Daging Makmeugang

            “Bunda, aku ingin makan daging semur. Hari ini kan hari Makmeugang,” kata Komi yang berusia tujuh tahun pada bunda  yang sedang mencuci lima butir telur.

            “Komi tidak minta banyak-banyak, Bunda, Hanya satu masakan saja,” anak laki-laki berusia tujuh tahun itu memperhatikan bunda yang sedang mencuci telur.

            “Jangan masak telur terus dong Bunda, bosan,” protes Komi.

            Bunda  tersenyum. Kemudian melanjutkan pekerjaannya mengocok telur, mencampurkannya dengan bumbu, dan menuangkannya ke dalam wajah berisi minyak goreng.

            “Ini yang ada. Ayah belum gajian. Kita hanya punya telur dan tahu,”

            “Tadi kan Bunda, Gama cerita, mamanya mau masak daging rendang dan sup. Enak kalilah itu, Bunda,”

            “Ya, memang enak. Akan tetapi, sekarang kita belum mampu membeli daging seperti tahun lalu,”

            “Uang gaji ayah bulan ini sudah habis untuk membayar uang kuliah abangmu,” sambung bunda.

            “Ya sudah, kalau tidak ada daging. Komi tidak mau makan.” Komi merengut. Ia merajuk dan meneruskan langkah kakinya hingga ke samping rumah. Ia duduk di kursi panjang yang berhadapan langsung dengan bagian samping rumah Gama. Melalui kaca jendela kaca, Komi bisa melihat mama Gama yang sedang mengaduk-aduk masakan di atas kompor. Harum bau sup daging dan rendang daging terbawa hingga ke hidung Komi.

            “Sedapnya,” gumam Komi.

            Bunda muncul dari dalam rumah. Ada sepiring nasi dengan telur dadar, kerupuk, perkedel tahu, dan tumis bayam yang dibawakan bunda. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat tiga puluh menit. Komi sudah lapar. Bunda meletakkan piring berisi nasi di samping Komi.

            “Nasinya dimakan ya!” pesan bunda. Komi mengangguk. Perutnya sudah bebar-benar lapar.

Gama muncul dari dalam rumahnya. Ia membawa satu piring nasi yang berkuah. Tampaknya itu nasi pakai kuah sup daging.

            “Hmmm, enaknya,” gumam Komi.

            “Aku makan nasi pakai sup daging,” kata Gama dari samping rumahnya. Suaranya terdengar jelas di telinga Komi.

            “Kamu makan nasi pakai apa?” tanya Gama.

            “Aku makan nasi pakai telur dadar. Bunda dan ayah tak punya uang untuk membeli daging,” sahut Komi.

            “Kasihan,” ujar Gama sambil mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.

            Komi memandangi piring nasinya. Rasa lapar membuatnya ikut makan.

            Mama Gama keluar dari pintu samping rumah. Ia membawa satu nampan berisi satu piring dan satu mangkuk. Ia menghampiri Komi.

            “Halo Komi. Ini Tante Erna bawakan satu piring rendang daging dan satu mangkuk sup daging. Tante bawa masuk ke dalam ya!”

            “Alhamdulillah, terima kasih, Tante. Jadi nih Komi makan daging juga.” Komi tersenyum senang.

Nurhaida, Balai Bahasa Provinsi Aceh, Februari 2026

Keterangan

Makmeugang atau meugang merupakan tradisi dalam masyarakat Aceh untuk memasak daging yang dilakukan sehari sebelum bulan Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Tradisi ini merupakan  kesempatan keluarga untuk berkumpul dan makan bersama. Tradisi meugang dimulai sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Tinggalkan balasan!