Membaca VS Memahami
oleh: Syarifah Zurriyati
Ada anak yang ketika diminta membaca sebuah paragraf mampu melakukannya dengan lancar. Tidak terbata-bata, tidak banyak salah mengucapkan kata, bahkan terdengar sangat percaya diri. Namun, ketika selesai membaca dan guru bertanya, “Apa yang kamu pahami dari bacaan tadi?”, anak itu terdiam. Kadang ia menjawab dengan mengulang satu atau dua kalimat yang baru saja dibacanya. Kadang jawabannya tidak berhubungan dengan isi bacaan. Bahkan, ada pula yang berkata, “Tidak tahu, Bu.”
Situasi seperti ini cukup sering ditemukan dalam kegiatan pembelajaran. Anak bisa membaca, tetapi belum tentu memahami apa yang dibacanya. Di sinilah kita perlu membedakan antara kemampuan membaca dan kemampuan memahami bacaan.
Membaca bukan sekadar menyuarakan tulisan
Membaca pada dasarnya bukan hanya kegiatan mengubah huruf menjadi bunyi. Ketika membaca, seseorang sedang berusaha membangun makna dari rangkaian kata dan kalimat yang dilihatnya. Seorang anak mungkin sudah mampu membaca kalimat:
“Rani membawa payung karena langit terlihat mendung.”
Namun, apakah ia memahami hubungan antara membawa payung dan langit yang mendung? Jika ditanya, “Mengapa Rani membawa payung?”, anak yang memahami bacaan akan menjawab bahwa Rani membawa payung karena kemungkinan hujan.
Kemampuan seperti inilah yang menunjukkan bahwa anak tidak sekadar membaca kata, tetapi mulai menghubungkan informasi dalam bacaan dengan logika dan pengetahuan yang dimilikinya.
Dengan kata lain, kelancaran membaca merupakan pintu masuk, bukan tujuan akhir dari kegiatan membaca.
Mengapa anak bisa membaca tetapi tidak memahami?
Ada banyak kemungkinan.
Pertama, anak mungkin terlalu fokus pada cara membaca, tetapi belum terbiasa memikirkan makna yang dibaca. Ketika belajar membaca, perhatian anak sering diarahkan pada kemampuan mengenali huruf, menggabungkan suku kata, melafalkan kata, dan membaca kalimat dengan lancar. Semua itu memang penting. Namun, setelah anak mampu membaca, tantangan berikutnya adalah membantunya memahami isi bacaan.
Kedua, kosakata anak mungkin masih terbatas. Bayangkan seorang anak membaca sebuah cerita yang dipenuhi kata-kata yang belum dikenalnya. Ia mungkin mampu melafalkan semua kata tersebut, tetapi tidak mendapatkan gambaran utuh tentang cerita. Karena itu, memperkaya kosakata menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan memahami bacaan.
Ketiga, anak mungkin tidak memiliki kebiasaan berdialog dengan bacaan. Ia membaca dari awal sampai akhir tanpa pernah bertanya:
Siapa tokohnya?
Apa yang terjadi?
Mengapa hal itu terjadi?
Apa masalahnya?
Bagaimana penyelesaiannya?
Apa yang dapat saya pelajari dari cerita ini?
Padahal pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut membantu anak masuk lebih jauh ke dalam bacaan.
Jangan langsung bertanya, “Sudah selesai membaca?”
Pertanyaan seperti ini sering muncul setelah anak membaca. “Sudah selesai?” Jika jawabannya “sudah”, kegiatan pun dianggap selesai.
Padahal, justru setelah membaca itulah percakapan yang menarik dapat dimulai. Orang tua atau guru dapat mengganti pertanyaan tersebut dengan pertanyaan yang sederhana tetapi mengajak anak berpikir. Misalnya:
“Menurutmu, cerita tadi tentang apa?”
“Bagian mana yang paling kamu sukai?”
“Mengapa tokohnya melakukan hal itu?”
“Kalau kamu menjadi tokoh tersebut, apa yang akan kamu lakukan?”
“Menurutmu, apakah keputusan tokoh itu benar?”
Pertanyaan seperti ini tidak hanya menguji apakah anak mengingat isi bacaan. Lebih dari itu, anak diajak memahami, menafsirkan, memberikan alasan, dan menyampaikan pendapat. Di sinilah kemampuan membaca mulai berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis.
Membaca perlu ditemani percakapan
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah membaca bersama anak.
