Harga Duka

“Berapa banyak harta yang diperlukan manusia agar selamat di dunia dan akhirat?” 

Siang itu, cahaya matahari menembus jendela, jatuh tepat pada pigura  yang warnanya sudah menguning di beberapa sisi. Di dalam bingkai itu,  tampak Eka Asih yang masih berusia dua puluh satu tahun. Matanya  berbinar, senyumnya penuh, dihiasi lesung pipi dalam—yang selalu mampu  menenggelamkan lelah suaminya, Umar. Foto itu diambil dua puluh lima tahun lalu, sesaat setelah Asih dan Umar mengikat janji suci. Umar terpaku memandangi pigura itu dengan hati yang nelangsa. 

Sudah tiga hari sejak Asih berpulang. Meski begitu, Umar merasa kalau Asih masih ada di mana-mana. Asih ada di dapur saat mengulek  sambal terasi kesukaannya, pedas, gurih, dan sedikit asam. Asih ada di ruang depan, sibuk menjahit payet pada kain pesanan. Tak lupa kacamata yang kadang melorot dari tulang hidungnya. Asih juga ada di kamar tidur mereka, berbaring dengan wajah pucat dan badan yang sangat kurus.  

Sebelum meninggal, Asih terserang penyakit yang kemudian menjadi penyebab kepergiannya. Kamar itu adalah tempat terakhir Asih benar-benar masih ‘ada’. Wajahnya yang sayu masih dapat dilihat, tangan lembutnya masih dapat digenggam. Umar bahkan masih bisa mengingat  bagaimana deru napas Asih yang perlahan melemah seiring jiwanya yang  menghilang. Saat itu Umar tahu bukan hanya jiwa Asih yang menghilang,  jiwanya pun ikut lenyap.  

Sejak kepergian Asih, selepas magrib Umar selalu menyuguhkan teh hangat dan kue untuk para tetangga yang datang mengirim doa bagi  almarhumah istrinya. Hal tersebut merupakan tradisi kampung Cendana dan biasanya berlangsung sampai hari ke-7 setelah peringatan kematian. 

“Nanti hari ke-7 mendiang, Bapak buat tahlilan kan?” tanya Kuneni,  tetangga yang terpaut lima rumah dari rumah Umar. Dia sudah selesai membaca yasin dan hendak berpamitan kepada Umar.  

Umar mengangguk, “Iya, Bi.” 

Ana berkate, Pak? Soalnya orang sini biasanya lebih senang kalau ada berkat,” kata Kuneni dengan bibir manyun dan mata melotot—ekspresi  khas ibu-ibu yang gemar bergosip. Umar merasa ganjil membicarakan ini, seakan urusan suguhan jauh lebih genting daripada duka yang masih menggantung di rumah itu.

Ingsa Alloh,” ujar Umar singkat. Sejujurnya dia belum memikirkan  apa yang akan diberikan nanti. Uangnya di dompet tinggal tiga ratus ribu.  Dia bahkan masih harus menyediakan teh dan kue selepas magrib untuk  para tetangga yang datang ke rumahnya sampai hari ke-6.  

Karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, Kuneni  bergegas pamit. Begitu juga dengan para tetangga yang satu per satu  mulai meninggalkan rumah Umar. Malam itu, Umar tenggelam dalam  pikirannya. Baginya, kematian adalah api yang mengubah kenangan tentang Asih menjadi abu, dan kemiskinan adalah angin yang menyapunya hingga tak bersisa. Dia tidak lagi punya kesempatan untuk meratap. Dia  harus menemukan cara untuk mencukupi biaya tahlilan.  

Malam berganti pagi, Meskipun berpikir keras semalaman, Umar hanya dapat memikirkan dua cara. Cara yang pertama adalah dengan  meminjam uang. Meskipun perasaan segan melingkupinya, Umar memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah beberapa tetangga yang  dia percaya. Namun, sebanyak pintu yang diketuk, sebanyak itu pula  penolakan yang dia terima. Tidak hanya menolak, sebagian bahkan  mencibir, “Pamali, Pak, minjem-minjem buat tahlilan!” 

Cara yang kedua adalah dengan menjual cincin kawin milik Asih. Dewi, anak Umar yang mengetahui keinginan bapaknya menolak dengan  tegas. Dewi berpikir bahwa tradisi seperti itu lebih banyak membawa kesengsaraan daripada kebaikan. Meskipun dia punya uang, dia akan lebih ikhlas mengeluarkan uangnya untuk pemakaman ibu yang lebih layak daripada harus memberi makan para tetangganya secara terpaksa.  

“Nggak usah memaksakan diri, Pak. Itu kan satu-satunya barang  peninggalan Ibu. Bapak nggak kasihan, tah, sama Ibu?”

“Justru Bapakmu ini kasihan sama Ibu, Wi. Tetangga bilang kalau tidak ada nasi kotak maka tidak akan ada yang datang mendoakan Ibu.” 

“Memangnya doa dari aku dan Bapak nggak cukup?” 

Bli cukup, Wi. Kata Ustaz Harun, semakin banyak yang mendoakan, semakin besar pula kemungkinan doa itu dikabulkan.” 

