. Tiwi mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ibu. Dalam hati, ia berjanji akan menuruti perkataan Ibu, dan membuatnya bangga suatu hari nanti.

“Terima kasih banyak, Bu.”

Ibu menarik Tiwi kembali dalam dekapannya. “Tidak, Ibu yang berterima kasih. Terima kasih banyak karena telah hadir dalam hidup Ibu.

*

“Ya, ibuku adalah motivasi terbesarku mendirikan sekolah ini. Ia tak pernah menyelesaikan bangku sekolah dasar, tetapi ia bahkan mampu menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Dan kalian tahu, alasan ia memberiku nama Pertiwi? Itu karena ia ingin aku menjadi seperti bumi pertiwi, yang seharusnya senantiasa bersikap penuh kasih pada bangsa ini. Jadi, sebenarnya yang paling berperan banyak adalah ibuku. Aku hanyalah perantara tangannya yang ingin memeluk anak-anak yang kurang beruntung itu.”

Hadirin terlihat mendengar penuh khidmat. Mereka seakan-akan bisa merasa haru yang sangat pada setiap aksara yang Tiwi lontarkan.

“Sungguh kisah yang luar biasa.” Seorang wartawan kembali memegang microphone. “Izinkan aku juga bertanya, lantas apakah keputusan pensiun ini semata-mata karena perkataanmu di masa lalu tentang waktu berkarir dua puluh tahun itu? Atau ada alasan lainnya?”

Tiwi tersenyum. Ia terlihat menerawang sebentar ke langit-langit, sebelum akhirnya menatap kembali ke seluruh ruangan, ke arah hadirin yang menanti jawabannya.

“Mungkin, karena aku juga telah berencana menjadi seorang ibu. Aku ingin menghabiskan seluruh hidup dengan lebih banyak waktu melihat tumbuh kembang anak-anakku nanti.”

Tinggalkan balasan!