| |

Erotisisme dalam Hidup

(Sumber terjemahan: Albert Mordell. 1919. “Chapter II: Eroticism in Life”. Dalam The Erotic Motive in Literature. New York: Boni & Liveright.)

I

Psikologi baru-baru ini telah menyelidiki lamunan bawah sadar yang kini diakui sebagai bagian dari kehidupan imajinatif kita. Tak peduli betapa relijius atau bermoral kita, khayalan-khayalan erotis selalu bersama kita. Kehidupan mental ini sudah sering digambarkan dalam sastra abad pertengahan dalam bentuk impian-impian sensual yang menggoda orang-orang suci. Karena itu, para pengarang yang ingin menanamkan pelajaran-pelajaran moral dan religius memberi saluran bagi khayalan-khayalan erotis mereka melalui gambaran-gambaran memikat yang mereka tulis. Banyak contoh muncul dalam sastra puritan dan asketis, tentang asusila dan eksibisionisme.

Kita sedang belajar berurusan langsung dengan sebuah fase dalam hidup kita yang pengaruhnya terhadap kebahagiaan kita sering kali dianggap tak terlalu penting. Pertama-tama kita harus mengakui kenyataan bahwa begitu banyak fantasi yang memenuhi eksistensi kita. Dari sana mekarlah bagai setangkai bunga emosi-emosi yang berhubungan dengan perasaan-perasaan paling halus dalam kodrat manusia, yaitu cinta. Bagaimana khayalan-khayalan ini bisa disublimasi menjadi tujuan-tujuan luhur, seperti perbuatan-perbuatan elok dan karya seni, bagaimana hal tersebut bisa diarahkan ke saluran-saluran cinta, bagaimana hal tersebut sebagian dipuaskan tanpa mengganggu insting-insting manusia yang lebih halus, adalah masalah-masalah yang telah menjadi subjek dari studi yang serius. Juga disadari bahwa khayalan-khayalan ini menjadi semakin nyata, semakin banyak, dan semakin bervariasi ketika sarana-sarana untuk mewujudkan kehidupan cinta yang normal terhambat oleh alasan-alasan ekonomis dan konvensional. Juga diakui bahwa sebagian besar penderitaan mental dan kelemahan fisik yang dialami banyak orang terjadi akibat asketisisme absurd dalam urusan-urusan seks yang dipaksakan kepada kita oleh peradaban modern.

Kita harus belajar mendiskusikan, dengan cara yang tulus, kodrat dan tendensi-tendensi erotis dalam hidup kita. Ilmuwan punya privilese untuk berbicara secara terbuka tentang hal itu; banyak sastrawan dengan kebebasan yang sama telah menggunakannya sedemikian rupa untuk mengembangkan karya-karya pornografi demi tujuan-tujuan komersial. Tapi tak ada sastrawan hari ini yang bebas membahas pertanyaan-pertanyaan seputar seks dengan gaya blak-blakan Montaigne dalam esainya “Tentang Beberapa Puisi Virgil”.

Mari kita uji kata “erotis” itu sendiri. Sayangnya ia telah memiliki makna yang kurang bagus, walau maknanya “berhubungan dengan cinta” dan berasal dari kata Yunani “eros”–cinta. Ia telah digunakan untuk merujuk hal-hal yang menyimpang dan tak senonoh dalam seks; ia telah menjadi sinonim bagi nafsu, ketidaknormalan, ekses, dan setiap hal yang tak menyenangkan mengenai urusan-urusan seks. Suatu kali Pater mengeluh bahwa ia tidak suka penggunaan kata “hedonisme” karena kesalahpahaman banyak orang yang tak mengerti bahasa Yunani. Keberatan serupa juga bisa dilayangkan pada penggunaan kata “erotisisme”. Sebenarnya semua puisi cinta adalah puisi erotis. Faktanya keagungan puisi dan sastra berasal dari erotisismenya, karena saat itulah sastra paling benar bagi kehidupan, karena sebagian besar kehidupan bersifat erotis. Menyebut penyair besar seperti Paul Verlaine sebagai sosok erotis adalah pujian, bukan penghinaan. Lagi pula ia tidak seerotis pengarang Kidung Agung. Karena dalam bahasa Inggris tak ada kata untuk menspesifikasi hasrat cinta dalam pengertiannya yang paling luas, kita harus berpegang teguh pada penggunaan kata “erotis” dan “erotisisme”. Kita harus mengembalikan kata “erotisisme” pada maknanya yang asli dan lebih luhur.

