Cerpen Ranting Mangga Di Teras Rumah

Beberapa hari ini setiap kali pulang ke rumah, pandanganku selalu mengarah ke ranting pohon mangga yang menjulur ke teras rumahku. Bukan hanya ranting, ada dua mangga harum manis berukuran besar yang menyembul di antara rimbunan daun. Aku suka makan mangga harum manis. Daging buahnya berwarna oranye dan daging buahnya manis dan ini yang aku sukai. Sekarang jarang kulihat ada mangga di pasar dan di penjual buah. Sepertinya memang ini bukan musimnya mangga.

Aku melihat ke arah kanan dan kiri jalan yang memang langsung berhadapan dengan rumahku. Sedang sepi, tidak terlihat seorang pun yang melintas. Mungkin karena hari ini Bu Ginah penjual gado-gado dan lontong sayur tidak berjualan. Tempat jualan Bu Ginah hanya lima puluh meter jaraknya dari rumahku. Tempat itu biasanya selalu ramai dikunjungi pembeli. Makanya kepadatan kendaraan bisa sampai hingga di jalan depan rumahku.

Aku memegang satu mangga. Berat juga ini buahnya. Aku memegang mangga dengan hati-hati agar tidak terlepas dari tangkainya. Mangga ini hampir matang. Pasti manis menyegarkan apalagi dimakan di saat udara panas seperti sekarang ini. Dijadikan rujak pasti enak juga. Apalagi ditambah bumbu kacang berisi cabai rawit, gula merah, dan asam jawa. Hmmmm, terbit seleraku. Kalau saja aku boleh memetik mangga ini, satu saja. Pas pula aku tadi membeli kacang tanah, gula merah, cabai rawit, dan asam jawa. Meskipun itu aku beli untuk bumbu masak.

Baca juga:  Karena Sayang Bunda

Semenjak masih berbentuk bunga, ranting mangga ini sering aku perhatikan. Bunganya banyak, menyembul hampir di seluruh bagian ranting. Hingga bunganya berbentuk buah dan menjadi buah berukuran besar. Sekarang  hanya dua buah yang tersisa di satu ranting ini.

Kehadiran pohon mangga beserta ranting dan daunnya membuatku harus rajin menyapu. Apalagi di musim panas, daun-daunnya cepat menguning dan kering. Daun mangga berserakan di sekitar depan rumahku jadi banyak. Aku harus menyapu hingga dua kali sehari. Bukan masalah sih sebenarnya. Aku yang suka berkebun dapat menjadikan daun-daun kering sebagai kompos. Hanya saja hingga mangga harum manis ini sudah beberapa kali berbuah belum sekali pun aku dapat merasakan makan buahnya. Aku masuk ke dalam rumah. Sekitar dua tiga hari lagi mangga harum manis sudah waktunya dipanen. Mudah-mudahan saja aku kebagian minimal satu buah.

Dua hari kemudian pagi-pagi sekali aku bangun pagi. Aku membuka pintu dan menuju ke teras rumah. Pandangan mataku mengarah ke arah ranting mangga yang ada dua buahnya. Aku terperangah. Buahnya sudah tidak ada lagi. Mungkin karena masih terlalu pagi, pandangan mataku belum terlalu jelas. Aku perhatikan lagi. Benar, dua buah mangga itu sudah tidak ada lagi.

Tetanggaku Bu Samina menjulurkan badan dan kepalanya di antara tembok pembatas rumahku dan rumahnya.

“Dik, mangganya sudah ibu petik ya. Sudah beberapa hari mangganya matang. Jadi, ibu petik saja. Mungkin adik tidak suka makan mangga, makanya mangga itu tidak adik petik,”

Baca juga:  Musem Boh Rambot

Aku terdiam. Pohon mangga itu ada di halaman rumahnya. Hanya satu ranting mangga yang menjulur ke teras rumahku, yang ada dua buahnya. Bu Samina tidak pernah menyampaikan padaku bahwa buahnya boleh aku petik.

Balai Bahasa Provinsi Aceh, menjelang pertengahan Agustus 2026

Cerita dan ilustrasi oleh Nurhaida

Tinggalkan balasan!