Tidak harus satu jam. Tidak harus setiap hari membaca buku yang tebal. Lima belas menit pun dapat menjadi awal yang baik.
Orang tua dapat membaca sebuah cerita bersama anak. Setelah satu atau dua halaman, berhenti sejenak dan berbicara tentang cerita tersebut. “Menurutmu, setelah ini apa yang akan terjadi?” Anak mungkin menjawab dengan tebakan yang keliru. Tidak masalah. Justru dari sana percakapan dapat berkembang.
“Kenapa kamu berpikir begitu?” Pertanyaan sederhana itu mengajarkan anak bahwa membaca bukan hanya menerima informasi, tetapi juga membuat dugaan berdasarkan informasi yang tersedia.
Membaca ulang bukan berarti gagal
Ada anggapan bahwa anak yang harus membaca suatu teks dua atau tiga kali berarti kurang pintar. Anggapan seperti ini sebaiknya diubah. Membaca ulang justru merupakan bagian dari proses memahami. Pada bacaan pertama, anak mungkin hanya mendapatkan gambaran umum.
Pada bacaan kedua, ia mulai menemukan informasi penting. Pada bacaan berikutnya, ia mungkin menemukan hubungan antargagasan yang sebelumnya terlewat. Bahkan orang dewasa pun sering membaca ulang tulisan ketika menemukan informasi yang penting atau sulit dipahami. Jadi, tidak perlu terburu-buru mengatakan, “Kan sudah dibaca, masa tidak mengerti?” Lebih baik mengatakan:
“Coba kita baca lagi bagian ini. Menurutmu, maksudnya apa?”
Kalimat sederhana tersebut dapat mengubah pengalaman membaca dari sesuatu yang menekan menjadi kegiatan yang menyenangkan.
Dari memahami menuju membaca kritis
Kemampuan memahami bacaan merupakan fondasi penting untuk mengembangkan kemampuan membaca kritis. Anak yang memahami bacaan akan lebih siap untuk bertanya.
Anak yang terbiasa bertanya akan mulai mencari alasan. Anak yang mencari alasan akan belajar membedakan fakta dan pendapat.
Selanjutnya, ia dapat mulai mempertanyakan apakah informasi yang dibacanya masuk akal, apakah sumbernya dapat dipercaya, dan apakah ada sudut pandang lain yang perlu dipertimbangkan.
Proses itu tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil,
membaca. memahami. bertanya. berdiskusi. mempertanyakan. Karena itu, ketika seorang anak belum mampu menjelaskan isi bacaan, kita tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak suka membaca atau tidak mampu membaca. Mungkin ia hanya membutuhkan cara membaca yang berbeda.
Rumah dapat menjadi tempat pertama
Sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan membaca anak. Namun, rumah juga memiliki peran yang tidak kalah besar.
Budaya membaca tidak selalu harus dimulai dengan menyediakan rak buku yang penuh. Ia bisa dimulai dari hal yang sederhana. Orang tua membaca buku di depan anak. Orang tua membacakan cerita sebelum tidur. Orang tua mengajak anak berbicara tentang cerita yang dibaca. Orang tua tidak hanya bertanya, “Apa judulnya?”, tetapi juga, “Menurutmu, apa yang ingin disampaikan cerita itu?”
Dari percakapan sederhana tersebut, anak belajar bahwa buku bukan sekadar kumpulan tulisan. Buku adalah jendela untuk memahami dunia.
Membaca sampai mengerti
Pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar membuat anak mampu membaca sebanyak-banyaknya buku. Hal Lebih penting adalah membuat anak menemukan makna dari apa yang dibacanya. Sebab, anak yang membaca sepuluh buku tanpa memahami isinya belum tentu memperoleh lebih banyak manfaat dibandingkan anak yang membaca satu buku dengan penuh perhatian, kemudian mampu menceritakan kembali, mengajukan pertanyaan, menghubungkan isi bacaan dengan kehidupannya, bahkan menyampaikan pendapat tentang apa yang dibacanya.
Maka, mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan kepada anak. Bukan hanya,
“Sudah berapa buku yang kamu baca?” Tetapi juga, “Apa yang kamu dapatkan dari buku itu?” Karena pada akhirnya, membaca bukan perlombaan untuk menghabiskan halaman. Membaca adalah perjalanan untuk menemukan pemahaman.
Dan ketika seorang anak mulai mampu berkata, “Menurut saya…” setelah membaca sebuah cerita, sesungguhnya saat itu ia bukan hanya sedang belajar membaca.
Ia sedang belajar berpikir.