Karya sastra mana pun yang menyoroti pengaruh cinta dalam hidup kita adalah erotis. Sastra tak bisa eksis tanpa melibatkan dorongan cinta. Kisah-kisah tentang Yakub dan Rahil, tentang Ruth, dan tentang David dan istri Uriah, semuanya adalah contoh indah dari erotisisme dalam Bibel.

Orang-orang enggan mengakui sejumlah fakta tentang kehidupan cinta dalam pikiran mereka, tapi sering kaget oleh impian-impian vulgar yang menyingkap alam bawah sadar mereka sedemikian rupa. Bagaimanapun, seseorang akan mudah mengakui kepada orang-orang terdekatnya tentang eksistensi khayalan-khayalan sensual dalam dirinya. Orang-orang sering menunjukkan, dengan berbagai cara, tanda-tanda dari peran hasrat cinta dan seks pada kehidupan mental mereka. Sebagian orang menonton drama-drama yang merangsang, sebagian lain asyik bercerita dan mendengar lelucon cabul, banyolan tak senonoh, dan cerita-cerita mesum. Siapa pun yang mendengar percakapan orang-orang di klub atau di ruang merokok, di pabrik atau kantor, di bar atau ruang duduk, tak dapat menolak fakta bahwa dorongan erotis menguasai kita lebih besar dari yang kita akui. Siapa pun yang berpikir bahwa si kaya terlalu sibuk dalam mengumpulkan lebih banyak kekayaan dan si miskin terlalu letih berjuang demi bertahan hidup, sehingga tak sempat memikirkan khayalan-khayalan erotis, adalah keliru. Satu hari di pabrik atau satu malam di klub akan menunjukkan bahwa si miliuner dan si miskin adalah sama sebenarnya.

Kodrat manusia adalah erotis pada dasarnya. Pada masa bayi ia erotis dengan caranya sendiri. Ia membawa dalam dirinya semua insting erotis dari jutaan leluhur selama beribu-ribu tahun lalu. Erotisismenya berkembang ke banyak area sensitif pada tubuhnya, seperti bibirnya, telapak tangannya, dadanya, dan punggungnya. Erotisisme sering bersembunyi dalam hasrat terhadap banyak hal yang tampaknya tak berhubungan dengannya, hasrat yang menjadi pengganti bagi kekurangan cinta seseorang. Derita nyata pertama yang bersifat fisik sekaligus spiritual pada manusia dimulai pada masa pubertas, ketika ia mendengar suara-suara baru dan asing dalam jiwanya menuntut tanggapan yang justru tanpa jawaban. Ia menyadari bahwa masyarakat disusun sedemikian rupa dan ia harus menghabiskan masa mudanya, saat keinginan sedang tinggi-tingginya, dengan mengekang dan menyimpangkan hasrat tersebut secara tidak wajar. Ia sering menyadari kemudian bahwa bahkan pernikahan bukanlah kepuasan tuntas bagi insting-insting cintanya.

Meski orang-orang menolak mengakui pentingnya peran erotis dalam hidupnya, saudaranya yang lain, yakni para penyair, berkata untuknya. Mereka tidak menyembunyikan kebenaran, karena kata-kata untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan justru menghianati mereka. Sering kali orang-orang membungkam juru bicara mereka karena menyampaikan kebenaran, walau mereka diam-diam senang sekali membaca buku-bukunya.

Baca juga:  Kelalaian Fatiya

Orang “puritan” hari ini sering kali adalah orang yang (diam-diam) menyukai kebanyakan sastra cabul; sementara banyak orang menemukan pada sastra seperti itu satu-satunya cara untuk memanjakan kehidupan cinta mereka yang tak terpuaskan. Banyak toko buku secara khusus menyediakan buku-buku dan gambar-gambar porno bagi sejumlah orang yang memilih hidup membujang.

Bagaimanapun, minat sekadarnya pada karya sastra yang berani dan tidak munafik seperti novel Fielding atau Smollett tidak menandakan erotisisme yang tidak normal pada pembaca. Faktanya, itu sering menjadi tanda bagi beberapa tendensi yang tidak sehat atau kelaparan pada kodrat manusia ketika seseorang menghindari karya sastra yang jujur dan blak-blakan. Anak sekolah atau mahasiswa yang secara sembunyi-sembunyi membaca novel Defoe Roxana ketimbang Robinson Crusoe, yang berpaling dari versi bahasa Yunani karya Aristopanes ke terjemahan Lysistrata, atau yang bosan dengan Prolog Dongeng-Dongeng Canterbury karya Chaucer dan mencoba membaca “Dongeng Miller” atau “Dongeng Reeve”, meskipun dalam bahasa Inggris kuno, bukanlah pemuda yang asusila. Pembaca yang belum membaca karya-karya ini, dan sekarang mungkin akan mencarinya, bukanlah orang yang cabul atau tidak normal. Minat anak sekolah maupun pembaca adalah bukti tambahan bagi unsur erotis dalam diri kita.

