Kelalaian Fatiya
Fatiya duduk dengan gusar di kursinya. Ia masih mencoba menyerap semua yang tertulis di buku sekolah yang sedang ia pegang. […]
Fatiya duduk dengan gusar di kursinya. Ia masih mencoba menyerap semua yang tertulis di buku sekolah yang sedang ia pegang. […]
Aku merenggangkan kedua tanganku. Setengah hari ini aku mengiris tempe, pisang, ubi, dan tahu serta menggorengnya. Jumlahnya beribu-ribu potong.
“Coba lihat itu si Desi, apalagi yang dia beli?” Hili mencondongkan tubuhnya ke arah samping rumahnya ketika ia melihat satu
Pukul delapan belas tiga puluh lima sore. Langit mulai gelap. Lila melihat ke arah kue-kue yang dijualnya bersama ibu dan
Aku pulang ke rumah dengan hati riang. Hari ini aku membawa pulang tiga potong risol kesukaanku. Isiannya lengkap berisi keju,
“Ngeoooong, meeeoooong, ngeoooong,” seekor kucing kurus, sangat kurus, tonjolan tulang belakangnya tampak mencuat menandakan ia berada dalam keadaan malnutrisi. Ia