“Pak, orang-orang itu datang bukan karena mau mendoakan Ibu!”  Suara Dewi meninggi. Dia menunjuk ke arah pintu depan, seakan ingin  menusukkan amarahnya pada para tetangga yang sedang lalu-lalang di sana. 

Lah, tahlilan kan memang isinya doa-doa! Maksude preben?”

“Mereka datang karena berkat, Pak! Karena makanan.” 

Nyebut, Wi! Kamu berani bilang kalau Ustaz Harun itu datang karena makanan?” Umar akhirnya terbawa emosi.  

“Ya kalau betul-betul mau mendoakan, harusnya datang aja meskipun nggak ada berkat,” ucap Dewi, suaranya merendah perlahan. Dia  menahan diri, tidak ingin beradu mulut dengan satu-satunya orang tua yang  masih dimilikinya. 

“Kita ini lagi berduka, Pak. Seharusnya kedatangan mereka bikin kita  seneng, bukan malah merepotkan begini”, lanjut Dewi. 

“Kalau kita nggak kasih apa-apa, nggak ada tata kramanya, Wi.  Mereka, kan, sudah mengirimkan doa untuk ibumu. Jadi, harus ada yang kita beri juga. Aja medit.” 

“Bukan pelit, Pak. Keadaan kita sekarang nggak memungkinkan.  Kenapa selalu kita yang memahami mereka, sih, Pak? Kapan giliran mereka yang memahami kondisi kita?”, tegas Dewi. 

“Tapi, Wi. Kalau kita nggak bikin tahlilan…,” 

“Terserah Bapak bae lah.” Dewi beranjak meninggalkan bapaknya.  Dia lelah sekali berdebat dengan bapaknya sebab bapaknya lebih sudi mendengarkan orang lain daripada anaknya sendiri. 

Setelah perdebatannya dengan Dewi, diam-diam Umar merasa sesak. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya menentang perkataan Dewi. Tapi dia masih tidak tahan jika harus mendengar tetangganya berbicara tentang  betapa malangnya Asih memiliki suami sepertinya. Dia juga teringat apa  kata orang tentang Bi Misnen, janda tua yang mengadakan tahlilan untuk  suaminya tanpa nasi kotak.  

“Masa tahlilan buat suami sendiri cuma air mineral dan kue?” 

Cibiran itu bahkan masih terdengar setelah 1 bulan acara tahlilan diadakan. Bi Misnen hanya bisa menangis diam-diam karena dia tinggal sebatang kara tanpa anak dan sanak saudara.  

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Umar menjual cincin kawin Asih. Dewi kesal padanya, tapi Umar tetap tidak goyah. Meskipun  begitu, saat dia akan menjual cincin tersebut di toko emas, ada perasaan sedih yang menjalar di hatinya. Sebelum dia menyerahkan cincin itu kepada  Wa Casmadi, pemilik toko emas di dekat pasar, Umar memandangi cincin  tersebut lekat-lekat. Cincin itu adalah lambang perjuangannya untuk  mempersunting Asih. Dibeli dengan keringatnya berbulan-bulan, ditabung sedikit demi sedikit. Benda yang dulu begitu dijaga kini justru harus dia ikhlaskan. Sama seperti dia yang harus mengikhlaskan Asih, istrinya, kekasih hatinya.  

Berbekal uang satu juta hasil menjual cincin kawin Asih, Umar memesan lima puluh nasi kotak untuk tahlilan esok hari. Dia memantapkan hatinya, berharap ini adalah jalan yang paling tepat.  

Malam tahlilan tiba, terlihat para tetangga memenuhi rumah Umar.  Ibu-ibu menggunakan gamis duduk bersisian, bapak-bapak merokok sambil  bercakap-cakap. Beberapa dari mereka berbisik, “Kira-kira berkate isie apa,  ya?” 

Ustaz Harun datang terakhir lalu menyalami Umar dan mengucapkan belasungkawa. Hadirnya Ustaz Harun menandakan dimulainya tahlilan tersebut. Zikir dan doa mulai bergema, tetapi Umar tidak bisa khusyuk. Dia sibuk menghitung warga yang hadir. “Cukup tidak ya nasi kotaknya?”  

Tahlil selesai. Dewi, sambil menekan perasaanya, membagikan nasi kotak kepada para tetangga yang hadir dalam acara tersebut. Namun seperti yang ditakutkan oleh Umar, ada beberapa warga yang tidak kebagian. Beberapa tamu pulang dengan muka masam. Sisanya berbisik-bisik, “tau gitu mending tidur di rumah aja,” yang dibalas anggukan oleh tetangganya  yang lain.  

Semua tetangga sudah pulang, menyisakan Umar, Dewi, dan keheningan yang nyaring sekali. Jika ada jurang di depannya saat ini, maka  Umar akan melompat ke dalamnya. Wajah Umar merah padam, dia merasa malu sekali. Tahu begini, dia tidak perlu menjual cincin milik Asih. Cukup teh dan kue seperti malam sebelumnya saja. Cukup kue dan air mineral seperti Bi Misnen saja. Benar apa kata Dewi. Tapi Umar terlalu malu untuk  mengakui kesalahannya.  