Pencinta sejati sastra yang telah banyak membaca karya penyair Latin, dramawan Inggris, dan novelis Prancis akan berada pada titik di mana bagian-bagian “erotis” tidak menjadi begitu penting seperti bagi pembaca yang hanya mencari bagian-bagian itu dan tak berminat pada bagian-bagian lainnya.

Bayle, yang menulis banyak kisah rada cabul dalam Kamus, membela dirinya dalam sebuah esai cemerlang berjudul “Penjelasan Mengenai Kecabulan”. Ia berkata di sana dengan jitu.

“Jika seseorang mencintai kemurnian dengan teramat sangat–seakan ia berharap bukan saja tiada hasrat tak senonoh yang bangkit dalam pikirannya melainkan juga tiada ide cabul apa pun dalam imajinasinya–maka ia tak akan dapat mewujudkan tujuannya tanpa kehilangan penglihatan dan pendengarannya, serta melupakan banyak hal yang mau tak mau harus ia lihat dan dengar. Kesempurnaan seperti itu tak mungkin diharapkan selama kita masih melihat manusia dan binatang, serta memahami makna sejumlah kata yang menjadi bagian penting dalam bahasa kita. Bukanlah kuasa kita untuk mempunyai, atau tak mempunyai, sejumlah ide, ketika berbagai objek tertangkap oleh indra kita; objek-objek itu tercetak dalam imajinasi kita mau tak mau. Kesucian tidak terancam oleh objek-objek itu, selama kita tak menumbuhkan rasa suka terhadapnya.”

 

II

Kaum pria bisa saja disibukkan oleh gerakan-gerakan filantropis atau politis; mereka mungkin mencintai pekerjaan mereka secara mendalam; mereka mungkin mewujudkan suatu ambisi; mereka mungkin melakukan pengorbanan demi tugas-tugas mereka; namun di sela-sela semua itu pikiran mereka tetap tertambat pada seorang wanita tertentu, atau pada kaum wanita secara umum. Kita membangun percakapan imajiner dengan wanita-wanita yang kita kenal, atau yang kita akan senang mengenalnya. Kita berpikir tentang wajah-wajah wanita yang kita lihat di jalan, dan mengalami kesedihan sekilas karena tak mengenal beberapa di antara mereka. Hasrat berlebihan terhadap lawan jenis tentu juga menjadi sifat wanita. Mereka menghias diri dan memilih gaya dalam berpakaian dengan tujuan memikat laki-laki secara fisik.

Mereka yang tidak bahagia dalam percintaan atau pernikahan tidak merasa kesialannya bisa dibayar tuntas dengan kepemilikan harta yang berlimpah, nama yang terhormat, atau kejayaan. Karir Lord Nelson dan Parnell menunjukkan bahwa para penyelamat dan pemimpin bangsa mungkin saja dikuasai oleh keinginan luar biasa yang tujuannya–jika tercapai–mungkin sama pentingnya bagi mereka dengan kesejahteraan negara mereka sendiri. Fakta bahwa Anthony adalah seorang jenderal yang langkahnya menentukan keselamatan negaranya, tak membuatnya kurang tertarik pada Cleopatra. Fakta bahwa Abelard adalah seorang filsuf, tak mencegahnya dari belajar lebih giat ketimbang Heloise. Sungguh tak ada yang tak normal pada pria-pria ini. Penulis-penulis modern telah terpikat oleh mereka. Shakespeare memilih Anthony sebagai hero bagi dramanya, dan Pope dalam karya terkenalnya, Epistle, menunjukkan kekagumannya pada Abelard. Petualangan-petualangan penuh gelora asmara dari para pemimpin militer yang luar biasa seperti Caesar dan Napoleon juga sudah dikenal luas.

Kisah cinta banyak sastrawan membuat kita mudah berpikir bahwa mereka tampaknya lebih peduli dengan cinta mereka ketimbang seni mereka. Ingatlah tangis masyhur Stendhal tentang kebinasaannya akibat mendambakan cinta, atau ambisi abadi Balzac untuk menjadi terkenal dan dicintai. Goethe pernah berseru bahwa satu-satunya orang yang bahagia adalah yang beruntung dalam kehidupan rumah tangganya. Goethe membuat setiap orang dalam kisah cintanya menjadi landasan bagi sejumlah puisi, novel, atau dramanya; dan jika seseorang tak tahu apa-apa tentang cinta Goethe kepada Charlotte Buff, atau Frederica atau Lili, atau Frau von Stein, maka ia akan mengalami keterbatasan dalam mengapresiasi Goethe, dalam memahami Werther, Faust, Wilhelm Meister dan karya-karyanya yang lain.

