Balai Bahasa Provinsi Aceh

Di Bawah Langit Rumoh Aceh

0
Rumoh Cut Nyak Dhien

Rumoh Cut Nyak Dhien

oleh:
Syarifah Zurriyati

Angin malam berembus pelan melewati halaman rumoh Aceh milik keluarga Sayed Jamal. Rumah panggung kayu itu berdiri anggun di tengah halaman luas, dengan tiang-tiang tinggi dan ukiran tua yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di rumah itulah keluarga mereka menjaga nama baik, kehormatan, dan tradisi yang tidak pernah putus.

Di tangga rumah, Syarifah Safira berdiri memandang langit yang mulai dipenuhi bintang. Besok pagi, sebuah keputusan besar dalam hidupnya akan diumumkan kepada seluruh keluarga besar. Ia akan dilamar oleh seorang laki-laki bernama Sayed Malik.

Bukan karena ia memilihnya, tetapi karena keluarga mereka telah memilihkan jalan itu jauh sebelum ia cukup dewasa untuk memahami arti pernikahan. Di tangannya Safira menggenggam sehelai kain songket Aceh yang diberikan ibunya beberapa jam sebelumnya.

“Kain ini dipakai oleh nenekmu saat menikah,” kata ibunya lembut. Safira menatap benang emas yang berkilau di antara serat kain itu. Setiap helainya saling terikat kuat, seperti takdir yang telah ditenun jauh sebelum seseorang menyadarinya. Namun di dalam hatinya masih ada satu pertanyaan yang terus berputar.

Apakah takdir selalu berarti menyerah? Beberapa hari kemudian, keluarga Sayed Mahdi datang ke rumah itu. Ruang tamu besar rumoh Aceh dipenuhi aroma kopi Aceh yang baru diseduh dan kue tradisional yang disusun rapi di atas talam. Para tetua keluarga duduk berhadap-hadapan dengan sikap penuh hormat.

Seorang tetua dari pihak keluarga Sayed Malik membuka percakapan. “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami datang membawa niat baik dari keluarga Teungku Sayed Mahdi.”

Semua orang    mendengarkan dengan khidmat. “Kami memohon izin kepada keluarga Teungku Sayed Jamal agar putra kami, Sayed Malik, dapat mempersunting putri keluarga ini, Syarifah Safira.”

 

Suasana ruangan hening beberapa detik. Sayed Jamal tersenyum bijak. “Jika memang Allah telah menuliskan jodoh bagi anak-anak kita, maka kami tidak akan menghalanginya.” Percakapan itu menjadi awal dari sebuah perjalanan yang belum pernah Safira bayangkan sebelumnya.

Pertemuan pertama Safira dan Malik terjadi di serambi rumah setelah pertemuan keluarga itu. Angin sore bertiup pelan. Malik berdiri di dekat pagar kayu sambil memandang halaman. “Aku rasa kita sama-sama tidak pernah merencanakan ini,” katanya akhirnya.

Safira tersenyum kecil.  “Sepertinya begitu.” Namun dalam percakapan sederhana itu Safira melihat sesuatu yang tidak ia duga. Malik tidak tampak sombong seperti bayangannya tentang seorang pewaris keluarga terpandang. Ia justru tenang dan berbicara dengan jujur.

Hari-hari berikutnya mereka mulai saling mengenal. Percakapan mereka sering terjadi di serambi rumah yang sama. Kadang tentang pekerjaan, kadang tentang keluarga, kadang hanya tentang hal-hal kecil yang membuat waktu berjalan tanpa terasa.

Perasaan Safira mulai berubah. Bukan cinta yang tiba-tiba muncul dengan gemuruh. Tetapi sesuatu yang tumbuh perlahan. Namun kehidupan Malik tidak pernah benar-benar bebas dari masa lalu.

Beberapa tahun sebelumnya ia pernah jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Nadia. Mereka bertemu di sebuah kegiatan sosial di Banda Aceh. Nadia berbeda dari perempuan-perempuan yang biasa dikenalkan kepada Malik oleh keluarganya.

Ia berbicara dengan berani dan jujur. Suatu malam mereka duduk di pantai Ulee Lheue. “Aku tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada seseorang seperti kamu,” kata Malik waktu itu.

Nadia tertawa. “Karena aku bukan seorang syarifah?” Malik menggeleng. “Karena kamu terlalu berani untuk dunia keluargaku.” Namun akhirnya dunia itu memang tidak memberi ruang bagi mereka.

Keluarga Malik menolak hubungan itu. Dan Nadia memilih pergi. Ketika Nadia kembali ke kota dan mendengar Malik akan menikah, luka lama yang ia kira sudah sembuh kembali terasa.

Ia datang menemui Safira. “Aku tidak datang untuk merebut Malik,” katanya. Safira menatapnya dengan tenang. “Aku hanya ingin tahu apakah dia benar-benar bahagia.”

Pertemuan itu meninggalkan keraguan besar di hati Safira. Malam sebelum lamaran, Safira bahkan hampir membatalkan semuanya. Namun Malik datang dan berbicara dengan jujur tentang masa lalunya.

“Aku pernah mencintainya,” kata Malik. “Tapi hidup tidak berhenti di masa lalu.”

Safira menatapnya lama. “Dan sekarang?” Malik tersenyum pelan. “Sekarang aku memilihmu.” Safira merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Hari pernikahan akhirnya tiba. Rombongan intat linto datang dari rumah Malik. Suara rapa’i dan seurunee kalee mengiringi langkah rombongan pengantin pria. Malik berjalan dengan pakaian adat Aceh lengkap.

Ketika ia naik ke tangga rumoh Aceh, jantungnya berdegup cepat. Di dalam rumah Safira menunggu. Prosesi peusijuek dilakukan oleh para tetua keluarga. Beras padi ditaburkan sebagai simbol doa. “Semoga hidup kalian seperti padi,” kata seorang tetua. “Semakin berisi semakin merunduk.” Pesta berlangsung meriah.

Namun di tengah keramaian itu Safira melihat seseorang berdiri di bawah pohon besar di halaman.

Nadia. Ia datang tanpa keributan.Tanpa kemarahan.Hanya sebuah senyum kecil. “Aku hanya ingin memastikan dia bahagia,” katanya. Safira berdiri dari pelaminan dan mendekatinya. Mereka saling menatap beberapa detik. Lalu Safira memeluknya. Pelukan singkat yang menutup cerita lama.

Malam setelah pesta usai, halaman rumah menjadi sunyi. Lampu-lampu kecil masih menyala di pagar. Safira dan Malik duduk di serambi rumoh Aceh. Tempat di mana cerita mereka dimulai. Malik memandang langit.

“Dulu aku pikir hidup harus memilih antara cinta dan keluarga.” Safira menggenggam tangannya. “Sekarang?” Malik tersenyum.

“Sekarang aku tahu kadang Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang tepat pada waktu yang tidak kita rencanakan.”

Safira menatap langit penuh bintang. Ia akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak ia mengerti.Takdir tidak selalu datang sebagai sesuatu yang kita inginkan. Kadang ia datang sebagai sesuatu yang kita takuti.

Namun jika kita berani berjalan bersamanya, takdir itu bisa berubah menjadi rumah tempat hati kita pulang. Di serambi rumoh Aceh itu, di bawah langit yang tenang, Safira dan Malik memulai kehidupan baru mereka. Bukan lagi sebagai dua orang yang dijodohkan, tetapi sebagai dua hati yang akhirnya memilih satu sama lain.

Tinggalkan balasan!