Mengajak Eda ke Kebun

Matahari bersinar terang sejak pukul tujuh pagi. Selesai salat Subuh, Eda tidur lagi. Ia ingin menikmati libur sekolah kali ini sepuas-puasnya dengan rebahan.

“Eda, bangun! Kakek dan nenek mengajak kita ke kebun. Kacang tanah dan jagung sudah bisa dipanen!” Mutia, saudara sepupunya menggoyang-goyangkan tubuh Eda.

“Kalian saja yang pergi ke kebun. Aku masih ingin tidur,” Eda kembali menarik selimutnya yang tadi dihempaskan oleh Mutia.

“Jadi untuk apa Kamu berlibur ke tempat kakek dan nenek kalau seperti ini?” Mutia kesal melihat kelakuan saudara sepupunya. Selama seminggu berada di rumah kakek dan nenek, Mutia ingin menikmati suasana kampung yang masih banyak pepohonan bersama kedua saudara sepupunya, Eda dan Meutuah. Bukannya waktu liburan dihabiskan dengan rebahan.

Nenek berdiri di ambang pintu kamar tempat Eda dan Mutia berada.

“Eda, Kamu kalau tinggal di rumah, Kamu harus memasak sendiri untuk makan siang. Siang ini nenek akan memasak di kebun,”

Ucapan nenek membuat Eda cepat-cepat menarik kain selimutnya. Ia duduk di sisi tempat tidur. Eda tak pandai memasak. Memasak telur pun ia tak bisa. Sudah beberapa kali ia merebus telur dan telurnya gosong karena ia lupa bahwa ia sedang merebus telur.

“Nek, tunggu Eda! Eda ikut pergi ke kebun,”

“Kalau mau ikut, cepatlah bersiap-siap! Kakek sudah siap sejak tadi,”

Baca juga:  Mira dan Masakan Ibu

Eda bergegas menuju ke kamar mandi. Setelah Eda berkemas, mereka berlima berjalan kaki menuju ke kebun. Jarak dari rumah kakek dan nenek ke kebun sekitar dua kilometer. Jalan menuju ke sana masih berupa jalan setapak yang berumput dan di sebagian jalan dipenuhi semak belukar di kanan kirinya. Sambil mereka berjalan, kakek sekali-kali mengayungkan parangnya untuk meratakan semak-semak yang menghalangi jalan mereka.

Eda dan Mutia ngos-ngosan. Mereka tak biasa berjalan kaki. Beberapa kali mereka berhenti untuk minum dan makan kue timphan asoekaya dan bhoi yang disiapkan oleh nenek. Meutuah tak terlihat kelelahan. Ia masih tampak riang gembira mengikuti langkah kaki kakek dan neneknya. Sesekali ia mengeluarkan ponselnya untuk memotret.

Setelah satu jam berlalu diselingi istirahat, mereka sampai di kebun. Mereka beristirahat di pondok sederhana yang terbuat dari kayu. Nenek mengajak Eda dan Mutia  memetik daun ubi kayu atau daun singkong yang banyak terdapat di samping pondok. Mereka juga memetik kacang panjang dan kangkung. Kakek mengajak Meutuah mencabut tanaman kacang tanah yang bijinya besar-besar. Setelah itu mereka memetik jagung yang buahnya juga besar-besar.

Setelah memanen kacang panjang dan jagung, kakek dan Meutuah menuju ke samping pondok. Mereka menyusun beberapa bata merah untuk membuat tungku memasak. Nenek membuat bumbu pecal. Nasi ditanak dari beras hasil panen padi di ladang.

Baca juga:  Pekerjaan Tetangga

Eda dan Mutia merebus sayuran. Kakek merebus jagung, pisang, dan kacang tanah. Meutuah membuat bakwan jagung. Meskipun, ia anak laki-laki, ia biasa membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan  di rumah.

Setelah semuanya selesai, makan siang pun dihidangkan. Makan siang hari ini terasa begitu nikmat. Semuanya hasil dari panen di kebun. Eda dan sepupunya merasa senang terutama Eda. Lain kali ketika liburan tiba lagi, ia akan memilih ikut ke kebun daripada rebahan di rumah.

Keterangan

Timphan asoekaya= kue tradisional khas Aceh yang terbuat dari tepung ketan dan ada isinya berupa sarikaya. Rasanya manis dan gurih.

Bhoi= kue tradisional khas Aceh yang terbuat dari tepung beras untuk resep otentiknya. Seiring perubahan zaman, ada juga yang membuat kue ini menggunakan tepung terigu. Kue ini juga kue khas daerah lainnya di Indonesia dengan nama berbeda.

 

Nurhaida

Balai Bahasa Provinsi Aceh, Senin-Selasa, 20-21 Juli 2026

Tinggalkan balasan!