Dan kita mencintai penyair-penyair dan penulis-penulis ini, yang secara naif mengaku tak peduli terhadap apa pun dalam hidup kecuali cinta, dan yang menyenandungkan masalah-masalah mereka dengan terus terang. Siapa yang tak merasakan keindahan Catullus dan Tibullus? Siapa yang telah membaca karya-karya mereka dan tidak terhanyut oleh tangis liris para Trubadur, atau puisi-puisi karya penyair Cina dari zaman Tang? Dapatkah seseorang berpikir tentang Burns atau De Musset tanpa kasih sayang dan simpati? Dan ada banyak orang yang tak akan menyerahkan kumpulan besar puisi penyair-penyair Inggris kepada masyarakat di negeri-negeri jajahan mereka. Kenapa begitu? Karena penyair-penyair ini adalah diri mereka sendiri yang berbicara untuk mereka dan mengatakan apa yang mereka rasakan tapi tak mampu mereka ungkapkan. Tangisan penyair Persia atau Jepang abad pertengahan adalah tangisan kita sendiri. Kebahagiaannya adalah milik kita dan ia adalah kita dan kita adalah ia. Sekali sebuah puisi lahir dari pena pengarangnya, ia tidak lagi menjadi sekadar catatan personal, tapi monumen seni yang abadi, dan jutaan orang melihat kesedihan atau keriangan yang juga telah mereka kenali sebelumnya. Dalam ukuran tertentu, sastra lebih nyata dan abadi ketimbang hidup itu sendiri. Ia menghidupkan masa lalu dan melanggengkan jiwa yang dapat memengaruhi jutaan orang selamanya. Sepeti kata Cicero dalam pidatonya kepada Archias sang penyair: “Jika Iliad tidak ada, makam yang mengubur tubuh Achilles juga akan turut mengubur kemasyhurannya.”

Baca juga:  Hamzah Fansuri dan Teori Penciptaan Alam Semesta

 

III

Pemahaman tentang hal erotis dalam diri kita akan menolong kita memahami banyak ideal keliru terkait sikap terhadap cinta dalam sastra. Saya khususnya merujuk pada ideal tentang cinta pertama dan satu-satunya yang biasa dikenal sebagai cinta Platonis. Ideal ini dipopulerkan oleh penulis-penulis penipu dan telah menghasilkan banyak kepura-puraan dan ketidaktulusan dalam sastra.

Dalam kehidupan nyata orang-orang umumnya tidak menikahi cinta pertama mereka; mereka sering menyimpan rasa jijik terhadap orang-orang yang pernah mereka cintai; seiring hidup berlanjut, mereka tidak terus-terusan merasa bahwa suatu kali mereka jatuh cinta dan tidak akan pernah jatuh cinta lagi kemudian. Sebaliknya, biasanya mereka menikah dan berumah tangga dan lupa tentang hubungan-hubungan mereka sebelumnya, walau dalam banyak kasus hal ini tetap punya pengaruh yang sangat lama.

Bagaimanapun, jika penyair bercerita sewajarnya tentang kisah cinta mereka dulu, karya mereka pasti akan kurang disukai. Publik menyukai kesetiaan, dan karena itu mendorong munculnya karya-karya sastra tentang cinta yang terlalu sentimental dan palsu. Tak diragukan lagi, ketika seseorang terjebak dalam pernikahan yang tak bahagia, atau gagal memenangkan cinta di masa depan, ia berpaling ke masa lalu dan mengenang kisah cintanya yang awal-awal dengan perih. Meski benar bahwa masa lalu selalu menguasai kita, kita sering puas dengan cara masa lalu tersebut membentuk masa depan kita. Robert Browning dulu punya pengalaman cinta yang menyedihkan, yang mempengaruhi karyanya Pauline serta banyak puisinya yang lain, tapi ia kemudian bahagia dalam hubungan cintanya bersama penyair Elizabeth Barrett. Pernikahan Mark Twain bisa disebut ideal dan bahagia, meski hubungan asmaranya dulu kandas akibat sepucuk surat yang tak tersampaikan secara tak disengaja. Di sisi lain Byron, yang tak bahagia dalam pernikahannya, mengenang kekasihnya dulu, Mary Chaworth, selama lebih dua puluh tahun. Cukup aneh dan tidak pantas, ia dituduh tidak tulus dan mengada-ngada, dan kebanyakan kritikus menolak mengakui bahwa banyak puisi cintanya kemudian ditulis untuk wanita itu.