Dewi yang melihat bapaknya hanya bisa menghela napas. Wis nggak apa-apa, Pak. Biarin aja orang ngomong apa. Yang penting niat kita baik.” 

Umar masih terdiam. Tiba-tiba air mata yang berusaha dia tahan sejak hari pertama jatuh. Bukan mengalir, bukan menetes. Berderai. Umar menangis sejadi-jadinya.  

Dewi panik. Bapaknya tidak pernah seperti ini sebelumnya.  Jangankan menangis, bapaknya tidak pernah menunjukkan bahwa dia sedang kesulitan. Diusap-usapnya punggung bapaknya. Hatinya juga sakit.  Dia ditinggal oleh ibunya. Orang-orang mencemooh bapaknya. Jika ditanya siapa yang paling sedih, maka jawaban sebenarnya adalah Dewi. 

“Bapak goblok pisan ya, Wi.” 

“Engga, Pak. Mereka saja yang nggak peka terhadap kesulitan orang lain.”

Umar menangkupkan telapak tangan di wajahnya. “Bapak cuma mau ibumu senang karena banyak yang mendoakannya.” 

“Pak, Ibu pasti lebih senang kalau Bapak yang doakan. Ibu nggak  butuh banyak orang, Pak. Ibu cuma butuh orang yang tulus mendoakannya.  Siapa yang bisa lebih tulus mendoakan Ibu selain Bapak dan Dewi? Kalau Ibu masih di sini, Dewi yakin Ibu pasti akan bilang begitu.” 

Tangis Umar makin menjadi. Malam itu, di umurnya yang ke-53  tahun, Umar belajar satu hal lagi. Benar kata Dewi, Asih lebih butuh doa dari orang yang tulus menyayanginya. 

*** 

“Assalamualaikum warahmatullah.” Umar menolehkan wajahnya ke kiri. Menandakan bahwa salatnya telah selesai. Segera dia menadahkan tangan serta menyebut doa-doa pembawa keselamatan, keberkahan, dan kesehatan untuk Dewi dan dia sendiri. Didoakannya juga Asih, istrinya yang sangat ia kasihi. 

Umar menolak mengadakan tahlilan 40 hari. Dia tidak peduli dengan  apa yang akan dikatakan orang-orang padanya. Dewi juga sudah kembali ke kota untuk melanjutkan kuliahnya. Jadi setidaknya, Dewi tidak akan mendengar hal-hal yang tidak  mengenakkan lagi. Biarlah Umar saja yang menanggung ocehan tetangganya. Dia ingin anaknya tumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik. Lingkungan yang penuh empati, yang justru menolong jika orang terdekatnya kesulitan. Bukan malah memberatkan dan mencemooh. 

Baru saja Umar melipat sajadahnya, terdengar pintu depan diketuk tiga kali disertai dengan ucapan salam yang agak keras. 

“Waalaikumsalam, sebentar!” ucap Umar agak keras agar orang  tersebut bisa mendengarnya. Umar buru-buru membuka pintu. Dia bahkan belum melepas kain sarung yang digunakan untuk salat ashar tadi. Terlihat  Pak RT berdiri di depannya dengan map hijau di tangan.  

“Pak Umar, arep urus akta kematian Bu Asih, beli?”

Karena melihat Umar terdiam, Pak RT melanjutkan kalimatnya,  “siapa tahu bapak mau kawin lagi.” 

“Saya tidak mau menikah lagi, Pak.”  

“Tapi akta kematian itu penting pisan, Pak. Untuk–” 

“Nanti saya urus sendiri saja, Pak.” 

“Susah loh, Pak, kalau mau urus sendiri. Kalau saya yang urusin  bisa cepat selesai. Nanti Bapak bakal dioper-oper kayak bola! Kalau nggak punya orang dalam nanti Bapak dipersulit! Nanti Bi Asih nggak tenang kalau urusannya di dunia belum selesai, Pak.” 

Umar menghela napas. “Tidak apa-apa, Pak. Di sini kan, yang hidup dipersulit, yang sudah pergi pun belum tentu selesai urusannya.”

Mendengar ucapan Umar, wajah Pak RT langsung memerah. Entah marah atau malu. Mungkin keduanya. Yang jelas, Umar tidak lagi mau tahu. Pak RT menutup map hijau andalannya dan pergi tanpa mengucapkan salam. 

“Oalah, miskin!” bisik Pak RT sambil lalu tanpa mengucapkan salam.  

Umar yang dulu pasti akan gusar mendengar ucapan-ucapan seperti  itu. Namun sekarang, Umar menutup telinganya untuk hal-hal tidak baik  yang hanya akan membawa kesedihan baginya dan Dewi.  

“Waalaikumsalam,” ucap Umar, meskipun Pak RT tidak mengucapkan salam untuknya. Hati Pak RT semakin dongkol, terbukti dari  langkahnya yang tiba-tiba berubah menjadi lebih cepat. Umar kemudian  menutup pintu rumah itu pelan, dikuncinya bersamaan dengan kegundahan hati yang akhirnya mampu dia ikhlaskan.

Tinggalkan balasan!