Cerpen

  • | |

    JANGAN SEPERTI ITU

                  “Khuk, khuk, huk…..pruh, pruh, pruh,” Tandra meludah di atas trotoar ketika ia berjalan pulang dari tempat kerjanya di suatu perusahaan periklanan. Seorang laki-laki yang berjalan bersisian di sebelah kiri Tandra menghentikan langkahnya. Ludah yang dikeluarkan dari tenggorokan Tandra jatuh tepat di hadapannya. Dahak itu kuning kehijauan             “Bluek,” terdengar suara dari laki-laki berusia…

  • | |

    SABAB KAMENG

    Si Dun jijak leupah that bagah lagee ureung meunjak plueng. Jitamong lajue lam pageu rumoh Po Aisyah. Po Aisyah dang geuseumampoh leun rumoh gobnyan.           “Pakon kah Dun kajak bagah-bagah that meunan, na peu?” tanyong Po Aisyah.           “Po Aisyah, pakriban nyoe, adek dron si Dan dang meudawa ngon si Wan. Awak nyan meupake bineh…

  • | |

    Karena Sayang Bunda

    Zaida melemparkan wortel dan kentang yang dikupasnya ke keranjang pencuci sayur. Sebagian wortel dan kentang terlempar keluar dari keranjang. Zaida memungutnya kembali dengan raut wajah menyimpan kekesalan. Setelah wortel dan kentang dicucinya, diambilnya pisau dan dipotong-potongnya tumpukan sayuran buah itu dengan ukuran sembarangan. Ini tugas rutin Zaida setiap hari mulai siang hingga sore hari. Bundanya…

  • | |

    Ilfi

    “Pruuuh.. fhuuh…pruuuh….” Ilfi menyemburkan nasi yang disuapkan ke dalam mulutnya. Lalu ia tertawa kegirangan. “Wahahaha… wahahaha wahahaha…. Bajumu menjadi kotor. Kamu tidak dapat  pergi bekerja. Kamu tidak dapat pergi bekerja,” teriak Ilfi berulang-ulang menunjukkan rasa senang di hatinya. Fikri memerhatikan kemejanya yang berlepotan nasi dan campuran sayur beserta lauk. Sementara itu, jam di dinding menunjukkan…

  • | | |

    KEMARAU

    Kemarau ini panas sekali Kemarau ini Menyusutkan sumber-sumber air Merengkahkan tanah Menerbangkan debu ke segala arah Mengeringkan daun-daun Mengerdilkan buah-buah AC-AC dipasang pada setiap sudut Pengusir panas yang kian menyengat Pada bangunan-bangunan yang tak terukur luasnya Sawah dan ladang makin digerus Gunung-gunung diratakan Pasir-pasir di sungai terus dikeruk Hutan-hutan diterjang mesin-mesin Hewan-hewan lari tunggang langgang…

  • | | |

    Cek Ri

    Cek Ri memandang dengan sudut matanya ketika ia berpapasan dengan Cek Er di sudut jalan kampung.  Bibirnya mencibir kesal. Cek Er sedang menjinjing dua plastik besar di kedua tangannya. Ia baru saja turun dari angkutan kota yang berujung di sudut jalan kampung. Sepertinya Cek Er kepayahan membawa barang belanjaannya yang banyak itu. Ketika itu Cek…