Ada dua contoh mencolok dalam sastra di mana cinta seorang penyair dianggap tetap langgeng seumur hidup, yakni kasus Dante dan Petrarch. Jika cinta kedua orang Italia ini kepada kekasih mereka diselidiki secara cermat, saya pikir nanti akan terungkap bahwa mereka telah menipu dunia dengan kisah cinta mereka. Mereka menulis puisi-puisi terbaik mereka tentang orang yang mereka cintai, setelah orang tersebut wafat, dan kematian sering membuat seseorang tanpa sadar menulis masa lalu secara keliru. Pfister memberi tahu kita dalam karyanya Metode Psikoanalisis tentang seorang pria sakit berumur lima puluh tahun yang hidup terpisah dari istrinya di rumah yang sama, dan berlaku brutal terhadap istrinya. Setelah istrinya meninggal, ia selalu bersikukuh bahwa mereka adalah pasangan yang ideal. Pfister menghubungkannya dengan cerita lain tentang seorang duda yang hanya mengenang momen-momen bahagia dalam pernikahannya yang tak bahagia, dan berpikir bahwa ia tak akan pernah menikah lagi selamanya.

Selalu saja ada kecurigaan terhadap kelanggengan cinta Dante kepada Beatrice, dan cinta Petrarch kepada Laura. Symonds berkata tentang Laura: “Meski kita percaya pada kenyataan tentang Laura, kita tak punya konsep yang jelas baik tentang dirinya maupun karakternya. Ia tidak seperti wanita kebanyakan melainkan wanita yang abstrak…. Dengan begitu, Canzoniere adalah untaian panjang dari jiwa sang penyair, yang terus mengalun bagai buluh perindu dengan sosok samar seorang wanita cantik tengah duduk dalam pemandangan indah.” (Encyclopedia Britannica, Vol. XXI, hal. 314.)

Petrarch berumur 23 tahun pada 1327 saat ia bertemu Laura. Perempuan itu meninggal 21 tahun kemudian. Petrarch tetap mencintainya selama 26 tahun selanjutnya, hingga ia wafat pada 1374. Petrarch, ini harus dikatakan, punya dua orang anak di luar nikah dari kekasihnya yang lain sebelum kematian Laura; keduanya kemudian dilegitimasi. Sang penyair mungkin saja kadang merasakan pedihnya rasa cinta yang tak berbalas seperti yang ia ungkapkan dalam puisi-puisinya. Tapi adalah meragukan kalau ia terus-menerus menderita akibat cinta kepada perempuan itu selama 47 tahun. Ia sepertinya sengaja menyenangkan publik dengan membangun keyakinan ideal tentang cinta. Ia menawarkan dirinya sendiri sebagai tipe hero yang disukai publik; kekasih yang setia dan sejati. Ideal semacam inilah yang membuat luar biasa seorang jenius seperti Thomas Hardy yang memuaskan selera publik dengan menggambarkan seorang kekasih berpendirian teguh seperti Gabriel Oak dalam Jauh dari Hiruk-Pikuk Kerumunan.

Kasus Dante bahkan adalah contoh yang lebih penting tentang sastra yang dibuat-buat dan penipuan diri sendiri. Kisah cinta Dante adalah yang paling memukau dalam sejarah. Ia dan Beatrice sama-sama masih sembilan tahun ketika ia pertama kali melihat gadis itu. Dante mungkin melihatnya sekali lagi setelah itu. Lalu Beatrice wafat pada 1290, saat sang penyair berumur 25 tahun. Sedahsyat apa pun kesedihan Dante, itu tak mencegahnya dari menikah dengan wanita lain dua tahun kemudian. Dante menjadikan Beatrice sebagai pahlawan dalam karyanya Divine Comedy, atau setidaknya pada bagian Paradiso. Kasih sayang platonisnya kepada Beatrice sangat tidak wajar, seolah ia melakukan apa yang Petrarch lakukan, tanpa sadar menciptakan ideal, dan mengabadikan perasaan yang sebenarnya berlangsung singkat.

Meski benar bahwa kisah cinta mereka di masa lalu bisa menguasai mereka seumur hidup, Dante atau Petrarch bukanlah kekasih setia sebagaimana mereka membuat kita percaya bahwa mereka begitu.

Tinggalkan balasan!